Posesi Relatif

Para pemain dan staf pelatih berjajar, menunggu giliran dikalungkan medali, satu per satu. Usai giliran, tiba saat yang dinanti. Trofi kemenangan diserahkan. Sang kapten menerima dengan penuh kegembiraan. Kebanggaan membuncah ketika berbalik badan dan mengangkat trofi tinggi-tinggi. Sorak-sorai pemain lain berpadu dengan gemuruh kesenangan pendukung yang memenuhi stadion. Semakin lengkap dengan confetti dan kembang api. Pesta kemenangan mengakhiri musim. Tidak berhenti di stadion, pawai penuh kegembiraan biasanya dilakukan keesokan hari. Anggota tim diarak bak pahlawan yang kembali dengan kemenangan. Para pendukung seperti tak pernah kehabisan tenaga untuk terus meneriakkan kegembiraan.

Cerita indah di akhir musim, bagi pemenang tentunya. Karena, dalam setiap kompetisi, hanya ada satu pemenang. Hanya ada satu pesta. Hanya ada satu yang menjadi juara. Sisanya, ya… begitulah.


Tak perlu menghabiskan tenaga menuliskan perasaan kegembiraan para pendukung setia tim yang menjadi juara. Saat ini, sepakbola telah menjadi milik hampir setiap manusia di dunia. Bahkan yang tidak mengerti tentang sepakbola, yang kebetulan sedang berada di dekat lokasi nobar tepat ketika peluit akhir dibunyikan (dalam perjalanan menuju rumah dan terjebak kemacetan akibat maraknya pendukung yang berkumpul berbagi momen kebersamaan), akan larut dalam kegembiraan. Rasa gembira memang menular. Ditambah dengan gempira sepakbola, agresivitas penularan meningkat pesat.


Menjadi olahraga terpopuler di muka bumi, tak heran jika kemudian sepakbola pun menjadi daya tarik bisnis. Para konglomerat berlomba-lomba untuk bisa ikut ‘ambil bagian’ di olahraga ini. Inilah salah satu olahraga yang menggabungkan fanatisme-uang-prestasi. Semua bersimbiosis, menjadi ekosistem yang tubuh dengan subur, hingga sekarang dan entah sampai kapan. Tetapi, ada hal yang mengganjal di benak saya.


Melihat perayaan juara, di tengah luapan kegembiraan para pemain dan staf, sorak-sorai para pendukung, serta kebanggaan sang pemilik, saya merasa ada yang perlu dipertanyakan. Siapa sebenarnya yang disebut ‘pemilik klub’ dan yang paling pantas merasakan serta merayakan atas prestasi yang diraih? Pemilik klub, pelatih dan stafnya, para pemain, atau para pendukung? Maaf, para sponsor tidak dimasukkan dalam daftar tersebut karena kehadiran mereka di laga sepakbola ‘sebatas’ logo.


Pemilik Klub

Secara hukum, pihak inilah yang memiliki sebuah klub. Bisa satu orang bisa juga sekelompok orang. Tergantung pada kemampuan finansial. Tapi, melihat klub-klub sepakbola saat ini, terutama di Eropa, sepertinya sudah tidak ada lagi yang dimiliki oleh pendirinya. Terlebih klub-klub besar yang sudah didirikan sejak lebih dari seratus tahun lalu. Seiring kiprah sebuah klub di dunia sepakbola, bersamaan dengan prestasi yang diukir, terselip juga catatan perpindahan kepemilikan klub tersebut. Salah satu yang berita terbaru terkait hal ini adalah yang terjadi di Arsenal.


Merasa dirinya memiliki kemampuan finansial serta visi yang mampu membawa klub asal Kota London, Inggris, ini berprestasi lebih baik, Alisher Usmanov mengajukan tawaran untuk mayoritas saham Arsenal yang saat ini dipegang dimiliki Stan Kroenke. Ditambah dengan 30% saham yang saat ini dimilikinya, jika tawaran itu diterima, Usmanov akan menguasai 97% saham Arsenal. Jumlah yang jauh lebih dari cukup untuk menentukan segala kebijakan berkaitan dengan klub tersebut. Sayang, niatan itu tidak terwujud. Kroenke menolak tawaran yang diajukan.


Terlepas dari itu, kedua pengusaha tersebut terbilang ‘baru’ mengingat perjalanan panjang klub yang didirikan lebih dari 130 tahun yang lalu. Meski menguasai mayoritas saham, Kroenke baru ikut ‘terlibat’ di Arsenal sejak 2007 silam. Sedikit demi sedikit, pengusaha asal Inggris ini mengumpulkan saham Arsenal yang dilepas oleh pemilik sebelumnya. Baru sepuluh tahun. Tidak sampai separuh dari masa bakti Arsene Wenger bagi klub ini. Dengan latar belakang sebagai pebisnis, beralasan kiranya menduga bahwa keterlibatan Kroenke dengan Arsenal didasarkan kepentingan bisnis.


