Main Aman Tetap Tidak Aman

Salah satu hal yang menyenangkan di dunia ini, dan menjaga harapan itu tetap ada bagi semua orang, adalah ada beragam cara untuk disebut “berhasil”. Tidak hanya ada satu atau beberapa cara untuk dapat mewujudkan atau mencapai sesuatu. Ada begitu banyak pilihan. Jika satu cara tidak berhasil, masih bisa melakukannya dengan cara yang lain. Atau, jika cara keberhasilan seseorang ternyata tidak sesuai dengan kondisi yang kita hadapi, kenapa tidak memilih melakukannya dengan cara sendiri? Coba saja dulu, siapa tahu berhasil. Kalau gagal, ya, coba lagi saja dengan cara yang lain.


Lagipula, nama besar dan pengalaman panjang tidak semata membuat seseorang akan serta merta berhasil dengan yang dilakukan. Deretan panjang penghargaan yang menghiasi rak bukan jaminan bahwa yang dilakukan akan selalu berakhir dengan pujian. Itu saya yang pahami. Setidaknya dari kebiasaan menonton film.


Secara pribadi, Woody Allen bukanlah termasuk dalam daftar sutradara yang filmnya akan selalu saya tunggu—meski bukan berarti menonton film-film karyanya hanya menjadi pengisi waktu luang, “sekadar ada tontonan”. Cukup banyak film karya sutradara yang sempat terjerat kasus hukum ini yang saya nikmati. Satu hal yang saya respect dari perjalanan kariernya: semua film yang disutradarai adalah original screenplay. Ketika industri film belakangan ini digempur dengan film-film adaptasi atau “based on true story” atau “based on true event” atau biografi, pria berkacamata ini tetap setia hanya menyajikan film-film yang kisahnya memang sengaja dibuat untuk produksi film.


Selalu berhasil? Tidak juga. Ada yang dianggap biasa saja, bahkan ada yang mendapat kritik pedas. Hanya saja, meski dengan kritikan tajam, tetap ada penghargaan atas kesetiaan atas sikap kreativitasnya. Tidak bisa dibilang sebagai sesuatu yang berharga, tapi menunjukkan dia orang dengan prinsip yang kuat.


Sialnya, tidak hanya orang dengan idealisme seperti Woody Allen yang bisa merasakan kegagalan. Bahkan sutradara yang “mengikuti” arus pun tak jarang yang karyanya berujung tidak pada pujian, melainkan hujatan. Nyelekitnya kritikan atas Hulk (2003) sempat membuat Ang Lee berpikir untuk pensiun sebagai sutradara. Beruntung dia berubah pikiran dan menyajikan karya mengagumkan seperti Brokeback Mountain (2005) dan Life of Pi (2012). Atau misalnya, kecaman “menghancurkan kenangan di masa kecil” para pecinta Transformer atas hadirnya Transformers: The Last Knight (2017).


Menghadirkan film yang diangkat dari cerita yang sudah dikenal masyarakat (adaptasi film lain, novel, komik, sejarah, atau lainnya) di satu sisi memang menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi pecinta film. Ada ‘kedekatan’ yang menggerakkan mereka untuk bergegas menuju bioskop—atau dalam kasus saya adalah rasa tidak sabar untuk menunggu hadirnya file unduhan. Hanya saja, di sisi lain, ‘kedekatan’ itu juga bisa menjadi boomerang. Tahu bahkan mungkin meresapi suatu cerita membuat masyarakat sudah memiliki referensi terhadap cerita yang akan disaksikan. Begitu menggilai permainan Assassin’s Creed, bahkan sampai menamai anak dengan salah satu tokoh dari permainan tersebut, seorang teman sampai menangis hanya karena melihat elang yang terbang di adegan pembuka ketika permainan ini diangkat ke layar lebar.


Namun, kalau ternyata ada perbedaan atau tidak sesuai dengan yang diharapkan, rasa kecewa akan menjadi berlipat ganda dibanding kekecewaan terhadap film dengan cerita baru. Kritik yang disampaikan bukan lagi sekadar dari cabai rawit, tapi berbahan dasar Dragon’s Beat. Mungkin itu alasan yang membuat Ang Lee sampai berniat pensiun sebagai sutradara. Beruntung lambung pria asal Taiwan ini begitu kuat hingga akhirnya mampu bertahan dari rasa pedas yang dirasakan.


Yang membuat saya heran, ya, soal tadi itu. Tentang pengalaman yang ternyata tidak selalu berpengaruh terhadap hasil akhir. Mungkin bisa memaklumi jika Ang Lee pernah gagal dalam menghadirkan film adaptasi. Dia bukanlah sutradara yang selalu menyajikan karya adaptasi. Tapi, jika itu terjadi pada nama besar yang sepanjang kariernya selalu ‘bermain aman’, kenapa harus ada pepatah belajar dari pengalaman?


Selalu mengangkat kisah adaptasi, sudah terbiasa dengan film aksi, sudah tidak asing lagi dengan adegan peperangan, tapi, kok, ya, Dunkirk menjadi seperti film biasa saja yang berlalu tanpa kesan. Padahal, trilogi Dark Knight menjadi salah satu yang kerap menjadi menu pengisi waktu libur saya. Tidak pernah bosan meski sudah berulang kali mendengar suara diberat-beratkannya Christian Bale.


Mau mengedepankan drama yang menyentuh, kok, ya, saya tidak merasa tersentuh (atau karena saya menontonnya sendirian di jam tayang menjelang tengah malam). Mau menyajikan aksi heroik, tapi, ya, nanggung karena kengerian perang menjadi minor dibanding dengan drama yang coba disajikan. Dan lebih lagi, kok, ya, tidak ada penjelasan soal keputusan Farrier (Tom Hardy) mendaratkan pesawatnya di sisi musuh. Setelah bahan bakar habis dan melakukan aksi-yang-seharusnya-heroik-tapi-terasa-datar, pilot ini punya kesempatan untuk memutar pesawatnya agar mendarat di sisi pantai yang dikuasai Inggris atau setidaknya melompat dari pesawat sementara pesawat terbang ke sisi yang dikuasai musuh. Tapi, dia dengan begitu santai mendaratkan pesawat di sisi yang dikuasai musuh dan begitu pasrah ketika pihak musuh menangkap. Dengan kecerdasan memanfaatkan angin dan sisa tenaga mesin untuk melumpuhkan pesawat tempur musuh, keputusan itu menjadi tidak masuk akal bagi saya.


Namun, ya, Dunkirk sudah menjadi bagian dari sejarah. Kisahnya menjadi salah satu yang berperan dalam mengubah epik Perang Dunia. Untuk saat ini dan di masa mendatang, pilihannya tergantung pada diri masing-masing: ingin gagal/berhasil seperti apa? Karena ternyata, jalan yang disebut aman juga bisa mengancam. Dan, jalan yang sunyi ternyata mendapat penghargaan meski yang dilakukan tidaklah spesial. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s