Coba Merasa (3)

Jakarta Kereta-00358

3. Pintu merupakan akses masuk-keluar sebuah ruang. Karena merupakan akses, fungsi utama dari ruang yang dituju bukanlah pada bagian ini. Jika Anda menggunakan sarana transportasi massal, semisal Commuterline atau Transjakarta, ruang di bagian dalamlah yang menjadi tempat bagi para penumpang. Hanya pada kondisi tertentu saja penumpang berdiri di sekitar atau bahkan memadati area yang seharusnya hanya menjadi akses ini. Ada puluhan orang yang akan menggunakan setiap akses di setiap pemberhentian. Anda mungkin beralasan, karena dekat dengan akses dan ruang kursi yang tersedia sudah digunakan, akan memudahkan saat akan turun. Memang, jika Anda merupakan penumpang yang paling akhir naik dan turun di pemberhentian berikutnya. Tapi, jika kereta atau bus baru berangkat sekitar 5 menit setelah Anda naik, dan dalam kurum waktu tersebut ada puluhan orang yang berusaha melewati akses yang sayangnya menjadi sempit akibat adanya tubuh Anda yang berdiri tak tahu diri, itu egois namanya. Sialnya, ternyata Anda tidak turun di pemberhentian berikutnya. Sudah menyulitkan ketika akan masuk, Anda ternyata merasa belum puas dan melengkapinya dengan kesulitan serupa saat penumpang lain akan turun. Paket hemat kala kemudian Anda berkata kasar pada orang-orang yang beradu fisik dengan Anda. “Sabar, dong. Ga usah dorong-dorong.” Sekadar saran, ada baiknya Anda menabung dan membeli kendaraan pribadi. Ego Anda terlalu besar untuk ruang di transportasi massal.

4. Di setiap gerbong Commuterline, terdapat kursi yang dikhususkan bagi para “Penumpang Prioritas”. Saya tidak perlu mendaftar siapa saja yang termasuk dalam daftar ini. Ada begitu banyak keterangan mengenai hal ini yang terpampang di Commuterline. Setiap kali menaiki Commuterline, tidak pernah timbul keinginan di dalam diri saya untuk duduk di kursi ini. Dalam situasi tertentu, misal ketika bangku-bangku yang lain sudah terisi dan kondisi fisik saya tidak terlalu prima, melihat ada ruang kosong di bangku prioritas tentu merupakan pilihan yang cukup logis. Sayangnya, saya ini suka tidak logis dalam berpikir. Saya lebih memilih berdiri atau mencari ruang kosong di ujung gerbong dan bersandar. Satu hal yang menjadi alasan: saya tidaklah termasuk dalam daftar prioritas. Itu saja. Dan dengan demikian, bukanlah hak saya untuk duduk di bangku prioritas.

Ini salah satu pikiran tidak logis saya. Saya tidak ingin hak saya diambil oleh orang, karenanya saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak merecoki apalagi mengambil hak orang lain. Adanya ruang kosong di bangku prioritas tidak membuat saya dapat menggunakan hak yang sedang tidak digunakan tersebut. Tidak adanya orang yang berhak bukan berarti orang lain dapat mengambil kesempatan untuk memanfaatkannya. Apa Anda ingin ada orang lain yang melakukan itu terhadap Anda? Ketika Anda bekerja atau sedang melakukan aktivitas yang membuat Anda harus berpisah dengan pasangan Anda. Dan di saat itu, ketika Anda, sang pasangan yang memiliki hak untuk, misalnya saja, merasakan kasih sayang dari pasangan Anda, tidak ada di samping pasangan Anda, apakah Anda rela jika ada orang lain yang kemudian mengambil hak tersebut? Kan, Anda sedang tidak bersama pasangan Anda—seperti bangku prioritas yang sedang tidak digunakan oleh para “Penumpang Prioritas”. Kalau saya, jujur saja, sangat tidak menginginkan hal itu. Tapi, itu, kan, saya. Mungkin saja Anda adalah orang yang senang ‘berbagi’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s