Tebak-tebak Buah Manggis

Brain on Fire

Sekitar setahun belakangan, pekerjaan yang saya lakukan mengharuskan saya berhubungan dengan dunia medis. Bukan suatu hal yang mudah. Menempuh pendidikan yang jauh hubungannya dengan biologi dan segala hal yang menjadi bahasan dunia kedokteran, jujur saja saya mengalami kesulitan dalam memahami yang informasi yang disampaikan. Terlebih ketika harus berhadapan dengan istilah-istilah medis. Beruntung ada teknologi yang namanya alat perekam dan tentunya Google yang sangat membantu. Selain menambah pengetahuan, serta mengingatkan diri saya untuk selalu menjaga diri, menjauhi hal-hal yang buruk bagi kesehatan, ada penyadaran lain yang saya terima.

Dalam keseharian, tidak jarang ada yang mengeluh tentang penyakit yang tak kunjung sembuh. Sudah berkonsultasi ke dokter, sudah mengkonsumsi berbagai obat yang diresepkan, bahkan sudah menjalani terapi-terapi melelahkan dan tentunya mahal, tapi tetap saja penyakit tak kunjung menghilang dari tubuh. Marah? Sudah wajar adanya. Berpikir bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh suatu hal yang metafisik? Jangan dulu.

Sama halnya dengan profesi yang lain, dokter hanyalah profesi. Manusia biasa yang mempelajari tentang ilmu kesehatan. Namanya manusia, tentu ada kelebihan dan kekurangan. Lebih dari itu, ada yang sekadar menjalani profesi sementara ada pun yang melakukan usaha lebih untuk mendalami ilmu yang digeluti. Dan, tidak jarang, di sinilah titik permasalahan sehingga suatu penyakit tak kunjung sembuh.

Saya tidak bermaksud menyebut dokter-dokter yang tidak berhasil menyembuhkan tersebut sebagai orang bodoh. Toh, kenyataannya mereka mampu menjalani studi yang tingkat kesulitannya berada jauh di atas kemampuan otak saya. Lagipula, bukankah sehat, mati, jodoh, rezeki berada di tangan Tuhan?

Tak usah berpikir naïf. Seperti yang tadi saya bilang, ada dokter yang sekadar menjalani profesi. Berdasar gelar yang diterima setelah menjalani masa studi, dirinya berhak menjalani profesi yang boleh dibilang cukup terhormat di mata masyarakat. Profesinya, lho, belum tentu orangnya.

Di dunia jurnalistik, ada yang disebut dengan wartawan bodrex. Darimana istilah ini berasal, tolong berbagi informasi dengan saya. Bagi kelompok wartawan ini, profesi mereka memiliki ‘daya jual’ yang lebih dibanding sekadar gaji bulanan yang diterima dari kantor. Karenanya, mereka berusaha memanfaatkan ‘daya jual’ itu demi mendapatkan keuntungan dari pihak-pihak yang membutuhkan—atau menjadi korban.

Menghadapi kenyataan ini membuat saya tidak lagi merasa heran ketika mendengar cerita “padahal udah ke sana-ke sini, udah periksa segala macem, udah sampe bosen minum obat, udah ga kuat lagi jalani terapi, tapi tetap aja nggak sembuh”. Atau, kisah lainnya, “gila, keren banget, tuh, dokter. Padahal gw baru sekali ke sana, minum obat yang dikasih, langsung sembuh.” Sama-sama berhubungan dengan dokter tapi mendapatkan pengalaman yang berbeda.

Kondisinya memang tidak seekstrem itu. Atau, tidak selalu seperti itu. Ada yang bilang, tidak ada jurnalis yang hebat. Yang ada hanyalah jurnalis yang beruntung. Beruntung punya akses, beruntung dibekali intuisi yang tajam, beruntung berada di lingkungan yang mendukung, serta berbagai keberuntungan lainnya. 

Cerita tentang keberhasilan pengobatan adalah tentang keberentungan. Beruntung orang tersebut datang ke dokter yang tepat. 

Namun, di luar itu, satu hal yang pada akhirnya saya ketahui. Menjadi pintar bukan hanya diperlukan untuk menjadi dokter. Pasien pun perlu kepintaran, agar jangan menjadi ‘pintar-pintaran’ dokter yang ‘pintar’. *semoga tidak membingungkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s