Menjaga Pribadi

“Privacy was a temporary thing and now it’s over. We won’t live in the shadow anymore.” – Mae


Yang pertama saya kenal adalah Friendster. Mungkin Anda pernah mengalami masa itu. Tampilan sederhana, dengan fitur yang juga masih sederhana. Tapi, di saat itu, cukup menghibur. Menjadi alasan untuk berkunjung ke warnet. Berbalas pesan atau membaca hal-hal yang dibagikan lingkungan pertemanan. Muncul di kala teknologi komunikasi belum semaju saat ini, tidak ada perubahan berarti yang dirasa—khususnya bagi saya yang hanya menyempatkan satu kali dalam seminggu untuk meluangkan waktu ke warnet. Ya… kadang beberapa kali dalam seminggu di kala ada ‘keperluan yang tak bisa dibuat tenang’.


Di kala itu, ada pula beberapa layanan mengobrol secara digital. Tak seperti pesan yang masuk ke akun Friendster saya, yang hanya dibalas ketika tiba jadwal berkunjung ke warnet, layanan ini membuat penggunanya bisa mengobrol langsung. Bahkan, bisa juga memanfaatkan sarana video. Bisa saling melihat—meski tidak bertatap karena alasan letak kamera—dan bukan sekadar saling berbalas pesan tulis. Beruntungnya, saya tidak bersentuhan dengan layanan ini. Menjadi mahasiswa yang tinggal di kos mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang harus bisa mengatur berbagai hal dengan ‘bijak’—termasuk menangkal godaan untuk menambah frekuensi kunjungan ke warnet.


Baru ketika memasuki dunia kerja saya terlibat dalam layanan mengobrol ini. Terlebih, beberapa kantor yang pernah saya singgahi memanfaatkan layanan ini sebagai sarana berkomunikasi internal.


Ada sesuatu yang membuat teknologi menjadi begitu ‘menggoda’. Mungkin pula karena keinginan yang tertahan sewaktu masih menjadi mahasiswa, karenanya ketika memiliki akses yang membebaskan saya untuk berinternet, saya begitu menikmatinya. Terutama dalam layanan mengobrol digital. Bukan sekadar bercakap dengan orang-orang yang memang dikenal di dunia nyata, tapi juga berkenalan dengan orang-orang baru. Dari bagian lain kota, dari kota yang berbeda, bahkan dari negara atau benua berbeda. Begitu menyenangkan. Sebagian besar waktu dalam keseharian saya pun dihabiskan di depan layar monitor. Sedikit di antaranya untuk keperluan pekerjaan. Bahkan, sembari mengerjakan tugas, saya tidak bisa menahan keinginan membalas pesan yang masuk.


Selanjutnya adalah serbuan berbagai layanan media sosial. Twitter dan Facebook menjadi bagian dari obrolan sehari-hari—yang sekarang daftarnya menjadi begitu panjang sehingga tidak mungkin memuatnya di tulisan ini. Ketika berkenalan dengan orang baru, akun media sosial menjadi salah satu bagian yang dibagi, selain nomor telefon. Bahkan, ada saatnya (yang mungkin juga masih ada hingga saat ini) orang-orang lebih mudah dihubungi melalui akun media sosial mereka, dibanding melalui telefon. SMS tidak dibalas, telefon tidak diangkat, sementara pesan di Facebook dalam hitungan menit langsung terbalas—padahal orang-orang tersebut mengakses Facebook melalui smartphone. Keadaan yang sangat tidak menguntungkan bagi saya.


Perubahan besar pun terjadi. Cara berkomunikasi tidak lagi seperti sebelumnya. Semua sudah berganti. Saya ada dan menjadi bagian dari kejadian itu. Hanya saja, belajar dari pengalaman, saya memutuskan untuk membatasi diri. Akun Twitter sekadar punya. Sekadar pernyataan bahwa saya mengikuti perkembangan yang terjadi. Dan karena sekadar itu, seorang teman sampai berkata, “Gw unfollow akun lo, soalnya ga pernah nge-tweet.” Mendengarnya, saya hanya tersenyum. Ya, jangan berharap saya akan aktif di media sosial karena sedari awal memang niatan saya untuk sekadar ‘ada’. Sementara, akun Facebook tak pernah ada. Yang ini, bahkan seorang teman sampai kesal dan diam-diam membuat akun untuk saya. Hasilnya adalah tuduhan sombong dari beberapa teman. “Kok, gw ngga lo accept-accept, sih, di FB? Ngga mau temenan sama gw?” Awalnya bingung, tapi setelah berulang kali mengalaminya dan tahu keisengan seorang teman, saya hanya bilang, “Gw ngga pernah bikin akun FB. Itu temen gw yang bikin. Kalo mau di-accept, bilang aja ke temen gw.”

“Masa ngga punya akun FB? Bo’ong banget.” Kira-kira bergitulah tuduhan yang kerap saya terima. Santai saja menghadapinya. Sudah biasa. Lagipula, saya berpikir, segala sesuatu harus ada batasnya. Ya, saya bermedia sosial. Saya memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh media sosial. Tapi, saya merasa harus memiliki batasan. Lagipula, segala layanan disediakan dan ditawarkan bukan berarti harus dimanfaatkan. Tidak akan ada tuntutan apapun yang akan diterima jika saya tidak memanfaatkannya. Ya, paling-paling tuntutan sosial seperti yang kerap saya terima itu.


Berjalan waktu, saya semakin bahagia akan keputusan saya. Segala hal memiliki dua sisi. Ada positifnya, ada negatifnya. Ada baiknya, ada pula blangsaknya. Ada banyak cerita kebahagiaan yang tercipta berkat media sosial. Bersatunya anggota keluarga yang telah lama terpisah. Berkumpulnya para sahabat lama. Atau, berpadunya jalinan asmara. Tapi, ada pula yang kehilangan pekerjaan. Terlibat dalam perkelahian. Tak jarang pula terjadi tindak kriminalitas.


Dan, itu bukan sekadar cerita. Banyak memang berita yang beredar. Tak jarang pula terjadi perdebatan mengenai kehadiran media sosial. Tapi, ada juga pengalaman yang saya dengan langsung dari pelakunya—dan mungkin cerita seperti ini tak asing bagi Anda.


“Duh, sial. Si Bos add gw di FB,” keluh teman saya suatu hari. Dalam hati, memangnya kenapa kalau berteman dengan bos di media sosial? Tidak salah, kan? Itu pikiran polos saya, pikiran orang yang tidak terlibat secara aktif di dunia media sosial. Saya pun akhirnya paham setelah mendengar penjelasan dari teman itu. Serba salah. Kalau tidak me-accept, takut mendapat teguran, tapi kalau di-accept akan berujung pada hilangnya kebebasan di media sosial. Belum lagi ‘pekerjaan tambahan’ menghapus berbagai keluhan tentang kantor yang pernah disebarkan di akun media sosial. Dan berikutnya, ketika mendengar keluhan serupa, saya hanya bisa tertawa. “Untung ngga tergoda.” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s