Drama dalam Proses

Opening Night

Creativity itself doesn’t care at all about results – the only thing it craves is the process. –Elizabeth Gilbert

Sudah begitu banyak orang yang bilang seperti itu. Nikmati proses karena itulah bagian yang terpenting, bukan hasil. Ada yang mengganggap sebagai bualan semata. Sekadar penyemangat bagi orang-orang yang kerap atau bahkan terus-menerus menemui kegagalan. Omong kosong berbalut kearifan. Tapi, itu mungkin pendapat orang lain, mungkin juga Anda, tapi bukan saya.

Sila berpikir bahwa saya ini orang yang gagal. Tidak salah. Ada begitu banyak kegagalan yang saya alami di sepanjang hidup ini. Bahkan, sewaktu kuliah, teman saya membuatkan akun surel dengan nama pendekargagalcinta untuk saya. Akun surel yang telah begitu lama tidak lagi saya gunakan.

Menonton film ini membuat saya teringat kembali dengan kenikmatan menjalani tahapan yang disebut proses. Terutama, ya, seperti yang diangkat di film ini, tentang proses produksi sebuah pementasan.

“Drama di dalam drama,” begitu saya dan teman-teman menyebutnya. Bahwa yang sebenarnya terjadi bukanlah sekadar cerita yang dipentaskan di atas panggung. Ada cerita lain. Cerita yang bahkan lebih menarik untuk dinikmati, terutama bagi saya. Cerita yang terjalin tanpa skenario, bahkan sekadar garis besar cerita yang kemudian dikembangkan oleh para pemerannya sebagaimana yang dilakukan para seniman panggung tradisional.

Tidak ada sutradara, tidak ada casting, tidak ada pengatur lampu, tidak ada pengiring musik, bahkan tidak ada penonton. Semua adalah pemain. Semua adalah sutradara. Semua memainkan irama masing-masing. Semua mengatur blocking-nya sendiri. Bebas bergerak ke mana yang diinginkan, bebas bertutur sesuai isi hati, bebas berekspresi menanggapi situasi, bebas melakukan apapun yang diinginkan asalkan berani menanggung akibat dari perbuatan.

Mungkin ini alasan salah seorang sutradara yang saya kenal tidak pernah mau melihat pertunjukkan yang diarahkannya ketika ditampilkan di atas panggung. Karena baginya, apapun yang terjadi di atas panggung, sekadar ‘sampingan’. Yang utama adalah yang terjadi di luar panggung. Jauh sebelum gong di gedung pertunjukan dibunyikan. Jauh sebelum media promosi disebarkan.

Yang ditampilkan di film ini memang sekadar bagian kecil dari proses itu. Bagian yang menjadi puncak, mungkin. Karena memang, di hari pementasan, khususnya menjelang tirai dibuka, ketegangan bisa meningkat tak terkendali. Tapi, dari pengalaman yang pernah saya jalani, kadang ketegangan memuncak jauh sebelumnya. Pernah satu kali terjadi terlalu dini, sehingga membuat cerita yang akan dipentaskan menjadi prematur. Ibarat lagu lawas, layu sebelum berkembang.

Cukup banyak drama yang saya terlibat dalam prosesnya. Sebuah keberuntungan karena cukup banyak pula drama di dalam drama yang saya jalani. Masing-masing meninggalkan kesal tersendiri, memberi pelajaran, mengukir kenangan. Tidak selalu manis, tapi telah terukir, yang kalau boleh dibilang, menjadi bagian dari proses kreativitas saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s