Se- Itu Banget

Jakarta-Kereta_0001.jpg

Mendengar percakapan-percakapan di sekitar, ada satu hal yang menarik perhatian saya.

“Emang kantornya sebagus itu, ya?”

“Dia, tuh, orangnya repot. Serepot itu.”

Dua kalimat tadi hanya contoh dari sekian pernyataan menarik yang belakangan ini kerap saya dengar. “Se- itu” seperti sedang booming, menjadi tren. Kalaupun memang bukanlah sebagai fenomena nasional atau regional, setidaknya menjadi kekhasan yang sedang marah menjadi bagian kegiatan komunikasi di lingkungan saya.

Jangan tanyakan mengenai siapa yang pertama memulai bentuk tersebut, alasan pemilihan bentuk tersebut, sampai kemudian menjadi begitu sering terdengar di telinga. Saya hanya tahu bahwa bentuk “se- itu” menjadi semakin akrab di telinga.

Terganggu? Sama sekali tidak. Sebaliknya, justru saya merasa sumringah. Beberapa alasan kegembiraan saya. Yang pertama karena saya mendapat ide baru untuk membuat tulisan. Alasan yang kedua karena, bagi saya, ini menunjukkan bahasa Indonesia (serta masyarakat penggunanya) masih aktif, dinamis. Hal-hal baru yang terjadi dalam bahasa Indonesia menjadi tanda bahwa bahasa yang katanya dalam krisis akibat serangan bahasa asing (baca: Inggris) ini masih memiliki kemampuan untuk mengembangkan bentuknya. Dia tidaklah pasif. Menyerah begitu saja pada bentuk-bentuk yang selama ini sudah ada, tanpa adanya pembaruan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan di dalam kepala saya adalah coba menerka arti dari bentuk “se- itu”. Mengingat-ingat beberapa penggunaan bentuk tersebut dalam percakapan yang saya dengar, sebuah dugaan muncul. Bentuk “se- itu” menjadi pengganti dari kata banget, sangat, amat, nian, sungguh, sekali, dan lainnya.

“Emang kantornya bagus banget, ya?”

“Dia tuh, orangnya repot. Sangat repot.”

Tak merasa puas hanya sampai di situ, dan karena memang otak saya sedang ngaggur, seperti biasanya, dugaan yang muncul disambung dengan pertanyaan lainnya—yang kemudian berujung pada dugaan berikutnya.

—-

Millennials. Generasi masa kini. Generasi yang katanya sangat bergantung pada teknologi, yang berujung pada meningkatnya tingkat kemalesan. Itu katanya. Kata siapa? Saya tidak tahu. Karena, kalau melihat dari kejadian sehari-hari, mereka yang disebut millennials itu tidaklah semalas yang dikira. Contohnya yang bentuk “se- itu” tadi. Alih-alih mempertahankan bentuk yang sudah ada, mereka malah memilih menggunakan kreasi sendiri. Mungkin ini bisa juga disebut sebagai bentuk ‘dobrakan’ yang mereka lakukan terhadap nilai-nilai yang dikembangkan oleh generasi sebelumnya.

Mereka tidak malas. Mereka kreatif. Mereka aktif mencari dan mengembangkan identitas diri. Dan, itu merupakan hal yang positif. Ya, menurut saya, sih. Karena, itu menunjukkan bahwa masyarakat negeri ini, terutama yang disebut sebagai generasi millennials, adalah masyarakat yang dinamis. Bersamanya kebudayaan pun menjadi terus bergulir dan berkembang. Tidak perlu mempermasalahkan arah perkembangan itu, karena bukankah kebudayaan menjadi bentuk yang dikreasikan oleh masyarakat suatu budaya? Kalau memang budaya masyarakat ini berkembang ke arah yang disebut “manja”, “malas”, seperti yang biasa dilekatkan pada generasi millennials, ya, sudahlah. Memang ke arah itulah kreasi budaya yang dihasilkan.

Yang jadi masalah kalau kemudian kreasi baru yang dikembangkan malah menyingkirkan/menghilangkan/membunuh unsur budaya lainnya. Kalau penggunaan bentuk “se- itu” menggantikan fungsi banget, sangat, amat, nian, sungguh, sekali, dan lainnya, lalu bagaimana dengan nasib kata-kata itu?

—-

Suatu hari, seorang teman bercerita tentang kejadian yang dialaminya malam sebelumnya. Usai dari kantor, teman dan istrinya mampir untuk membeli makanan dalam perjalanan pulang. Beruntung bagi mereka. Meski malam telah larut, menu yang diinginkan masih tersedia. Tapi, tidak dengan wanita remaja yang datang kemudian. Berniat memesan menu yang sama, wanita remaja ini harus kecewa karena sang penjual menjawab, “Maaf, Mbak. Sudah habis.” Kejadian menarik bagi teman saya, dan juga saya, adalah yang terjadi setelah jawaban itu diberikan.

Usai mendengar jawaban dari sang penjual, wanita remaja itu berbalik arah, melangkah keluar dari tempat makan tersebut. Belum sampai keluar dari area rumah makan, wanita remaja tersebut kembali berbalik arah menghampiri penjual. “Habis banget, ya?” tanyanya meyakinkan. Sang penjual memberi senyum sambil menjawab, “Ini yang terakhir dipesan sama Mas ini.”

Menarik karena (1) wanita remaja ini tidak kenal menyerah. Militansinya tinggi. (2) Karena jawaban “habis” tidak cukup baginya. Dia masih perlu meyakinkan dengan pertanyaan “Habis banget?”

Membahas kejadian tersebut, dengan sedikit guyonan yang mungkin terdengar satire, sebuah simpulan mengemuka. “Mungkin buat anak sekarang, tuh, beda antara “habis” dengan “habis banget”. Kalau “habis”, tuh, mungkin dianggap enggak bisa lagi menu yang komplit. Nah, kalau “habis banget” baru emang bener-bener habis,” jelas teman saya diakhiri gelak tawa. Mungkin saja seperti itu. Toh, bukankah memang seharusnya segala sesuatu harus benar-benar dipastikan. Bahkan, kalau perlu, setelah mendengar jawaban kedua dari sang penjual, wanita remaja itu mengajukan pertanyaan pamungkas. “Emangnya sehabis itu, ya, Bang?” Dan setelahnya, bukan senyum lagi yang disajikan oleh sang penjual, melainkan kompor menyala yang melayang ke arah wanita remaja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s