Lagipula, status kepemilikan hanya didasarkan legalitas di atas kertas. Apakah sebenarnya para pemilik saham/klub seperti Kroenke dan Usmanov benar-benar memiliki ikatan batin dengan klub yang dimilikinya? Membayangkan warga negara Rusia menjadi pendukung setia klub Inggris saja sudah membuat imajinasi saya buntu. Dan misalnya, ketika suatu saat mereka melepas saham yang dimiliki, apakah setelah itu masih merasa memiliki ikatan dengan klub yang pernah dimilikinya? Wallahualam.


Pelatih dan Pemain

Mereka inilah yang berjuang secara langsung demi mengukir prestasi. Mereka inilah ‘ujung tombak’ perbisnisan dalam sepakbola. Tanpa prestasi, bisnis sebuah klub dapat berujung dengan kerugian. Mereka pula yang menjadi pihak yang secara langsung merasakan kebanggaan, kebahagiaan, ketika prestasi diraih—sekaligus kekecewaan luar biasa, belum lagi ekspresi kesedihan mendalam yang diekspos oleh media, ketika kegagalan yang didapat. Mereka yang meluapkan kegembiraan ketika bola berhasil disarangkan ke gawang lawan. Mereka yang mencium dan membanggakan logo klub yang terpampang di jersey. Tapi, mereka bisa datang dan pergi kapan saja.


Sepakbola, terutama di Eropa, saat ini adalah tentang bisnis. Lupakan tentang loyalitas. Tidak ada lagi pemain yang memiliki kesetiaan seperti Franco Baresi, Giuseppe Bergomi, Ryan Giggs, atau Francesco Totti. Pemain, juga pelatih, bisa berpindah ke mana saja mengikuti tawaran yang lebih menarik.


Bukan sekadar uang, memang, karena ada sebagian pemain yang menempatkan materi bukan sebagai prioritas tertinggi dalam karier sepakbolanya. Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita tentang keinginan Antoine Griezmann untuk hengkang dari Atletico Madrid. Rasa pesimis dari manajemen klub yang menjadi penyebabnya. Pihak klub merasa puas untuk bisa berada di posisi ketiga di Liga Spanyol, di bawah Real Madrid dan Barcelona, sementara sang pemain menginginkan yang lebih dari itu. Griezmaan tentu bukan satu-satunya pemain yang mengalami hal itu.


Setiap pesepakbola profesional tentu ingin mengukir prestasi dalam karier mereka. Dan, sebagian dari mereka, ingin melakukannya di mana saja mereka bermain. Loyalitas bukanlah yang utama selama berada di klub yang tepat untuk mewujudkan ambisi pribadi. Salah? Tentu tidak, setidaknya menurut saya.


Kenyataan ini, ditambah dengan kenyataan ada sebagian pemain yang dengan senang hati pindah ke manapun demi mendapatkan bayaran yang lebih besar, membuat saya ragu atas luapan bahagia dan bangga ketika menerima medali dan trofi. Apakah mereka benar-benar melakukannya demi klub? Apakah mereka bangga karena ambisi pribadi terpenuhi? Atau, apakah mereka bahagia karena berarti akan ada bonus serta tawaran kontrak yang lebih tinggi? Kembali lagi, wallahualam.


Pendukung

Inilah kelompok paling ‘teraniaya’ dalam sepakbola. Kerap menjadi korban. Korban dari kelalaian petugas keamanan atau petugas penyelenggara pertandingan yang berujung pada tragedi. Korban dari perkelahian antarsupoter. Korban dari kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan mendukung klub yang digemari. Belum lagi menjadi korban dari bisnis yang dijalankan klub demi menjaga ‘keberlangsungan’ klub tersebut—membeli jersey, membeli tiket terusan, ikut dalam tur stadion, dan lain sebagainya. Yang lebih tragis adalah ketika tim mengalami kegagalan. Mereka juga menanggung beban. Bersedih atas perjuangan yang tidak mereka lakukan. Belum lagi ledekan dari teman atau orang lain. Bahkan, saya pernah mengantar teman yang harus membeli martabak akibat kalah taruhan. Yang menjadi pertaruhan kali itu adalah apakah tim yang didukung teman ini akan kembali berhasil lolos dari degradasi atau tidak.


Bayangkan rasa sedih yang dialaminya: sudah tim yang didukung terdegradasi ditambah pula dia harus meneraktir martabak karena kalah taruhan. Inilah nasib pendukung.


