Terbakar Harga Diri

Romeru Lukaku memutuskan bergabung dengan Manchester United. Padahal, sejak akhir musim lalu Chelsea dikabarkan akan menjadi klub baru penyerang asal Belgia ini. Drama musim panas, begitulah yang terjadi. Apapun mungkin terjadi, tidak terkecuali pada bursa transfer. Bukan sekadar urusan uang yang berkuasa, tapi lobi-lobi juga menjadi pertimbangan keputusan akhir. Tak pelak, Antonio Conte menjadi pusing. Penyerang yang sedianya menjadi tumpuan di musim depan tak jadi masuk dalam tim. Kandidat pengganti pun harus segera dicara.

Sialnya, Manchester United tidaklah mentransfer Lukaku dari Chelsea—melainkan dari Everton yang membeli sangat penyerang dari Chelsea. Bukan pula karena penyerang yang dimiliki pada musim sebelumnya tidak mumpuni dalam hal merusak pertahanan lawan dan membuat gol, karena Diego Costa menjadi topskor di klub asal London ini. Hanya saja, entah kenapa, menjelang dibukanya bursa transfer, Conte mengirim pesan singkat pada Costa bahwa sang topskor tidak akan menjadi bagian dari rencana musim depan. 


Mengejutkan? Tentu saja. Manajer mana yang tidak ingin mempertahankan pemain kunci. Yang terjadi di sini, alih-alih menjaga dari tawaran klub lain, sang manajer malah ‘mengusir’.


Sempat terpikir bahwa keputusan tersebut ada kaitannya dengan keinginan Costa untuk hengkang ke Liga China—dengan iming-iming tawaran gaji yang sangat menggiurkan. Tapi, sang pemain pun menolah tawaran tersebut. Bahwa dia tetap ingin bermain di liga Eropa, dan klub selanjutnya yang akan dia singgahi adalah klub di liga Eropa. Entahlah, yang pasti Chelsea, Conte, dan Costa sedang berada dalam situasi yang tidak mengenakkan.


Klub yang berhasil menjadi juara liga di musim lalu kini tanpa penyerang. Manajer terbaik musim lalu harus berpikir ulang tentang opsi penyerang yang ingin didatangkan. Hengkangnya Lukaku ke Manchester United tidak hanya membuat raibnya pemain incaran. Klub-klub lain pun bersiap memagari pemain terbaiknya dari rayuan Chelsea. Kalaupun ada yang akan merelakan penyerang terbaik yang dimiliki untuk pindah ke si Biru, tentu harus ditebus dengan harga yang tak murah—mungkin juga tidak masuk akal. Sementara, Costa harus menyusun rencana untuk musim depan. Pilihan yang paling mungkin adalah kembali bergabung dengan Atletico Madrid—meski baru bisa bermain pada Januari 2018 karena klub tersebut sedang terkena sanksi transfer pemain.


Namun, setidaknya Costa punya cukup waktu untuk berpikir. Ketika seluruh skuad Chelsea terbang untuk sesi pra-musim, dirinya tetap tinggal di London. Coba menyelesaikan urusan masa depannya. Dan lagi, dia tidak sendiri. Ada rekan satu tim yang juga tidak diajak oleh Conte. Adalah gelandang jangkung, Nemanja Matic, yang juga sedang berusaha mencari klub baru untuk musim depan. Sempat dikabarkan hampir pasti bergabung dengan Manchester United, tapi kabar tersebut buyar ketika Setan Merah memboikot Romero Lukaku dari Everton.


Pemain Pilar yang Terbuang

Yang satu penyerang dengan torehan gol terbanyak di musim lalu. Yang satu lagi gelandangan yang berperan penting dalam raihan gelar di musim lalu. Kini, keduanya sama-sama berusaha mencari klub baru untuk musim depan. Tragis. Pemain yang menjadi kunci permainan di musim sebelumnya harus terbuang. Saya tidak heran jika nasib itu dialami oleh pemain yang pada musim sebelumnya menjadi penghuni bangku cadangan. Tapi, ketika terjadi pada pemain yang hampir pada setiap pertandingan menjadi pemain inti, tentu ada yang tidak beres.


