Coba (Lebih) Merasa

Bridge-00200

Manusia dianugerahi panca indera. Itu sudah saya pahami sejak sekolah dasar. Secara konsep, karena pada realitanya sejak lahir kelima indera tersebut sudah berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, berjalannya waktu, saya cenderung ‘mengurangi’ fungsi-fungsi dari kelimanya.

Bukan salah teknologi karena berbagai kemajuan di bidang ini yang kemudian menjadi alasan saya untuk melakukan pembatasan tersebut. Ini lebih kepada diri saya. Saya yang memilih untuk membatasi kemampuan kelima indera yang ada pada diri saya. Terutama, pendengaran dan penglihatan.

Lebih sering memanfaatkan commuterline sebagai alat transportasi dalam keseharian, saya sebenarnya punya begitu banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai orang. Dengan latar belakang, kepribadian, dan segala keunikan yang terdapat pada masing-masing orang, tentunya menjadi ‘modal’ yang sangat berharga untuk, misalnya, membuat tulisan. Saya tidak melakukan itu.

Bahkan sebelum menggerakkan kaki keluar rumah, saya sudah menutup diri terhadap lingkungan sekitar. Kedua telinga tertutup dengan headphone. Alunan lagu-lagu favorit mendesak masuk. “Sebagai penyemangat,” begitu selalu alasan yang saya kemukakan. Bukan berdalih, tapi memang benar musik punya peran yang sangat penting dalam mengatur semangat saya.

Sampai di stasiun, pembatasan yang lain pun terjadi. Sambil menunggu kereta datang, tangan saya mulai sibuk dengan smartphone. Aplikasi berita atau majalah yang sudah diunduh menjadi pilihan. Untuk yang satu ini, “Memenuhi kebutuhan akan informasi” yang menjadi alasan. Padahal, informasi bisa juga didapat dengan melihat sekitar.

“Coba, deh, untuk lebih merasa.”

Ini seperti kalimat boomerang. Iya, memang kalimat itu diucapkan oleh orang lain, dan saya tidak pernah mengucapkan kalimat yang seperti itu. Hanya saja, saya sebenarnya sudah mengerti hal itu sejak cukup lama, secara konsep.

Sewaktu kuliah dulu, saya pernah melakukan penelitian kecil. Beberapa orang saya minta untuk menuliskan deskripsi sebuah ruang. Simpulan yang didapat, wanita lebih memaksimalkan indera yang dimiliki. Tidak sekadar dari pandangan atau pendengaran, tapi juga soal ‘rasa’ yang dialami. Sesuatu yang, menurut saya, membuat tulisan menjadi lebih menarik.

Tahu tapi tidak pernah menjalankannya. Itulah saya. Lebih parah, malah mengurangi akses yang seharusnya bisa memberi masukan yang amat kaya. Tapi, kan, butuh hiburan selama dalam perjalanan. Lagipula, bukankah hidup adalah tentang membuat keputusan dan menjalankan yang sudah diputuskan? Ya, saya sudah memilih membatasi kemampuan indera-indera yang saya miliki—dan tulisan yang ‘miskin’ menjadi hasilnya.

Coba berubah, saya berusaha meninggalkan kebiasaan selama ini. Tidak ada musik yang menyerbu masuk melalui headphone. Tangan pun dibebaskan dengan beban harus menahan smartphone selama dalam perjalanan. Kecuali ketika ada pesan yang masuk.

Berat? Tentu saja. Terasa sunyi. Meski berjalan menyusuri jalan besar, dengan berbagai kendaraan yang melintas, tetap saja terasa ada kesunyian. Tidak ada lagi alunan nada yang biasanya menguasai pendengaran. Terlebih, setelah masuk ke dalam gerbong. Semakin sunyi. Hampir setiap orang sibuk dengan smartphone mereka. Ada pula yang sibuk dengan pikiran. Duduk atau berdiri, sambil melamun melihat ke arah jendela. Ada memang beberapa orang yang asyik berbincang, tapi tidak cukup untuk mengusir kesunyian. Yang paling ampuh adalah pengumuman melalui pengeras suara yang over-treble. Yang satu ini, sebenarnya lebih menimbulkan efek mengganggu karena suaranya tidak ramah di telinga.

Ditambah dengan tidak lagi memperhatikan layar smartphone, saya menjadi orang yang salah tingkah. Apalagi ketika di bangku depan duduk beberapa orang wanita dengan penampilan yang menarik. Mau melihat ke arah lain, nurani begitu kuat memaksa pandangan untuk diarahkan ke bangku depan. Beberapa kali beradu pandang, saya merasa seperti penjahat yang tertangkap basah oleh polisi.

Belum lagi godaan ketika ada pesan yang masuk. Bermaksud sekadar membaca atau membalas pesan, ada keinginan yang begitu besar untuk membuka aplikasi berita yang biasa dibaca. Bahkan, sekali saya menjadi begitu lemah. Setelah membalas pesan, jari telunjuk kemudian menekan logo aplikasi permainan. Beruntung keyakinan kembali tumbuh. Buru-buru saya simpan kembali smartphone ke kantung.

Namun, ini hari pertama. Kalau kebiasaan sudah berlangsung dalam waktu lama, apa mungkin bisa diubah hanya dalam satu hari. Di hari-hari berikut, saya akan terus mencoba.

 

Klik untuk melihat video.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s