Pilah Pilih Film

Gifted

Berawal dari The Paperboy (2012), saya mulai mengikuti film-film yang dibintangi Matthew McConaughey. Awalnya, “Kok, kayak familiar, ya?” pikir saya ketika melihat tokoh Ward Jansen. Berusaha mengingat, akhirnya pertanyaan terjawab ketika suatu malah sebuah stasiun televisi menayangkan Fool’s Gold (2008). “Oh… dia sudah mulai beralih ke film yang lebih ‘serius’”.

Setelahnya, saya pun disibukkan mencari-cari film yang pernah dibintangi aktor ini. Satu pertanyaan yang kemudian muncul setelah menonton rangkaian film yang dibintanginya pasca The Paperboy, Mud (2012) dan Magic Mike (2012): Kok, sepertinya mengurus, ya? Pertanyaan yang akhirnya terjawab setelah melihat penampilan si aktor keriting di Dallas Buyers Club (2013). Jika pada film-film sebelumnya ‘hanya’ terlihat lebih kurus, di film terakhir ini, dia menjadi benar-benar kurus—layaknya penderita AIDS, tokoh yang diperankannya.

Dari pengamatan sederhana itu, saya berasumsi bahwa bagi aktor, terutama yang sudah ternama, ada peran yang menjadi prioritas jangka panjang. Menguruskan badan hingga seperti penderita AIDS tentulah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sementara proses itu berlangsung, ada kebutuhan yang harus tetap dipenuhi. Kenapa tidak mengisinya dengan mengambil peran-peran yang ‘tidak terlalu berisiko’? Sepertinya itu yang dilakukan Matthew. Sambil menunggu proses syuting Dallas Buyers Club, yang sepertinya (menurut dugaan saya) sudah dipersiapkan dalam waktu lama, dirinya mengambil peran di film-film yang memang tidak memerlukan ‘treatment’ spesial, khususnya untuk tubuh. Ya, kecuali pada Magic Mike.

Tidak ada yang mengherankan melihat seorang jurnalis bertubuh ramping. Pola hidup yang kurang sehat, minim olahraga (ini kisah pribadi), dan harus melakukan perjalanan ke sana-sini demi pekerjaan, tentu masuk akan jika semua hal itu membuat tubuh seseorang menjadi tidak ‘ideal’. Apalagi, peran yang dijalani kemudian menjadi seseorang yang ‘terbuang’ dari lingkungannya. Menjalani hidup semi-nomaden sambil tetap menjaga cinta sejati.

Di sinilah kecerdasan Matthew dalam mengatur siasat. Tetap eksis di dunia akting, memilih peran yang sesuai, sambil tetap menjalankan obsesi untuk proyek yang lebih panjang. Dia tidak terlihat aneh di film-film sebelum Dallas Buyers Club. Bahkan, jujur saja, saya sampai tersenyum-senyum sambil berucap “sial” ketika melihat aktingnya di Magic Mike.

Sialnya, dia kembali membuat saya tercengang ketika beberapa bulan lalu melihat penampilannya di Gold (2016). Di luar lokasi syuting yang dilakukan di Thailand, meskipun ceritanya tentang Indonesia, dan kehadiran tokoh ‘anak Soeharto’ yang sangat tidak Jawa, tapi perut buncit Matthew meyakinkan saya bahwa dia adalah aktor dengan totalitas terhadap peran yang dijalani.

Saya yakin, bukan hanya dia yang menjalani hal seperti itu. Tentu banyak aktor lain yang memiliki kontrak jangka panjang dan di sela kontrak itu ‘mengisi waktu dan rekening’ dengan mengambil peran-peran yang tidak terlalu berisiko. Sayangnya, tidak semua aktor berhasil menyiasati seperti yang dilakukan Matthew. Chris Evans salah satu yang harus belajar dari siasat yang dilakukan Matthew. Bukankah terlihat aneh melihat seorang ‘ayah muda’ berbadan super bagus sementara pekerjaan yang dilakukan tidak terlalu berat dan tidak penjelasan dirinya rutin mengolah tubuh di sepanjang film. Mungkin sebaiknya pilih peran yang cocok dengan otot besar khas superhero.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s