​Teknologi yang Mengganggu Anda

Dalam beberapa bulan terakhir, profesi yang saya jalani membawa saya berkenalan dengan dunia kedokteran. Kunjungan ke rumah sakit, masuk ke dalam klinik-klinik, berbincang dengan dokter, dan sebagainya. Bukan dalam rangka mengetahui kondisi kesehatan saya, syukurlah, tapi sekadar menjalani kewajiban tugas. 

Dalam melakoni itu, beberapa hal saya sadari. Yang pertama adalah bahwa ternyata ada banyak kegiatan yang sesungguhnya tidak baik bagi kesehatan tapi menjadi rutinitas kehidupan saya sehari-hari. Lalu, betapa luasnya bahasa di dunia ini, karena seringkali saya dibuat pusing ketika berhadapan dengan ‘bahasa khusus dunia kedokteran’. Tak ingin berlagak sok pintar yang kemudian malah menjerumuskan saya ke dalam jurang kebodohan, saya pun selalu bertanya ketika mendengar kosakata dari ‘bahasa khusus dunia kedokteran’. Terakhir, adalah bahwa dokter merupakan manusia biasa. Mereka hanyalah orang-orang yang mempelajari ilmu kesehatan. Mereka bukanlah dewa atau ahli nujum yang memiliki kemampuan ‘luar biasa’. Mereka hanya mengaplikasikan pengetahuan serta pengalaman yang didapat. Jika ada di antara mereka yang menjadi terlihat hebat dibanding lainnya, tak lebih karena keinginan untuk memperdalam bidang pengetahuan yang dipelajari. Salah satunya adalah aktualisasi diri terhadap teknologi. 

Tidak hanya satu-dua dokter yang, ketika saya temui, berucap syukur atas teknologi-teknologi baru di dunia kesehatan. Hadirnya teknologi-teknologi itu sangat membantu mereka dalam menghadapi setiap kasus yang dibawa oleh para pasien. Alasan standar yang kerap dikemukakan: pemeriksaan jadi lebih menyeluruh, citra yang dihasilkan lebih detail, tingkat sakit yang diderita pasien lebih minim, tindakan yang dilakukan lebih efektif, dan waktu penyembuhan yang diperlukan jadi lebih singkat. Beberapa di antara dokter yang saya temui bahkan secara khusus berterima kasih dan memuji orang-orang yang mengabdikan hidup mereka untuk mengembangkan teknologi kesehatan. “Mereka jenius!” 

Tidak hanya dunia kesehatan, perkembangan teknologi pun telah membantu berbagai hal lainnya. Jika 20 tahun lalu harus terlebih dahulu ke toko kamera untuk membeli film sebelum acara khusus, semisal wisata, pesta ulang tahun, wisuda, pernikahan, dan sebagainya, sekarang yang penting jangan lupa membawa power bank dan kosongkan memori smartphone agar Anda bisa mengabadikan setiap momen yang terjadi. Jika 10 tahun yang lalu orang-orang disibukkan mencari warnet untuk dapat mengakses internet, sekarang yang dicari adalah akses wi-fi gratis. Dan, jika 5 tahun lalu saya langsung mengunggah foto dari smartphone, sekarang saya harus mencari laptop atau PC yang memiliki program tertentu yang memungkinkan saya mengolah gambar dari kamera untuk kemudian saya pindahkan ke smartphone dan proses terakhirnya adalah mengunggah ke situs media sosial. (Tak perlu merasa heran, karena saya ini memang orangnya suka yang jadul-jadul. Playlist saya isinya lagu-lagu jadul, buku bacaan saya karya penulis jadul. Bahkan, ketika menghadap cermin, yang terpampang adalah wajah masa lalu.) 

Namun, kehadiran teknologi tak bisa dipungkiri telah mengubah cara hidup manusia. Kejadian nyata, saya alami kurang dari 48 jam sebelum membuat tulisan ini. Datang ke sebuah gedung pertunjukan, diselimuti udara dingin yang bahkan membuat jaket tebal saya terasa seperti kain tipis yang menerawang, di panggung tersaji sebuah pementasan. Gedung lama, memang, tapi telah dilengkapi dengan teknologi yang cukup baru. Kelompok yang tampil pada malam itu pun telah melengkapi diri dengan teknologi yang cukup baru. Salah satunya adalah kamera berlensa panjang yang hampir sepanjang pertunjukkan tak henti bekerja. Kerennya, tidak hanya satu. Setidaknya ada tiga orang, yang kemungkinan merupakan bagian dokumentasi, yang tersebar di bagian kanan, kiri, dan belakang saya. 

