Menjaga Rasa

Lovely, Still

Sebagai orang yang melankolis, mudah sekali bagi saya untuk ikut larut dalam situasi. Musik yang merasuk ke dalam telinga melalui pengeras suara bisa sangat mempengaruhi kondisi psikologis saya. Karenanya, agak mudah bagi saya untuk mengatur semangat di awal hari—meski terkadang ada kejadian tak terduga yang menghancurkan skenario yang sudah saya buat.

Kalau hanya dengan alunan nada yang rata-rata berdurasi sekitar 5 menit saja bisa memberikan pengaruh besar pada kondisi psikologis, apalagi rangsangan audio-visual dengan durasi lebih dari 1 jam? Hampir setiap kali menonton film, utamanya yang bergenre drama, saya terbawa suasana. Merasa masuk menjadi bagian dari cerita dan mengkhayalkan kehidupan yang dijalani layaknya cerita yang baru saja saya nikmati.

Sialnya, saya ini tergolong suka menonton film. Dan lebih sialnya, drama mengisi sebagian besar daftar film yang saya tonton. Jadilah, setelah menonton film, saya membuat ‘drama’ versi saya sendiri. Di dalam pikiran seringnya, meski tak jarang juga terbawa dalam realita. Saya tahu, itu berbahaya, karenanya saya coba mencari cara agar tidak sampai realita dihancurkan dengan melankoli yang tercipta.

Ini salah satunya. Ya, membuat tulisan-tulisan di blog ini.

Masalah atau pikiran yang mengganggu harus segera dikeluarkan. Bercerita kepada orang yang dipercaya, begitu saran yang sering kali didengar. Bukan untuk mendapatkan solusi, karena tidak semua orang mampu memberi atau bahkan berniat mencari solusi. Sekadar bercerita, mengeluarkan kepenatan di dalam kepala. Seperti muntah di saat masuk angin. Biar lega.

Namun, itu kondisi yang normal. Ketika memiliki seseorang yang selalu bisa mendengar cerita setiap kali ada kepenatan di dalam pikiran. Bukan berarti saya ini tidak memiliki orang untuk bercerita. Tolong jangan berpikir sekejam itu.

Ketika sedang bersemangat, saya bisa melewati hari dengan hanya menonton film-film. Bisa 5-7 judul jika itu film panjang, atau 1 season jika itu film serial. Bayangkan waktu yang harus diluangkan oleh seseorang yang dekat dengan saya hanya untuk mendengarkan cerita saya tentang film yang baru saja ditonton. Sekadar melepaskan efek melankolis yang masuk bersamaan dengan mengalirnya cerita.

Jika satu sesi membutuhkan waktu sekitar 1 jam, betapa banyak hal yang jauh lebih berguna untuk dilakukan dengan durasi waktu sepanjang itu alih-alih sekadar mendengarkan cerita saya. Kalaupun seseorang itu tidak keberatan melakukannya, saya yang tidak ingin menjalaninya. Dan karenanya, saya memiliki jalan ini.

Memang, ada kalanya cara ini tidak terlalu mangkus. Dosisnya terlalu ringan dibanding dengan efek yang ditimbulkan oleh film yang saya tonton. Menghadapi situasi itu, saya terpaksa bercerita kepada seseorang. Harus. Saya tidak ingin terjebak dalam melankoli. Itu saja.

Berpikir bahwa ini terlalu berdrama? Sila saja. Saya tidak pernah mau mengekang kebebasan berpikir. Sekadar tantangan, jika Anda merasa orang dengan kesehatan psikologis yang kuat dan tak mudah terpengaruh dengan film seperti saya ini, coba tonton beberapa film ini secara marathon, urutannya bisa bebas menurut selera.

– Dare mo Shiranai (2004/Hirokazu Koreeda)

– Import Export (2007/Ulrich Seidl)

– Melancholia (2011/Lars von Trier)

– Amour (2012/Michael Haneke)

– Pieta (2013/Ki-duk Kim)

Sebagai pemberi ‘rasa’ berbeda, ada baiknya memasukkan film berikut.

– The Diving Bell and the Butterfly (2007/Julian Schnabel)

– A Prophet (2009/Jacques Audiard)

Salam. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s