Slowly but Sure

Atau bahasa yang lebih membuminya, alon-alon asal kelakon. Kesel memang. Sebagai bagian dari generasi millenials (maaf jika merasa keberatan dengan klaim tersebut), saya terbiasa dengan yang serba cepat. Mau makan, ya, tinggal pesan aja. Mau transfer atau beli barang yang dimau, ya, tinggal transaksi di smartphone. Mau segala, apapun, bisa dengan cepat. Apalagi, kalau sedang terburu-buru, sedang terdesak, waktunya mepet. Di saat seperti ini, bahkan jika hal yang dimau (apapun itu) sebenarnya berjalan sesuai dengan prosedur normal, tetap saja terasa lama. Mengesalkan.


Ini masa yang serba cepat. Mau tenar? Tinggal buat video yang ‘menghebohkan’ dan viral. Tidak perlu ikut kursus atau latihan kemampuan apapun. Cukup putuskan urat malu dan bersiap dengan ketenaran yang didapat dalam sekejap. Mau kaya? Ya, bisa tiru cara untuk cepat tenar. Bersama ketenaran, turut mendampingi berbagai tawaran endorse. Yakinlah.


Saya bukanlah bagian dari generasi yang bisa ‘mengalun dengan tenang’. Segala sesuatu harus berjalan dengan dinamis, plus atraktif. Biasa? Harus luar biasa. Ingin melakukan pencurian? Ya, lakukan dengan cara yang tidak biasa. Setidaknya, seperti yang dilakukan generasi ‘kakak’ saya. Perhitungkan dengan matang, buat perencanaan yang sangat detail, pilih tim yang tepat dengan proses seleksi yang super ketat, dan lakukan tanpa kesalahan. Kelompok Ocean telah melakukan cara seperti itu beberapa kali.


Atau, ada pula yang benar-benar mewakili generasi kini. Lakukan dengan spektakuler. Buat sensasi. Jadikan fenomenal. Alih-alih melakukannya secara sembunyi, undang seluruh penduduk dunia untuk melihat aksi yang sedang terjadi. Now You See Me sudah dua kali melakukannya, dan mungkin akan ada aksi lanjutan.


Tidak pernah bisa dengan hal biasa. Apalagi yang sudah kedaluwarsa. Sayangnya, cerita tadi hanya fiksi belaka. Tidak nyata. Hiburan semata.

Faktanya, meski disebut eranya generasi millenials, tetap ada hal yang dilakukan dengan cara lama. Pencuri tidak harus berwajah tampan. Hmm… ya, mungkin tidak dalam level Brad Pitt, setidaknya. Tidak harus berotot. Tidak harus dengan kelincahan atau kelenturan tubuh layaknya pemain sirkus.


Ini nyata. Terjadi beberapa tahun yang lalu. Empat orang pria yang seharusnya sudah memasuki masa pensiun, dan seorang pemuda, melakukan hal yang luar biasa dengan cara yang biasa. Mereka membuat legenda. Kisah pencurian terbesar yang pernah terjadi di Inggris. Hanya saja, dilakukan dengan cara yang ‘biasa’.


Lupakan aksi sensasional macam Now See Me. Mereka melakukannya dengan cara diam-diam. Melalui ‘pintu belakang’ di kala masyarakat lelap dalam tidur. Lupakan pula perencanaan matang dengan perhitungan sangat detail dan dilakukan tanpa kesalahan. Rencana tetap ada, tapi ketika ada seorang anggota tim yang pingsan (akibat kelelahan, maklum faktor usia), ya, berhenti saja dulu. Antar teman yang sakit ke rumah sakit. Setelahnya, istirahat di rumah masing-masing. Lanjutkan lagi malam berikutnya.


Kisah pencurian terbesar yang pernah terjadi di Inggris. Mendengarnya, terbayang aksi yang luar biasa. Yang sebenarnya, seperti hal biasa. Beberapa orang yang sedang bekerja dengan alat pengebor. Merasa butuh ke kamar mandi, ya, silakan saja. Kalau lelah, minta teman untuk bergantian memegang alat bor. Merasa bosan, ya, bercanda saja—sambil menikmati bekal yang sudah disiapkan dari rumah.


Hasilnya luar biasa, tapi cara melakukannya tidak seluar biasa yang diperkirakan. Generasi lama? Ya, seperti itulah. Tidak perlu proses yang membuat decak kagum. Yang adalah terpenting hasil. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s