​Jakarta: Minggu Sore

Suara teriakan wanita berbaju motif bunga-bunga begitu melengking. Membuat orang-orang di sekitarnya berhenti dari kegiatan yang dilakukan – sebagian di antaranya disertai degup jantung yang menderu. “Ada yang mau bunuh diri!!!” Pandangan orang-orang pun di arahkan mengikuti jari telunjuk wanita tersebut. Di sebuah menara BTS, di ketinggian lebih dari 30 meter, seorang pria berdiri di antara batang besi yang merangkai menara. 

“Beneran mau bunuh diri?” seorang pria berjalan mendekat ke arah menara, coba mendapat penglihatan yang lebih jelas.

“Ngapain lagi di atas menara kalo ga mau bunuh diri?”

“Teknisinya mungkin.”

“Kalo teknisi, pasti pake perlengkapan.”

“Bener juga. Tapi kenapa harus bunuh diri di sini, sih? Bakal ada cerita gentayangan lagi, deh.”

“Heh, orangnya belum mati. Nanti aja mikir soal gentayangannya.” 

“Ada yang kenal?” 

“Siapa?”

“Ya orang yang di atas itu.”

“Enggak pernah lihat.” 

“Orang gila mungkin.” 

“Orang kesasar. Makanya naik ke atas biar bisa ngelihat lebih luas.” 

“Mas… ngapain mau bunuh diri?”

“Iseng aja, Bang. Sekali-kali mau coba.”

“Heh! Ini bukan waktunya bercanda.”

“Ya, habis pakai ditanya kenapa bunuh diri. Biasanya orang bunuh diri kalau enggak karena hutang, ya, putus cinta.”

“Kok, tahu banget. Pengalaman?”

“Baca di koran.”

“Mas… enggak usah putuh asa. Masih banyak wanita lain. Nih, Mbak ini masih jomblo,” menunjuk pada wanita berambut panjang yang baru bergabung di antara kerumunan. 

“Eh, Mas. Jangan asal ngomong, ya?” 

“Mbak, kan, jalan sendirian. Ya, sudahlah. Hibur orang yang putus asa.” 

“Ya, nanti kalau dia turun, terus ngejar-ngejar saya, gimana? Bisa-bisa saya yang mau bunuh diri. Saya enggak mau.” 

“Cepat turun, Mas. Mbak ini enggak mau nunggu lama-lama.” 

Wanita berambut panjang melayangkan tas jinjingnya, tepat mengenai kepala pria yang dituju. “Dasar semprul.” 

—-

Tak sampai satu jam kemudian, orang-orang sudah memenuhi tanah lapang di bagian bawah menara. Yang baru kembali dari tempat wisata, yang baru kembali dari undangan acara, yang baru kembali janji temu dengan teman, yang akan kembali ke rumah melewati jalan tersebut, semua berkumpul memadati lapangan. Memandang ke atas, sambil terlibat dalam percakapan dengan orang-orang yang tak dikenal sebelumnya. 

“Sudah ada yang telefon polisi?” 

“Buat apa?”

“Ya, biar polisi tahu.” 

“Terus, kalau sudah tahu, gimana?” 

“Ya diselamatin. Biar enggak jadi bunuh dirinya.” 

“Polisi enggak punya tangga setinggi itu. Yang punya pemadam kebakaran.” 

“Ya, sudah. Hubungi pemadam kebakaran. Cepat!”

“Kenapa bukan situ aja yang ngubungin? Kan, situ yang punya ide.” 

“Pulsa saya habis.”

“Coba teriak. Siapa tahu ada penjual pulsa di sini. Kalau enggak ada, di dekat sana ada yang jual pulsa.” 

“Kelamaan. Nanti keburu orangnya lompat. Sini, saya pinjam sebentar hp-nya.” 

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” 

“Duh…. Lama-lama pegel juga, ya,” memijat-mijat leher bagian belakang lalu berteriak ke arah pria di atas BTS, “Mas, enggak mau agak turun aja, biar kita enggak terlalu dongak?” 

