Siaga Pemenang

Hari ini, yang dinanti akhirnya tiba. Setelah berbulan-bulan kampanye, inilah hari pemungutan suara. Saatnya masyarakat menentukan pilihan mereka. Saatnya para kandidat dan tim sukses menilai kesuksesan kampanye mereka. Ada 101 wilayah yang hari ini menyelenggarakan pemilihan kepala daerah. Dari jumlah itu, tujuh di antara pemilihan kepala daerah tingkat provinsi. Dan yang paling menyita perhatian, tentunya adalah pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. 

Ibukota negara selalu menjadi daya tarik tersendiri. Kejadian-kejadian di kota ini, baik yang penting sampai yang ‘dibuat terlihat penting’, menjadi perhatian nasional. Terlebih, yang menjadi kandidat pada pemilihan Gubernur DKI kali ini boleh dibilang bukanlah orang sembarangan. Anak mantan presiden, petahana, dan mantan menteri. Kesemuanya bukanlah kandidat yang bisa dipandang sebelah mata. Masing-masing membawa dukungan besar. 

Saya bukanlah warga Jakarta. Saya tidak memiliki hak suara dalam Pilkada DKI Jakarta. Saya hanya orang yang ‘numpang’ mencari rezeki di Jakarta. Dan untuk keperluan itu, hampir setiap hari saya menghabiskan waktu di wilayah Jakarta. Jika ditanya mengenai kepentingan saya terhadap Pilkada DKI Jakarta, ya, tentu ada. Saya ingin tahu siapa yang akan menjadi pemimpin di daerah tempat saya mencari rezeki. Saya ingin tahu kebijakan yang akan dijalankan. Saya ingin tahu adakah kebijakan yang akan berdampak negatif bagi orang-orang seperti saya. Dan jikalau ada kebijakan seperti itu, saya pun dapat bersiap diri mencari solusi agar kehidupan saya bisa berjalan dengan aman, nyaman, dan tenang. 

Untuk kepentingan itu, saya mengikuti berita-berita tentang Pilkada DKI Jakarta 2017. Tiga kali debat terbuka yang disiarkan di stasiun televisi selalu saya tonton. Menarik memperhatikan debat di antara para kandidat. Saling menyerang program sampai ke persoalan yang sifatnya pribadi. Tapi, yang lebih menarik adalah yang terjadi di luar acara debat. Perdebatan yang dilakukan bukan oleh ketiga pasang kandidat. Perbedatan yang justru terjadi di kalangan masyarakat.

Sewaktu Sekolah Dasar, jauh sebelum memiliki hak suara dalam pemilihan umum, saya sudah diajarkan (ditanamkan) mengenai prinsip dalam pemilihan umum. LUBER, jargon yang begitu mudah diingat dan tetap melekat hingga sekarang. Langsung Umum BEbas dan Rahasia. Sampai kemudian ketika hak suara itu saya miliki, saya menjalani betul prinsip itu. Saya datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Saya menggunakan hak pilih saya di dalam bilik yang telah disediakan. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang mengetahui. Hanya saya dan Tuhan yang Maha Esa yang tahu pilihan yang saya buat.

Saya ingat, di waktu itu, di masa awal saya memiliki hak suara, kampanye yang dilakukan tidaklah seperti sekarang. Hal yang wajar, karena, toh, masyarakat terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Kalau kampanye yang dilakukan sekarang masih tetap seperti yang terjadi pada 20-30 tahun lalu, itu berarti ada masalah besar yang terjadi dan harus segera diselesaikan.

Perbedaan yang menjadi perhatian utama saya adalah prinsip Rahasia yang saat ini sepertinya telah berubah. Proses pemungutan suara memang masih dilakukan di dalam bilik. Kerahasiaan pilihan seseorang di dalam bilik tetap terjaga. Tapi, tidak dengan kerahasiaan di media sosial. Bukan sekadar di masa kampanye, tapi bahkan hari ini banyak yang ‘begitu terbuka’ menyampaikan pilihan mereka. Memang, sekadar memasang status serta foto tidak semata berarti hal itu pula yang terjadi di dalam bilik TPS. Realita dunia maya tidaklah sama dengan realita dunia nyata.

Sudah begitu banyak orang yang sepertinya tidak lagi memegang prinsip Rahasia. Mungkin jargon itu dianggap sebagai peninggalan Orde Baru. Sudah usang. Sudah kadaluarsa. Sekarang zamannya keterbukaan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Menyatakan pendapat dan bahkan terang-terangan menyuarakan dukungan kepada kandidat tertentu merupakan hak setiap warga negara. Tidak perlu malu-malu untuk bersuara. Toh, sudah ada yang berani berkendara motor di jalan raya dalam kondisi yang ‘tanpa ditutupi’. Break through. Dobrakan selalu menjadi penggerak masyarakat.

