Larut dalam Duka

une_nouvelle_amie_xxlg

“Everyone grieves in their own way.”

“Padahal istrinya baru aja dipecat, anaknya lagi sakit, tapi, kok, dia malah jadi make lagi, sih? Otaknya dimana?”

Paling enak memang mengumpat, mengomentari kekurangan, ketidakberdayaan orang lain. Menilai kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan. Memandang rendah keputusan yang sebenarnya menjadi pilihan terakhir untuk dilakukan—atau mungkin sebenarnya tidaklah masuk dalam daftar pilihan. Paling enak memang menjadi komentator. Memandang dari luar lalu memberikan penilaian.

Paling enak berada di luar. Apalagi disediakan tempat yang nyaman. Meski berada di luar tapi terlindung dari panas matahari atau derasnya hujan yang turun. Tetap dalam suhu yang nyaman meski panas terik menyengat atau udara dingin menyelimuti. Tidak terlibat dengan situasi yang terjadi di dalam, bahkan tidak terpengaruh dengan cuaca.

Enak memang, sekadar melihat. Pun, dari luar. Dari balik kaca, dengan jarak yang cukup aman agar tidak terkena sepatu yang melayang ketika situasi menjadi terlalu menegangkan. Memilih hanya adegan yang ingin dilihat. Memilah bagian yang mendukung kesimpulan. Buat apa melihat keseluruhan kalau hanya akan membuat rancu kesimpulan? Lebih baik saring yang diinginkan agar simpulan yang dibuat menjadi bulat.

Memang enak berada di luar. Tidak terlibat dalam kejadian. Sekadar melihat dari kejauhan. Tidak menjadi bagian tapi bisa memberi penilaian. Mendengar sekadar yang diinginkan. Jika terjadi kesalahan? Lha, wong saya ini berada di luar. Hanya tahu dari luar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s