“Tiduran aja. Enggak perlu dongak.” 

“Enggak ah. Nanti susah menghindar kalau dia lompat.” 

“Oi, Mas. Break dulu. Pegel, nih, leher.” Berjalan di antara kerumunan, coba menjauh dari menara BTS. Yang dituju, pedagang kopi keliling yang menunggu di sisi luar lapangan – bersama dengan pedagang lainnya. 

—-

“Mas… lapar, ga?” 

“Heh, apa, sih?” 

“Ya, siapa tahu dia lapar. Kan, sudah dari tadi di atas. Mau makan apa? Ada tukang ketoprak, mie ayam, bakso.”

“Di ujung gang ada rumah makan Padang yang enak.” 

“Dia itu sebentar lagi mau mati. Masa ditawarin makanannya cuma yang begitu.” 

“Benar juga. Mas mau makan apa? Kita pesanin, ya. Steak, burger, pizza, atau apa?” 

“Terus, siapa yang mau bayar?”

“Patungan.” 

“Enggak mau. Mas… turun aja dulu. Makan. Sudah hampir malam.” 

“Mana bisa begitu? Masa bunuh diri ditunda.” 

“Ya, bebas saja, sih. Mau mati karena lompat dari ketinggian atau kelaperan.”

“Mas… ditunda saja bunuh dirinya.”

“Mana boleh ditunda?” 

“Memangnya bunuh diri dibolehkan?”

“Mas… pindah saja lokasinya. Jangan di sini. Nanti saya takut lewat jalan ini lagi.” 

“Pindah kemana?” 

“Gedung DPR.”

“Pasti enggak boleh masuk.” 

“Ah… Kompas, kan, lagi bangun gedung baru, tuh. Di situ aja.” 

“Benar juga. Pasti jadi liputan. Di situ saja, Mas.” 

“Nanti masuk breaking news.” 

“Mau, ya….”

“Ya, harus mau. Eh, Mas. Kalau emang ngerasa hidupnya enggak berarti, seenggaknya buat kematian jadi sensasi.” 

“Turun, Mas. Kita pindah lokasi.” 

“Naik apa?”

“Pesan ojek onlen saja.” 

“Kalau cuma buat bayar ojek ke Palmerah, masa, sih, enggak ada.”

“Memang mau lanjut?” 

“Enggak, sih. Saya mau nonton bola. Bapak saja yang temani.” 

“Saya ada pengajian. Hei, anak muda. Kau saja yang temani.”

“Enggak bisa, Om. Ini mau nobar.”

“Terus, siapa yang akan temani dia? Kamu saja!”

“Saya harus segera pulang. Harus siapin materi buat rapat besok.” 

“Ah…. Mana jadi begini. Mas…. Ditunda saja, ya. Besok bagaimana?” 

“Tidak bisa. Besok ada sidang Jessica. Tak ada media yang akan meliput.”

“Lusa kalau begitu.”

“Cakep. Gw cuti, deh.” 

“Yang lain gimana?”

“Bisa.”

“Bisa.”

“Bisa.”

…….

“Mas… kita lanjut selasa aja, ya. Nanti kita siapin semuanya. Pokoknya semua beres. Sudah diatur.” 

“Saya ada teman buzzer. Nanti saya minta bantuan dia.” 

“Tuh. Sekarang turun saja dulu. Makan. Sudah malam. Kalau mau tidur, di sebelah sana ada masjid. Kita ketemu lagi hari selasa. Oke?”

“Kita bikin grup Whatsapp aja. Biar jelas siapa urus apa.” 

“Oke. Kumpulkan nomor kalian. Saya yang jadi admin.” 

—-

Malam beranjak larut. Satu per satu orang mulai meninggalkan lapangan. Para pedagang pun mengikuti. Di menara BTS, di antara rangka besi yang menyusun menara, seorang pria berdiri, di ketinggian lebih dari 30 meter.

Minggu, 18 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s