Mereka, terutama orang-orang yang saya perkirakan merupakan bagian dokumentasi, sepertinya lupa bahwa tempat mereka berada adalah gedung pertunjukan. Tempat yang dibangun sebagai tempat bertemunya penampil dan penonton. Karenanya, desain dan arsitektunya pun mempertimbangkan aspek kejelasan suara. Sedikit suara yang timbul dapat terdengar ke hampir setiap penjuru ruang. Jadilah, saya seperti berada di hutan belantara, tempat hidup burung-burung liar yang senantiasa sahut-menyahut. Mengisi kesunyian hutan dengan kicau-kicau yang terdengar nyata. Dimulai dari kiri, disambut oleh yang di belakang, lalu kanan tak ingin ketinggalan, yang di kiri pun kemudian kembali, dan seterusnya. Berulang. Tak jarang seperti bus malam yang coba saling mendahului. 

Tak salah. Tidak salah. Momen penting memang sudah seharusnya diabadikan. Sebagai kenangan untuk generasi mendatang. Atau, setidaknya sebagai kenang-kenangan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Bukankah suatu kebanggaan bisa tampil, unjuk kemampuan, di sebuah gedung yang cukup megah. Kebanggaan yang mungkin akan diragukan ketika diceritakan kepada orang lain jika tanpa bukti penguat. 

Tak menyalahkan pula jika para juru bidik itu seperti tak ingin kehilangan setiap momen. Seiring pergerakan pemain, sekecil apapun, kamera telah siap diarahkan, jemari secara otomatis menekan tombol shutter, dan kenangan pun terekam dan ingatan teknologi. 

Yang disayangkan, menurut saya, adalah minimnya perhatian terhadap kenyamanan penonton. Keinginan mengabadikan setiap momen yang dilakukan pada malam itu sejujurnya mengganggu kenyamanan penonton, setidaknya saya. Saya mengerti bahwa mereka, para juru bidik itu, hanya menjalankan tugas. Sudah menjadi kewajiban mereka. Tapi, di sisi lain, bukankah sudah hak saya, sebagai penonton, untuk dapat menikmati pertunjukan dengan tenang? Saya tidak akan mempermasalahkan suara sahut-menyahut yang keluar dari kamera-kamera tersebut jika memang hal itu menjadi bagian dari pertunjukan. Sama sekali tidak. Tapi untuk kasus malam itu, saya sangat yakin bahwa suara sahut-menyahut yang keluar dari kamera digital itu bukanlah bagian dari pertunjukan. Ketika suara-suara itu hilang dari tempat pertunjukan, jalannya cerita sama sekali tidak akan berubah. Kalau tak salah, suara-suara yang timbul dari kamera sebenarnya bisa dilenyapkan, atau setidaknya diminimalisir. Jadi, sebenarnya ada solusi yang menyamankan masing-masing pihak. 

Kemajuan teknologi pun sangat membantu para penampil. Tak perlu harus memiliki kualitas suara dan tenaga yang mumpuni untuk dapat tampil selama berjam-jam. Hadirnya pengeras suara telah sangat membantu. Terlebih, pengeras suara-pengeras suara itu tersebar, baik di bagian atas maupun bawah panggung, sehingga para penampil tidak perlu khawatir. Di mana pun mereka beraksi, selalu ada pengeras suara yang selalu siap menjalankan fungsinya. Tak perlu mengeluarkan tenaga suara sepenuhnya, karena ini merupakan pertunjukan yang cukup panjang. Seperlunya saja. Toh, sudah ada pengeras suara di mana-mana. Sayangnya, beberapa kali (alih-alih menyebut sering) itu menjadi boomerang. Jika fitur boomerang di Instagram kerap membuat saya terbahak-bahak, boomerang tadi malam membuat saya kerap mencodongkan badan ke arah depan, berusaha mendengar yang diucapkan oleh sang penampil. 

Ini memang risiko menyaksikan pertunjukan langsung. Perhatian tidak boleh sedikitpun beralih. Harus selalu fokus ke atas panggung, atau kebingungan akan menyergap pikiran. Tak paham jalannya cerita akibat harus memejamkan mata demi mengerahkan fokus agar gas yang mendorong-dorong dari dalam tubuh keluar dengan cara sesenyap mungkin. Sialnya, itu berbarengan dengan adegan penting di atas panggung. Itulah risiko dan seni menonton pertunjukan langsung. 

Gerakan mencodongkan badan yang beberapa kali saya lakukan pun sebagai usaha agar saya mengerti jalannya cerita. Terlebih, kebetulan cerita yang ditampilkan dalam pertunjukan semalam merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Tidak pernah mendengar, apalagi membaca sebelumnya. Karenanya, penting bagi saya untuk mendengar, serta tentunya melihat, setiap percakapan dan adegan. Usaha yang agak terganggu akibat minimnya tenaga suara dari pemain pada beberapa adegan. 

