13 Agustus 2017


Langit mulai gelap. Orang-orang meninggalkan masjid setelah menunaikan ibadah solat magrib berjamaah. Sementara, saya dalam perjalanan menuju rumah. Berjalan ke arah Stasiun Tanah Abang. Sampai kemudian, gerobak pedagang mpek-mpek mencuri perhatian.


Tidak terasa lapar sebenarnya. Dan lagi, saya tipe orang yang jarang sekali jajan ketika dalam perjalanan. “Makan di rumah saja. Makanya makan dulu sebelum pergi, biar enggak jajan,” begitu pesan Ibu yang sampai sekarang masih begitu melekat di saya. Hanya saja, kok, ya, tiba-tiba tertarik.


Sudah waktunya makan malam, mungkin itu salah satu alasannya. Setelah berjalan-jalan iseng beberapa kilometer menyusuri sebagian wilayah Jakarta, ada kekhawatiran “takut nanti kelaperan di dalam kereta”. Lagipula, di gerobak mpek-mpek tertera keterangan Rp1.000 per satunya. Ya, kalaupun rasanya tidak berterima, tidak rugi banyak. Hahahaha. Begitulah prinsip orang yang sangat jarang jajan.


Saya pun menghampiri gerobak. Kepada Bapak Penjual, saya pesan, “Lima ribu aja, Pak,” sambil menambahkan pesanan saya dibungkus saja agar bisa dimakan sambil jalan.


Menyantap makan sambil berjalan memang bukan pilihan yang bijak. Apalagi setelah berjalan beberapa kilometer, kursi plastik yang disediakan Bapak Penjual terasa seperti senyuman Gal Gadot. Hahahaha. Tapi, ya, lagi-lagi karena takut rasanya tidak berterima, saya harus menafikan Gal Gadot. Menghabiskan makanan yang rasanya tidak berterima merupakan sebuah siksaan. Dan kalau tidak dihabiskan, mungkin saja Bapak Penjual akan tersinggung.


Pesanan selesai disiapkan. Uang saya serahkan, dan mpek-mpek dalam bungkus plastik sebagai tukarnya. Sambil berjalan, saya pun mulai menyantap mpek-mpek. Serasa kembali ke masa Sekolah Dasar. Menyantap makanan dalam bungkus plastik.


Potongan pertama dilahap, rasanya biasa saja. Ya, sepadan dengan harganya. Tapi, begitu menyercap kuah cukanya, wow di luar ekspektasi. Saya menghentikan langkah. “Ini tidak bisa sambil jalan.” Saya pun bersandar di sebuah dinding sambil menyantap mpek-mpek. Sampai habis. Perut kenyang. Rasa penasaran terpuaskan. Tinggal masalah tangan dan bibir yang dilumuri minyak yang harus dibereskan.


Meneruskan perjalanan ke arah Stasiun Tanah Abang, sambil mencari-cari penjual tisu, perhatian saya kembali tergoda. Kali ini, sebuah mobil yang dimodifikasi sebagai tempat dagang. Yang dijual: bebek goreng. Di sekitar mobil, berkumpul orang-orang yang sedang menyantap bebek goreng. “Oke, lain waktu akan dicoba.” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s