Puputan*

War for The Planet of the Apes

Dalam pemahaman saya, yang namanya perang itu akan melibatkan korban, senjata (tidak mesti, sih), darah, dan tentunya kekerasan. Satu pihak akan terlibat perkelahian dengan pihak lain. Kadang sampai salah satu pihak kehilangan nyawa. Dan kalau perang itu terjadi antara dua kelompok yang bertikai, akan ada banyak nyawa yang hilang di atas medan pertempuran. Tanah akan berlapirkan warna merah. Bukan karpet yang biasa digunakan untuk menyambut tamu penting, tapi kesedihan, kehancuran.

Mengikuti film pertama dan kedua, tentunya yang kehadiran film ketiga merupakan sesuatu yang sudah sangat dinantikan. Kebangkitan, kehancuran, dan pertempuran yang menjadi penentu: kelompok mana yang akan tetap menjadi penghuni Bumi. Penghabisan, total. Salah satu harus mengenyahkan yang lain, karena hidup berdampingan tidak mungkin lagi untuk diharapkan.

Di saat penantian itu, beberapa kali pikiran saya membayangkan laga aksi yang mungkin akan ditampilkan di seri terakhir dari trilogi ini. Akan seperti Lord of The Ring, kah? Perang kolosal antar para kera dengan umat manusia.

Setelah berevolusi, meningkatnya intelegensi, para kera bukanlah lagi ‘sekadar’ binatang. Tingkat kecerdasannya sudah menandingi manusia. Ditambah dengan bekal terpaan alam liar dan naluri alam yang masih terjaga, akan menjadi lawan yang sebanding dengan para manusia yang mengandalkan senjata canggih.

Di awal, sepertinya manusia akan menang dengan mudah. Serangan oleh sekelompok kecil saja berdampak besar pada lingkungan hidup para kera. Ditambah dengan serangan diam-diam yang menewaskan istri dan anak Caesar, perang sepertinya akan menjadi pertarungan tidak seimbang. Sempat berpikir kelanjutan film akan menjadi tontonan yang membosankan, saya pun coba menangkalnya dengan sebuah pertanyaan: Bagaimana cara mengembalikan kekuatan para kera agar seimbang dengan manusia?

Selanjutnya adalah rangkaian adegan yang tidak seperti bayangan saya di masa penantian. Cerita berjalan dengan cukup lambat untuk ukuran film perang—apalagi bagian penghabisan. Lebih menekankan kepada unsur drama. Sialnya, kok, saya tidak menjadi bosan meski sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk menyaksikan film yang penuh dengan aksi.

Lebih sialnya lagi, setelah dipikir-pikir, kenapa para kera yang lebih memiliki sifat manusia? Kolonel melakukan serang diam-diam yang berujung meninggalnya istri dan anak Caesar. Padahal, sebelumnya Caesar melakukan aksi yang jauh terpuji. Alih-alih menahan atau bahkan membunuh, pemimpin kera ini malah melepaskan beberapa tentara manusia yang bertahan hidup setelah serangan yang gagal. Kepergian para tentara itu pun disertai harapan untuk bisa hidup di ‘lingkungan’ masing-masing dan terhentinya perang di antara mereka. Sayang, aksi Kolonel malah memupuskan harapan Caesar.

Menonton film hingga akhir, satu hal yang saya sadari. Jika benar manusia merupakan evolusi dari kera, manusia telah berada terlalu jauh dari akar genetiknya. Sudah kehilangan sifat alami sebagai mahluk hidup. Pertarungan terakhir menentukan pemenang. Alam telah memilih. Yang terbaik, yang dapat menjaga kelestarian, yang tetap memperhankan sifat almiah, yang berhak untuk tetap menetap di permukaan bumi. Dan sayangnya, yang seperti itu bukanlah manusia.

*Konten memuat spoiler taraf akut. Bagi yang belum nonton dan merasa terganggu dengan spoiler, harap jangan lanjut membaca, atau jangan marah jika sudah terlanjur membaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s