Kartu Pos: Tidak dalam Kenangan

Printmaking Postcard-00002

“There is a huge pleasure in writing a letter, putting it in an envelope and sticking the stamp on it. And huge pleasure in receiving real letters, too.” –Tom Hodgkinson

 

Kapan terakhir kali Anda berkirim surat atau kartu pos? Saya, sih, kalau tidak salah ingat sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Bukan karena perkenalan dengan teknologi yang bernama Android (maaf iPhone) yang membuat saya tidak lagi mendatangi kantor pos untuk mengirimkan secarik kertas (baik tanpa maupun di dalam amplop) kepada orang lain. Lebih kepada tidak ada lagi orang yang dituju—ya, sekaligus kemalasan untuk datang ke Kantor Pos.

Mengasyikkan? Hmmm… entahlah. Saya tidak dapat memberi jawaban yang pasti. Hanya saja, diperlukan ‘usaha ekstra’ untuk mengirimkan sebuah surat atau kartu pos. Tidak hanya untuk datang ke Kantor, mengeluarkan uang untuk membeli prangko. Lebih dari itu, bagian yang tersulit adalah menuliskan kalimat di secarik kertas. Bukan karena saya tidak suka menulis, hanya saja tulisan tangan saya sungguh sangat sulit terbaca (bahkan oleh saya sendiri) dan saya harus memastikan bahwa deretan kata yang saya tuliskan akan terbaca oleh orang yang saya tuju.

Saya masih ingat pengalaman pertama mengirim surat. Saat itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekitar kelas 3 atau 4. Setiap beberapa bulan, kalau tidak salah tiga atau empat bulan, orangtua saya menyuruh saya dan kakak-kakak saya menuliskan surat untuk kakek-nenek. Apa yang saya tuliskan? Tidak jauh dari cerita di rumah atau di sekolah, serta harapan agar Kakek-Nenek selalu dalam keadaan sehat.

Kebiasaan itu lalu berhenti ketika di rumah mulai dipasang telefon. Meski rumah Kakek-Nenek (dan hingga saat ini)tidak dipasang telefon, hadirnya teknologi ini memungkinkan kami untuk bisa berkomunikasi langsung—meski harus meminta pertolongan tetangga agar membolehkan Kakek-Nenek menerima telefon dari anak dan cucunya.

Senang? Tentu saja. Kami tidak lagi harus menunggu berminggu-minggu sampai surat balasan datang. Kalau kangen, ya, tinggal telefon, ‘ganggu’ tetangga, dan bercakap sepuasnya—setelahnya Ibu akan cemberut ketika tagihan telefon diterima.

Teknologi menghancurkan tradisi? Tidak juga. Manusia terus berusaha membuat teknologi baru yang dapat membantu kehidupan. Memudahkan serta membuat kehidupan menjadi lebih baik—meski terkadang disertai dengan dampak negatif. Terlebih dengan hadirnya internet dan akses internet yang menjangkau ke hampir seluruh wilayah negara ini. Cukup dengan smartphone, unduh dan pasang aplikasi komunikasi, tidak perlu lagi melakukan ‘usaha ekstra’, penantian berminggu-minggu, atau mengganggu tetangga untuk dapat berkomunikasi. Ya, kecuali kalau paket data sedang habis atau nomor Anda diblok oleh orang yang ingin Anda hubungi.

Printmaking Postcard-00001

Namun, harus diakui, ada yang hilang bersamaan dengan datang dan menyebarnya teknologi. Ada rasa ‘personalisasi’ yang tidak lagi dirasa, terlebih pada momen tertentu. Ketika Hari Raya, misalnya. Semua orang akan sibuk menyebarkan ucapan selamat. Kepada keluarga, saudara, teman, atau ‘teman’ yang dikehendaki menjadi keluarga.

Di saat telefon rumah menjadi kemewahan, jauh sebelum internet dan android dikembangkan, menjelang Hari Raya merupakan saatnya bagi orang-orang yang berbondong-bondong ke Kantor Pos. Masing-masing membawa tumpukan kartu ucapan yang telah bertuliskan ucapan selamat lengkap dengan alamat yang dituju. Kalau ada yang terlupa, di depan Kantor Pos ada banyak penjual yang menjajakan aneka kartu pos dengan desain dan bentuk yang beragam.

Tetapi kemudian, teknologi berkembang. Komunikasi menjadi semakin mudah. Cukup dengan beberapa gerakan tangan, ucapan Selamat Hari Raya tersebar ke seluruh kontak yang ada di smartphone. Tidak perlu menuliskan satu per satu. Cukup buat sebuah, yang entah kenapa pada Lebaran kemarin seperti menjadi tren untuk mengirimkan ucapan tersebut dalam bentuk gambar atau video, lalu kirimkan kepada siapapun yang dikehendaki. Sangat mudah, juga murah.

Hanya saja, jangan bertanya tentang ‘ketulusan’ dari ucapan yang dikirimkan. Maaf, bukan bermaksud bersikap sinis, tapi mungkin saja ada kejadian ‘salah kirim’—sebenarnya tidak ingin mengucapkan kepada seseorang tapi karena terlalu asyik “copy-paste” jadilah terkirim juga pesan. Positif memang, karena mungkin saja pesan tidak sengaja itu dapat memperbaiki hubungan. Amin…. Tapi tetap saja, tidak didasari kesadaran untuk benar-benar mengucapkan apalagi untuk memperbaiki komunikasi.

Inilah yang membuat surat atau kartu pos tetap menjadi pilihan oleh sebagian orang. Berkomunikasi memanfaatkan teknologi terkini tetap dilakukan. Eksistensi di jejaring maya tetap dijaga secara rutin, bahkan ditingkatkan. Tetapi, untuk yang ‘istimewa’, tulisan tangan yang akan dikirimkan. Apalagi jika bukan sekadar goresan di atas kertas yang memang ditujukan untuk seseorang, tapi kartu atau kertas yang dikirimkan memang khusus dibuat untuk orang yang dituju.

Semoga di waktu mendatang pameran seperti ini dapat terselenggara sebelum ‘momen’ spesial untuk berkirim kartu ucapan. Siapa tahu bisa menjadi salah satu ‘pancingan’ untuk membuat Kantor Pos kembali ramai.

*Printmaking Postcard Exhibition berlangsung 13 – 21 Juni 2017 di Hall A1 Mini Galeri Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran, Jakarta Selatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s