Coba Merasa (2)

Jakarta Kereta00016

1. Meski kerap menghabiskan waktu dengan menonton film, atau melakukan marathon 5-6 film dalam satu hari, saya bukanlah penonton yang serius. Selain tidak harus mengeluarkan uang dan tenaga untuk menonton film di bioskop, alasan lain saya begitu suka menonton film di rumah adalah karena saya memiliki otoritas. Ketika tiba-tiba ingin ke kamar mandi, saya tidak harus menahan keinginan tersebut dan ketika melakukannya tidak juga merelakan ada bagian cerita yang luput disaksikan. Atau bahkan, ketika rasa kantuk tiba-tiba tak terhankan, ya, tidur saja. Nanti nonton lagi. Tapi, itu jika sedang menonton di rumah. Saya tidak akan melakukannya ketika menonton di bioskop. Tidak mungkin saya meminta operator untuk menghentikan film ketika saya hendak ke kamar mandi. Saya pun harus menahan keinginan menjawab pesan yang masuk meski sadar bahwa smartphone yang ada di saku celana berulang kali bergetar. Lagipula, sebelum film tayang di layar lebar, ada imbauan untuk menonaktifkan smartphone selama pemutaran film. Sayangnya, masih ada saja orang yang dengan santainya berkomunikasi selama film diputar. Tidak sekali, berulang kali. Sialnya, dengan layar smartphone yang pencahayaannya begitu temaram. Jujur, itu mengganggu. Dan lagi, ketika ada imbauan untuk ‘hormati diri Anda dan orang lain’ bukan sekadar dengan tidak meletakkan kaki di sandaran kursi di depan Anda. Mematuhi imbauan yang disampaikan salah satunya. Yang lain, bisa dilakukan dengan tidak mengganggu kenyamanan sesama penonton—yang juga telah membeli tiket dengan harga yang sama seperti Anda. Semisal tidak menggoyang-goyangkan kaki sepanjang pertunjukan. Dalam satu baris, kursi bioskop saling terhubung. Jika Anda menggoyang-goyangkan kaki, getaran itu bisa dirasakan oleh orang-orang di baris Anda—bukan sekadar yang duduk di samping Anda.

2. Melihat orang yang terjatuh saat berusaha naik ke atas perahu memang bisa menjadi kejadian yang lucu. Lucu jika itu dilihat di video liburan. Usaha untuk naik ke atas perahu berulang kali gagal karena ombak besar yang terus menghantam. Tapi, ketika melihatnya di film perang, yang diangkat dari kisah nyata, sebagai usaha untuk menyelamatkan diri, sepertinya itu bukanlah hal yang lucu. Apakah lucu jika kepala Anda tertimpa seember cat yang masih penuh ketika sedang berbelanja di toko material? Jika melihat kejadian seperti itu di Home Alone, saya, sih, tertawa terbahak-bahak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s