Namun, inilah pihak yang memiliki ikatan paling unik dengan sebuah klub. Tidak seperti pemilik, pelatih, atau pemain yang memiliki ikatan jelas (dalam bentuk saham atau surat kontrak), para pendukung sebenarnya tidak memiliki ikatan yang bersifat formalitas. Mereka bisa kapan saja pergi atau berubah haluan ketika klub yang semula didukung mengalami kegagalan. Tidak akan ada denda. Tidak ada aturan yang dilanggar. Bahkan ketika tergabung dengan kelompok pendukung, cukup ajukan pengunduran diri atau ganti nomor kontak. Selesai. Putus sudah hubungan. Mereka bisa menghindar dari rasa sedih akibat kegagalan klub yang dibela. Mereka bisa menghindar dari segala bentuk pengorbanan yang terjadi sebagai konsekuensi mendukung sebuah tim. Sebenarnya mereka bisa, tapi banyak yang memilih untuk tidak menggunakan hak itu. Memilih bertahan dan menerima segala bentuk konsekuensi atas pilihannya.


Walau, ada juga yang tidak. Saya kenal beberapa orang yang seperti itu. Yang musim lalu mendukung tim A, tapi pada musim ini mendukung tim C. Alasannya beragam. Ada yang karena tim favoritnya yang baru ini dilatih oleh pelatih andal, dibela oleh pemain idola, atau dimiliki juragan minyak yang kekayaannya bikin orang seperti saya menjadi pusing hanya dengan mendengarnya.


Saya pun sempat berpindah. Di pertengahan ’90-an, saya mendukung klub yang berbeda dengan klub yang sekarang saya dukung. Alasannya? Hmmm…. saya sendiri tidak tahu dengan pasti. Seperti ada ikatan yang tiba-tiba dan entah karena apa. Bahkan ketika klub yang sebelumnya saya dukung meraih prestasi luar biasa, menguasai kompetisi dalam kurun waktu yang cukup lama, saya tak juga merasa tergerak untuk kembali mendukung klub tersebut. Entah kenapa sebabnya.


Setia? Hmmm… saya tidak mau menjadi orang yang naif. Bahkan seorang bapak yang baru sekali bertemu dan mengobrol tidak lebih dari 2 jam saja menyebut saya orang yang sulit untuk setia. Jadi, saya tidak akan menjadikan kesetiaan sebagai alasan saya tetap mendukung klub yang berulang kali membuat saya kecewa, kesal, marah, dan sebagainya.


Ada beberapa kejadian memang yang menunjukkan para pendukung memiliki peran lebih dari sekadar memberikan semangat dari pinggir lapangan. Ada klub yang harus memecat, atau merekrut, pelatih atau pemain atas desakan para pendukung. Tapi, kejadian seperti itu sangat jarang terjadi dan hanya mungkin terjadi di klub-klub tertentu.


Ada pula banyak kejadian yang seperti menunjukkan posisi lemah klub dibanding para pendukung. Merayu para pendukung untuk tetap datang ke stadion untuk menonton pertandingan. Beralasan para pemain membutuhkan dukungan, tapi tentunya bangku yang kosong berarti pemasukan yang berkurang.


Lagipula, karena tidak ada legalitas yang mengikat pendukung dengan klub, para pendukung bisa pergi kapan saja mereka berkehendak. Kenapa harus terus mendukung klub yang membuat kecewa? Atau mungkin, akan kembali mendukung klub tersebut ketika mereka menorehkan prestasi. “Gw, kan, emang dari dulu dukung A. Kemarin-kemarin lagi sibuk aja sama kerjaan makanya jarang ikutan kalo lagi nobar.” Alasan klasik.

Klub manapun yang menjuarai Liga Italia, Inggris, Spanyol, Prancis, Belanda, Jerman, Turki, Rusia, atau lainnya, klub manapun yang menjuara Liga Eropa atau Liga Champions, klub manapun yang akan menempati posisi teratas sebagai klub dengan pendapatan tertinggi, atau apapun yang terjadi di akhir bursa musim panas nanti, klub sepakbola sudah menjadi sebuah konsep. Sebuah kepercayaan yang diyakini oleh orang-orang yang menerimanya. Bukan konsep yang sempurna, karena siapapun yang terlibat di dalamnya dapat pergi begitu saja. Konsep yang mungkin suatu saat akan hilang, dilupakan, dan digantikan dengan konsep yang baru. Klub boleh saja tenggelam, tapi teriakan para penggemar sepakbola akan senantiasa mengisi udara di stadion, kafe, ruang keluarga, pos ronda, tempat parkir, dan sebagainya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s