Sayangnya, keterbukaan tidak dibarengi dengan rasa toleransi yang tinggi. Hampir setiap hari menghabiskan waktu di Jakarta dan berinteraksi dengan manusia-manusia Jakarta, saya pun kerap mendengar konflik yang terjadi di antara masyarakat Jakarta. Dari sekian banyak cerita yang saya dengar terkait dengan Pilkada DKI, salah satu yang kemudian saya anggap menjadi ‘biasa’ adalah cerita pertengkaran di antara teman karena mendukung kandidat yang berbeda. Media sosial menjadi sarana perdebatan yang tak jarang berujung pada putusnya hubungan komunikasi di antara teman.

Semua berawal dari kebebasan bersuara. Mulai dari sekarang membagikan tautan yang berisi kebaikan dari kandidat yang didukung sampai yang terang-terangan menyatakan sikap dukungan pribadi. Mulai dari yang sifatnya ‘terbuka untuk umum dengan sedikit tendensi untuk meminta perhatian’ (seperti memasang status atau profil picture) sampai yang sifatnya ‘tendensius’ (membagikan tautan ke grup percakapanan bahkan ke personal).

Salah? Seharusnya tidak. Secara umum, saya menganggap para pendukung itu seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tidak ada hal buruk mengenai orang yang dicintai. Segalanya baik. Dan, sudah sewajarnya segala yang baik itu dibagikan kepada orang lain. Bukankah hal baik untuk mengajak orang menuju kebaikan? Sayangnya, yang sedang jatuh cinta bukan hanya satu-dua orang. Sebagian besar masyarakat Jakarta sedang jatuh cinta. Lebih sialnya, yang membuat jatuh cinta tidak hanya satu orang, tapi tiga pasang. Masalah timbul ketika masing-masing orang membagikan rasa cintanya di ruang publik. Masing-masing menggagap yang mereka bagikan adalah hal baik, dan mungkin merupakan yang terbaik. Perdebatan timbul. Semakin memanas karena masing-masing merasa yakin akan cinta yang tumbuh di dalam dirinya. Masing-masing tetap bertahan di posisinya. Tidak sedikit pun bergeser, malah kaki semakin dilesakkan ke dalam tanah agar tidak bergoyang sedikitpun. Ketika kemudian tidak ada ‘jalan tengah’, perpisahan pun menjadi akhir percakapan. Keluar dari grup, unfollow, sampai block.

Ketika awal mendengar cerita tentang kejadian seperti tadi, saya berpikir itu hanya sikap orang yang tidak dewasa. “Paling juga cuma sebentar. ‘Ntar temenan lagi.” Tapi ketika cerita itu terus berulang, saya jadi berpikir, apakah segitu banyak masyarakat Jakarta yang tidak dewasa? Memang, kedewasaan tidak sejalan dengan usia. Tapi kalau jumlah orang tidak dewasa begitu banyak dan di saat bersamaan mereka memiliki hak suara, berarti pilihan yang dibuat adalah pilihan anak-anak. Pilihan yang mudah goyah karena ada iming-iming. “Permen yang ini aja, ya…. Kakak beliin 10, deh.” Hasil pemilihan pun bisa dibilang bukan pilihan orang dewasa.

Tidak memiliki hak suara dalam Pilkada DKI Jakarta membuat saya dapat bersikap agak santai dengan situasi yang terjadi. Ketika teman-teman di kantor begitu emosi saat menonton debat terbuka, terutama ketika giliran kandidat yang tidak didukung, saya bisa bilang, “Tenang…. Lo teriak sekenceng apapun dia enggak akan denger, kok.” Dan ketika mendengar konflik-konflik yang terjadi di media sosial akibat Pilkada DKI, saya hanya tersenyum—dengan rasa khawatir di dalam hati. Saya takut ini bukan sekadar konflik anak kecil. Jam 9 berkelahi, jam 10 sudah main sepeda bersama. Saya khawatir realita dunia maya akan menerobos ke dunia nyata.

Sampai siang ini, masyarakat berkesempatan menggunakan hak pilihnya. Setelah itu, tugas KPU untuk menghitung jumlah pilihan yang telah dibuat, lalu mengumumkannya pada masyarakat.

Siapapun yang terpilih, kalau boleh memberi saran, hal pertama yang dilakukan adalah menenangkan masyarakat Jakarta. Saya tidak ingin lagi merasakan teror. Merasa keselamatan diri terancam seperti yang terjadi di hari penghitungan suara Pilpres 2015 akibat menyebarnya kabar-kabar mengerikan di media sosial. Saya memang bukan warga Jakarta, tapi bukan berarti saya tidak memiliki kepentingan terhadap Jakarta. Bukan hanya saya. Saya yakin di luar sana, termasuk orang-orang yang terlibat dalam konflik di media sosial, berharap Jakarta akan selalu aman, nyaman, dan tenang. Semoga saya kekhawatiran saya tidak terbukti, dan saya bisa dengan nyaman melanjutkan pencarian rezeki saya di Ibukota. Amin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s