​(Ter)Asing

“Kata Mama, jangan percaya sama orang asing.”

Sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan yang namanya travel. Bepergian, menjelajahi berbagai tempat. Dan bukan hanya si Jebraw (maaf iklan enggak penting) yang suka having fun saat traveling.


Entah bagi Anda, tapi saya termasuk yang suka dengan perjalanan tanpa tujuan. Ya, tidak sepenuhnya, sih. Saya tahu kota yang dituju. Atau setidaknya, bandara, terminal, stasiun tempat tujuan saya. Setelahnya, pasrah saja.


Sok JB (Join Bareng), begitu istilah teman di kampus. Sok kenal, mungkin istilah yang lebih umum. Masuk ke warung kopi, coba ikut terlibat dalam obrolan—itupun kalau belum lebih dulu diajak mengobrol oleh setidaknya pemilik warung.


Berkenalan dengan orang baru merupakan hal yang menyenangkan dari sebuah perjalanan. Coba mengenal, atau bahkan mungkin memahami, orang dengan latar budaya yang berbeda. Orang yang belum pernah dikenal sebelumnya.


Selalu menyenangkan? Tidak juga. Selalu ada hal baik dan buruk di dunia ini. Ada pengalaman menyenangkan, ada pula yang tidak. Ada yang memberi pelajaran dengan cara yang membuat tersenyum, ada pula yang menyampaikannya dengan cara yang memaksa air mata keluar setelah emosi terkuras.


Mungkin karma, karena berani melanggar petuah yang disampaikan orangtua. “Jangan mau kalau diajak ngobrol sama orang yang enggak dikenal,” “Jangan terima kalau ada orang yang ngasih minuman atau makanan,” “Jangan ikut kalau diajak kemana-mana, bilang aja sudah ditunggu,” dan segala macam larangan ketika bertemu dengan orang asing. Sialnya, ketika travel, sayalah yang asing bagi orang-orang yang saya temui. Wong mereka memang tinggalnya di situ, sehari-hari beraktivitas di situ. Sayalah yang mendatangi mereka. Saya yang seharusnya dikenai perkataan “jangan”.


Lagipula, kalau tidak begitu, kalau tidak bertemu dengan orang asing, berinteraksi dengan orang baru, berkenalan dan mengenal berbagai hal baru, saya malah menjadi orang asing. Tidak kenal siapa-siapa, kecuali orang-orang yang saya kenal di lingkungan rumah, sekolah, atau kantor.


Namun, ya, itu tadi, juga harus siap dengan segala risiko. Bukan keanehan lagi tentang kasus penipuan, penculikan, atau bahkan sampai pada pembunuhan orang yang sedang travel. Datang ke daerah baru, ke tempat tanpa ada orang yang dikenal, bukan tanpa ancaman. Kalau memang bukan karma karena melawan nasihat orangtua, mungkin ini cara dunia memberi pelajaran. Menjadi asing dari dunia atau berani berkenalan dengan orang-orang asing di tempat asing. Ujung-ujung sama, kok, tetap ada unsur asing. Mari pesan secangkir kopi dan dengarkan lagu yang mungkin asing bagi Anda.


Yang Asing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s