Dan pada Akhirnya…

logan
Logan
“Selamat panjang umur, dan bahagia….”

Penggalan lirik yang kerap didengar dalam keseharian. Setiap kali ada yang berulang tahun, potongan lirik tersebut seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Harapan serta doa bagi orang yang sedang merayakan hari kehadirannya di dunia.

Panjang umur selalu menjadi harapan. Sepertinya tidak ada manusia yang berharap kehadirannya di dunia ini hanya dalam waktu yang sesaat. Kalaupun ada manusia yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, itu tentu karena ada pertimbangan yang disertai keputusan putus asa.

Yang membuat saya tercengang adalah ketika pada minggu lalu membaca artikel kesehatan di Majalah Time. Keinginan, harapan, itikad, impian manusia untuk bisa berumur panjang ternyata sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Berbagai cara pun dilakukan demi mencapainya. Mulai dari yang logis sampai yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Semua dilakukan demi merasakan kehidupan yang lebih lama di muka bumi.

Mengadaptasi pertanyaan yang diungkapkan pada salah satu artikel di Majalah Time February 27/March 6, 2017, memangnya mau ngapain dengan umur yang panjang? Kalau dipikir-pikir, bukankah setiap saat selalu ada masalah. Semakin panjang usia, berarti semakin banyak masalah yang harus dihadapi. Memangnya enggak cukup sama masalah yang sudah ada? Seiring bertambahnya usia, fungsi dan kemampuan organ-organ tubuh menurun. Daya tahan dan kemampuan fisik menurun. Seiring dengan itu, penyakit semakin mudah untuk hinggap. Memangnya mau untuk hidup panjang dengan masalah kesehatan yang tak kunjung usai?

—-

Gemar mengisi waktu luang dengan menonton film, salah satu hal yang cukup mengusik pikiran saya adalah keberanian rumah produksi untuk mengidentifikasi seorang aktor tokoh tertentu. Jason Bourne misalnya yang begitu lekat dengan Matt Damon. Saking lekatnya, sampai-sampai aktor ‘harus kembali’ memerankan tokoh tersebut akibat kegagalan memunculkan ‘tokoh’ baru dalam The Bourne Legacy (2012).

Sadar akan risiko besar tersebut, beberapa judul film bergerak cepat. Tidak ingin terjebak dalam identifikasi seorang aktor, pembuatan ulang judul yang sama pun dilakukan—dengan menampilkan aktor baru, juga cerita yang agak berbeda. Yang termasuk dalam kasus ini misalnya Spiderman, Fantastic Four, dan Batman. Tindakan cepat memang diperlukan untuk menghindari stereotipe yang mengakar di pikiran penikmat film. Yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan yang terlanjur mengakar?

Dalam suatu kesempatan, saya sempat terlibat dalam obrolan yang membahas hal itu. “Terus, kalau misalnya Hugh Jackman mati, siapa, dong, yang akan jadi Wolverine?” Kebingungan tak terhindarkan. Mati akal. Tidak terpikirkan. Tidak ada ide. Tidak ada nama yang muncul sebagai pengganti aktor asal Australia tersebut. Penyebabnya karena tokoh Wolverine sudah begitu lekat dengan Hugh Jackman. Hugh Jackman dapat berperan menjadi tokoh apapun, tapi Wolverine tidak dapat diperankan oleh aktor lain. Stereotipe yang begitu mengekang meski harus mengorbankan logika. Seiring bertambahnya usia sang aktor, Wolverine pun terlihat semakin tua. Kerut-kerut wajah tidak dapat disembunyikan, meski sebenarnya tokoh tersebut memiliki kemampuan untuk meregenerasi sel tubuhnya.

Namun, Marvel sepertinya sudah memiliki cara untuk mengatasi hal itu. Bukan digantikan, karena sepertinya Hugh Jackman dan Wolverine sudah menjadi kesatuan yang tak dapat dipisahkan, melainkan dimatikan (maaf untuk pembaca tulisan ini yang belum menonton Logan dan termasuk orang yang tidak suka dengan spoiler).

Jalan pintas? Tentu saja. Bukankah sekarang sedang menjadi tren film-film yang kisahnya diangkat dari cerita komik superhero. Kalau Wolverine dimatikan, tentu akan mengorbankan salah satu tokoh yang sudah begitu melegenda. Tapi, kembali ke pertanyaan yang tadi diajukan, untuk apa mempertahankan hingga panjang usia kalau bersamanya juga mengikuti berbagai persoalan yang justru membuat usia panjang menjadi tidak bahagia. Hugh Jackman memang tidak memiliki kemampuan meregenerasi sel tubuh seperti yang dimiliki Wolverine, tapi industri film bisa mengangkat tokoh baru yang memiliki kemampuan seperti Wolverine. Wolverine tetap beregenerasi, meski tidak di dalam satu bodi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s