Pikiran picik muncul sebagai kemungkinan: mengenyahkan sisa-sisa Mourinho di Chelsea. Sebagai manajer, ada obsesi dalam diri Conte bahwa kesuksesan yang diraihnya tidaklah boleh dicoreng dengan kenyataan bahwa pemain-pemain yang dimainkan merupakan pilihan Mourinho di musim sebelumnya. Karenanya, sedikit demi sedikit para pemain yang dulu dibawa oleh Mourinho mulai disingkirkan. Dimulai dari Costa dan Matic.


Pikiran picik ini menjadi kuat, setidaknya di dalam kepala saya, ketika saya tidak menemukan pembelaan yang logis mengenai alasan Conten meninggalkan keduanya dari tur pra-musim dan tidak memasukkan dalam rencana musim mendatang. Keduanya pemain hebat. Memiliki kemampuan dan memberikan kontribusi yang luar biasa. Peran keduanya sangat vital. Tapi, dalam sekajap, semua itu seperti tidak pernah berarti.


Pemain kunci yang berganti klub bukanlah hal yang mengherankan. Di era ketika uang menjadi begitu berkuasa, setiap klub berusaha mendatangkan pemain-pemain yang dianggap dapat memberikan kontribusi bagi klub—meski harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar sebagai gantinya. Tapi, hingga saat ini, tidak ada tawaran riil bagi Costa dan Matic. Sekadar rumor banyak, tapi tidak ada yang sungguh-sungguh. 


Skenario terburuk adalah, jika sampai penutupan bursa transfer musim panas tidak terjadi kesepakatan untuk Costa dan Matic, keadaan merugikan bagi semua: Chelsea harus membayar gaji mahal untuk pemain yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, sementara Costa dan Matic harus menjadi pemain pensiun-semu—menyia-nyiakan kemampuan di usia emas mereka.

Memperbaiki skuad memang diperlukan. Bahkan bagi petahana, tantangan di musim depan harus dihadapi dengan tim yang lebih baik. Karenanya, penambahan atau masuknya pemain dengan kualitas lebih baik menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Sayangnya, melihat penampilan Chelsea di musim lalu, lini tengah dan lini depan seharusnya tidak menjadi masalah berarti—tidak menjadi prioritas untuk mendapat perubahan besar. Penambahan perlu, tapi tidak dengan penggantian. Justru lini belakang yang seharusnya mendapat perhatian khusus.


Mulai bangkit dengan sistem tiga pemain belakang, kunci pertahanan Chelsea sebenarnya terletak pada dua gelandangan bertahan mereka, Matic dan Konte. Sialnya, hanya satu dari tiga pemain belakang yang memang ideal sebagai pemain belakang. Meski berposisi sebagai pemain belakang, David Luiz memiliki naluri menyerang yang sangat tinggi. Boleh dibilang, overdosis untuk ukuran gelandang bertahan—apalagi untuk ukuran pemain belakang. Sementara, Azpilicueta sebenarnya full-back yang kebetulan bisa dipaksakan sebagai pemain belakang.


Memang, Conte telah menyadari keadaan tidak ideal tersebut. Karenanya, salah satu pemain yang berhasil didatangkan adalah Antonio Rudiger. Pemain muda. Sudah masuk skuad tim nasiona pula. Prestasi terakhir, mengantarkan Jerman menjuarai Piala Konfederasi. Cukup menjanjikan. Hanya saja, sebenarnya Chelsea sudah memiliki cukup banyak cadangan pemain belakang. Kurt Zouma dan Andreas Christensen (atau Nathan Aké yang beberapa hari lalu akhirnya dijual ke Bournemouth) bisa menjadi jawaban tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Terlebih, kalau memang statistik bisa menjadi dasar penilaian, Zouma dan Christensen memiliki penampilan yang lebih baik dibanding Rudiger—terutama dalam hal minimnya kesalahan yang berakibat gol, sesuatu yang sangat vital bagi seorang pemain belakang. Sayangnya, mungkin, Zouma dan Christensen adalah pemain yang didatangkan oleh Mourinho. Ya, itu sekadar kemungkinkan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s