Menghadapi keadaan tersebut, termasuk dengan suara sahut-menyahut dari kamera, jiwa jadul saya pun berontak. Mendorong-dorong ingin keluar. “Andai….” Beragam perandaian pun muncul di kepala. 

Andai saja panggung itu tidak terlalu didukung oleh teknologi. Tentunya pemain akan berusaha semaksimal mungkin. Mengeluarkan kemampuan maksimal di setiap dialog yang diucapkan. Suasana ruang pun tidak jadi mencekam di setiap pergantian babak. Ketika lampu dimatikan, hilangnya desingan pengeras suara seperti menjadi momok. Tambah sial, karena terjadi berulang di setiap pergantian babak. Keheningan yang benar-benar mencekam. 

Saya sebenarnya tidak memiliki masalah dengan hening. Saya bahkan suka dengan keheningan. Tapi jika keheningan itu terjadi di antara kericuhan, berulang, bahkan di saat yang sama suara sahut-menyahut dari kamera pun ikut berhenti, itu seperti menjadi ‘teror’. Bukankah lebih nyaman dengan keadaan yang stabil? 

Dan khusus untuk para juru bidik, seandainya yang mereka gunakan tadi malam adalah teknologi seperti 20 tahun yang lalu, saya yakin mereka akan menjadi manusia yang lebih bijak. Tetap menjalankan tugas, tapi dengan perhitungan yang lebih matang. 

Namun, ya, sudahlah. Kenyataannya realita tidak seperti itu. Realitanya teknologi sudah menjadi bagian di seluruh aspek hidup manusia, terutama bagi yang tinggal di daerah perkotaan. Orang-orang dengan sikap jadul seperti sayalah yang sepertinya harus menyesuaikan diri dengan perubahan. Saya pun berusaha melakukan itu. Beberapa tulisan yang Anda baca di blog ini saya buat dalam perjalanan. Di antara orang-orang yang memenuhi gerbong kereta, saya mengetikkan satu per satu huruf di smartphone. Bukankah itu sebuah perubahan? Pe er bagi saya adalah berinvestasi teknologi baru yang memungkinkan saya untuk langsung mengunggah foto tanpa harus mencari laptop atau PC dengan program tertentu. Semoga saja itu bisa cepat terealisasi. 

Berita baiknya, saya tidak sendiri. Iya, saya tidak berjalan sendiri. Ada orang atau pihak lain yang juga mirip dengan saya. Tak bisa membohongi diri bahwa memang jiwanya jadul, tapi tidak berarti pula menolak datangnya perubahan. Bukan ingin mencari-cari teman dan berusaha menjadi ‘beda’. Ini sekadar penyemangat dan pelajaran untuk selalu berusaha memperbaiki diri. 

Sekitar satu minggu yang lalu, kabar mengejutkan itu saya baca. Masih ingat dengan Nokia? Kalau iya, pertanyaan selanjutnya adalah masih ingatkan dengan Nokia 3310? Di masa kejayaannya, seri ini disebut “hp sejuta umat”. Mungkin seperti iPhone (berlaku untuk semua seri yang masih digunakan saat ini). Di manapun Anda berada, selalu ada orang yang menggunakan produk tersebut. Berita baik, terutama bagi orang-orang jadul seperti saya dan yang dulu menggunakan Nokia 3310, karena “hp sejuta umat” tersebut akan ‘dihidupkan kembali’. Ya, Nokia akan kembali memproduksi 3310. 

Jadul? Memang. Nokia kini telah kembali ke pemilik semula, setelah Microsoft gagal dengan ‘inovasi’ Lumia. Seirama dengan kembali ke masa lalu, kenapa tidak sekalian menghadirkan produk masa lalu? Memang, tidak plek-plekan seperti yang dulu Anda pakai. Ya, Anda. Saya tahu Anda dulu menggunakan hp tersebut. 3310 yang akan dihadirkan telah dilengkapi teknologi layaknya smartphone yang kini Anda gunakan. Yang paling istimewa, permainan legendaris Snake juga akan tetap menemani. We o we. Entah seperti apa Snake II yang akan menemani Nokia 3310 yang baru, tapi dari berita yang saya baca bahwa permainan ini juga akan mendapat unsur ‘kekinian’. 

Menarik melihat dampak yang dibuat 3310 bagi Nokia. Apakah “Teknologi yang Mengerti Anda” akan kembali familiar? Tapi, sebelum itu dimulai, izinkan saya untuk ‘mengadaptasinya’ di sini. Mengertikah Anda dengan teknologi? Kalau memang belum, tak ada salahnya untuk mengunakan yang lama. Mencoba teknologi baru memang penting, tapi sebaiknya dilakukan saat latihan. Untuk momen utama, sebaiknya buat keputusan terbaik agar yang ditampilkan juga merupakan yang terbaik. Salam. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s