Taman


Ada sebidang tanah di bagian belakang rumah yang disisakan. Tidak begitu luas. Sedikit lebih besar dari ukuran sebidang kuburan, yang biasa saja tentunya. Letaknya terhimpit antara ruang belakang, dapur, dan dinding pembatas dengan rumah di belakang.

“Harus ada ruang terbuka di dekat dapur,” begitu selalu katanya jika ditanya alasan tidak semua bagian belakang ditutup saja. Setelahnya, akan dilanjutkan dengan cerita tentang kejadian di masa lalu, tentang hari yang menegangkan ketika pemasangan kabel yang tidak pas menyebabkan api menyembur dari tabung gas 12 kilogram. Masih baru, isinya masih penuh. Apinya menyembur ke udara. Memanaskan udara, juga dinding rumah. Ibu, yang mendengar teriakan “Kebakaran” dari rumah sebelah langsung berlari dari dapur, menuju ruang tamu, lalu melompati pagar yang tingginya hampir mencapai tinggi Ibu—dan dilakukan seperti sudah biasa melakukannya.

Sebuah kejadian yang kemudian menimbulkan trauma. Kejadian nyata. Dia tidak mengada-ada. Dia ada di rumah saat itu. Sedang menonton televisi di ruang tengah. Ikut berlari di belakang Ibu meski kemudian tidak memiliki cukup keberanian—atau mungkin terperangah—untuk melompati pagar seperti yang Ibu lakukan. Dia lebih memilih menghentikan lari lalu memanfaatkan kursi kayu yang ada di teras sebagai pijakan untuk melompati pagar.

Sebuah pelajaran. Harus ada ruang terbuka di dekat dapur. Api yang terperangkap di ruang tertutup menjadi hal yang sangat sulit ditaklukkan. Hanya saja, ada alasan lain yang tidak pernah diucapkan. Keinginan terpendam.

“Untuk taman.” Rumah dengan taman di halaman belakang menjadi mimpinya sejak lama. Ada ruang untuknya menyembunyikan diri dari dunia. Tak ideal, memang, itu dia sadari penuh. Tak seluas taman dalam imajinasi. Lagipula, bukankah imajinasi tak memiliki batas?

Jangan bertanya tanaman apa yang akan ditanam di taman mungilnya. Dia belum memutuskan. Ada beberapa rencana. Ada beberapa pilihan yang terpikirkan. Tapi, belum ada yang pasti. Ruangnya begitu kecil. Harus dimanfaatkan dengan maksimal. Indah dengan hiasan tanaman tapi juga cukup lapang untuk sekadar membaringkan badan.

“Untuk taman,” batinnya dalam hati ketika ada yang bertanya kenapa bagian belakang tidak sekalian ditutup seluruhnya. Jawaban yang tidak pernah terucap. Bukan karena tidak berani atau malu akan pandangan yang akan diterima, hanya saja, ini sebuah rahasia. Tempat rahasia tentulah tidak seharusnya dikemukakan pada siapapun. Hanya bisikan dalam hati, sebagai jawaban sekaligus penyelesaian agar tak memagari rumahnya dengan kebohongan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s