Serabut

Suburra

Beberapa minggu lalu, saya membaca sebuah artikel panjang tentang skandal korupsi. ‘Panjang’ bukan sekadar karena artikel itu berada di kanal The Long Read atau daftar pihak yang terlibat dalam skandal tersebut. Tapi juga, efek yang ditimbulkan dari permasalahan yang diangkat.

Usai membaca artikel tersebut, hal pertama yang timbul di pikiran saya adalah ‘ternyata bukan hanya di sini’. Naif, memang, karena menganggap yang terburuk hanya terjadi di sekitar saya, padahal mungkin di luar sana banyak ‘yang lebih’. Setelahnya, usai memudarnya rasa naif, muncul pikiran yang njelimet. Kalau memang benar mau menghapus yang namanya korupsi dan berbagai hal yang tidak benar, apa iya kita siap dengan risikonya?

—-

Dimulai dengan kejadian yang biasa saja, sebuah rutinitas pekerjaan. Namanya juga polisi, petugas penegak hukum, sudah menjadi pekerjaannya untuk menegakkan hukum—termasuk menangkap orang yang diduga bersalah. Malam yang panjang akan berakhir ketika orang yang dimaksud telah dijempur dan diantarkan ke tempat yang semestinya. Setelahnya, saatnya beristirahat. Begitu yang dipikir. Kenyataannya tidaklah seperti itu.

Penangkapan kali itu membawa efek domino yang sangat besar. Dari satu kasus, menjalar ke berbagai kasus lain. Satu demi satu nama muncul. Mulai dari pengusaha, pejabat, bahkan pemimpin negara. Tidak sedikit uang yang terlibat. Tidak ringan pula tantangan yang harus dihadapi. Namanya juga kasus besar yang berhubungan dengan kepentingan banyak pihak, baik bisnis, politik, dan sebagainya, tentu ada ‘usaha-usaha’ demi menjaga kepentingan tetap terakomodasi dengan baik. Sialnya, di saat usaha gencar menegakkan hukum, kecelakaan merenggut nyawa tokoh sentral. Tapi, bola sudah terlanjur bergulir. Bulatan salju sudah membesar seiring perjalannya menuruni bukit. Tidak mungkin dihentikan di tengah jalan.

Menegakkan hukum memang penting, dan (mungkin) sebuah keharusan. Aturan dibuat untuk membuat kehidupan ini berjalan dengan selaras. Mengakomodir hak-hak setiap manusia. Korupsi tindakan yang melanggar hukum, kriminal. Hukum di negara manapun tidak ada melegalkannya. Karenanya, pemberantasan korupsi merupakan tujuan mulia demi terwujudnya supremasi hukum.

Namun, bagaimana jika kemudian supremasi itu berakibat munculnya gejolak lain, menghilangkan atau setidaknya mengurangi hak sebagian orang? Terlebih jika yang dihadapi adalah kasus besar yang melibatkan pihak-pihak penting yang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Demi proses hukum yang sedang berlangsung, berbagai proyek yang sedang dikerjakan harus dihentikan. Akibatnya, puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan. Apa yang harus mereka lakukan? Sementara kebutuhan hidup tidak bisa ditunda hingga usainya proses hukum. Rasa lapar tidak bisa dikompilasi, dijamak untuk dipenuhi ketika nanti kepastian sudah didapat.

Dilematis. Sudah mengakar dan menyebar begitu luas. Penumpasan yang dilakukan, yang jika memang dilakukan dengan komitmen yang sungguh-sungguh, berarti hingga ke akar-akar terkecil. Bukan sekadar mulai dari batang yang mencuat dari permukaan tanah. Di dalamnya, masih tertimbun bagian-bagian yang justru mensuplai pertumbuhan batang, daun, dan bahkan buah.

Jika ingin tuntas, lubang yang digali haruslah sangat dalam, juga luas. Butuh tenaga ekstra. Tidak mungkin cepat. Mungkin ada kalanya harus mengambil napas. Istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga dan setelahnya kembali melanjutkan pekerjaan. Mungkin pula, karena sudah tumbuh sekian lama, akar menjalar hingga ke lahan tetangga. Bagaimanapun, akar harus dicabut hingga tuntas. Meski berada di lahan tetangga, ya, sudah menjali risiko. Lubang harus dibuat hingga ke lahan sebelah. Mungkin akan dimaklumi kalau yang digali hanyalah bagian pekarangan, tapi jika rangkaian akar menjalar ke bagian di bawah rumah, yakinkah tetangga rela rumahnya ‘diganggu’ dengan lubang? Ini demi kepentingan bersama, lho.

Perjuangan membutuhkan pengorbanan? Iya. Apalagi sekarang menjelang Agustus. Kalimat-kalimat bernada kepahlawanan akan begitu sering mengisi keseharian. Tapi, apakah siap? Rela berkorban? Rela tidak lagi menjalani hidup seperti yang selama ini dirasakan? Kalau iya, tolong tanyakan kepada keluarga, teman, serta orang-orang yang Anda temui. Semoga mereka memiliki jiwa kepahlawanan seperti Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s