Dunia yang Utuh

la_la_land_ver2_xxlg
La La Land

Di antara sekian peristiwa yang terjadi di tahun 2016, mungkin salah satu yang paling menyita perhatian adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Dua hal. Pertama adalah karena sosok fenomenal yang terpilih menjadi, dan kedua, pemimpin di negara adikuasa. Tak heran jika kemudian masyarakat dunia begitu menyoroti kejadian ini. Sebagai presiden, bukan hanya rakyat Amerika Serikat yang akan ‘merasakan’ tindak tanduk Trump, tapi juga masyarakat dunia. Tapi, ya, sudahlah. Pengusaha kaya raya itu sudah terpilih.

Mengikuti berita-berita tentang kampanye Trump, sebelum akhirnya dia terpilih sebagai presiden, ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya. Beberapa kali berganti campaign manager, cara berkomunikasi yang dilakukan oleh kandidat ini tetap sama: Let Trump be Trump. Bukankah itu konyol? pikir saya dalam hati. Trump merupakan sosok yang fenomenal. Tidak biasa. Cara berkomunikasi, kata-kata yang digunakan, pemikiran yang disampaikan bukanlah sesuatu yang sulit diterima. Sering berujung pada kontroversi. Toh, itu tentunya sudah diketahui oleh para anggota tim pendukungnya, terutama orang yang ditunjuk menjadi campaign manager. Dengan kenyataan seperti itu, bukankah akan menjadi blunder jika membiarkan Trump berkomunikasi tanpa adanya ‘penyaring’?

Ternyata, pemikiran saya salah. Sebaliknya, sepertinya itu menjadi salah satu ‘daya tarik’ sang kandidat. Dia tidak perlu tampil ‘manis’ untuk menarik simpati masyarakat Amerika Serikat. Dia cukup menampilkan dirinya, seutuhnya, apa adanya. Mengenai kontroversi yang kemudian muncul, biarkan saja. Bukankah setiap manusia terlahir dengan keunikan masing-masing?

Mungkin ini saat dimulainya pandangan baru. Pandangan bahwa sosok pemimpin tidak lagi seperti stereotipe yang lalu-lalu. Pemimpin bukanlah lagi sosok berwibawa dengan rambut belah pinggir yang tersisir rapi dengan minyak yang selalu membuat warna hitamnya berkilau setiap saat—bahkan hingga membuat jidat terlihat seperti cermin. Bukan lagi sosok berkacamata frame emas dengan gaya bicara yang penuh kesabaran dan seakan-akan dirinya sudah dipenuhi kebijaksanaan yang maha luas dan mendalam. Yang dalam setiap kali penampilannya tak pernah lupa untuk menunjukkan sikap mengayomi. Masyarakat Amerika Serikat sudah jengah dengan sosok yang seperti itu. Mungkin juga dengan masyarakat lainnya di dunia ini. Yang diperlukan adalah pemimpin yang berani menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Yang tidak hanya bisa berjanji, mengundang tumbuhnya harapan, tapi kemudian harus pupus karena janji tidak pernah terwujud.

Bukan lagi sosok yang ‘cari aman’ demi menjaga ketenangan. Justru, sosok kontroversi yang berani menunjukkan cara kepemimpinan dirinya. Sebelum Trump, terlebih dulu muncul Rodrigo Duterte. Kontroversi? Lebih dari 6.000 korban meninggal sejak Presiden Filipina ini mengumandangkan sikap perang terhadap narkotika. Dan, sikap perang terhadap narkotika itulah yang menarik perhatian masyarakat Filipina untuk memilih dirinya—walaupun sebelumnya dia hanya dianggap sebagai kandidat lemah.

Trump bukan sosok sempurna. Banyak kekurangannya. Itu sudah pasti. Toh, sekaya apapun dirinya sebagai pengusaha, kegagalan ternyata kerap datang di sepanjang kariernya. Sejak menjadi pengusaha, kontroversi sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Dan ketika mencalonkan diri sebagai presiden, kontroversi masih juga tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Tidak ada yang berubah. Trump tetap menjadi Trump.

Dan dengan segala kekurangan yang ada di dirinya, apakah itu menjadi alasan untuk menggugat kemenangannya?

2016 menjadi akhir dari pandangan lama, sementara 2017 menjadi awal dari pandangan baru—sepertinya. Tidak hanya Trump yang meraih ‘kemenangan’ spektakuler. Ada pula La La Land yang juga menjadi fenomena. Memecahkan rekor sebagai film yang paling banyak menerima penghargaan di ajang Golde Globe 2017, selanjutnya La La Land menyamai rekor sebagai film yang meraih nominasi paling banyak dalam Oscar 2017. Yang kemudian menjadi pertanyaan, dengan begitu positif tanggapan yang diberikan, apakah film ini begitu sempurna? Tidak, menurut saya.

Bukan bermaksud bersikap angkuh, berlagak layaknya kritikus ternama, atau menjadi orang yang paling paham tentang sinematografi. Sama sekali tidak. Saya sekadar penikmat film. Menghabiskan waktu dengan menonton cerita yang tersaji di layar kaca. Tak ada latar belakang sinematografi, apalagi memiliki kecakapan pengetahuan layaknya para juri ajang penghargaan ternama. Saya hanya memberikan pendapat sebagai penikmat. Dan sebagai penikmat, yang saya lihat dari La La Land adalah ketidaksempurnaan—dalam arti positif dan berujung pada kekaguman.

Dengan jenjang karier yang cukup panjang, bukanlah hal baru bagi Ryan Gosling untuk melakukan adegan ciuman. Terlebih, lawan mainnya di film ini tidaklah lagi ‘baru’ baginya. Sebelum La La Land, dia sudah beberapa kali beradu akting dengan Emma Stone. Yang membuat saya heran, kenapa bibir aktor tampan ini terlihat kaku di adegan ciuman pertama di film ini? Perintilan tak penting, memang. Tapi sialnya, khayalan saya melayang ketika melihat adegan itu. Memperhatikan bibir indah Emma Stone, yang kemudian terpancing untuk membayangkan rasa ketika benar-benar merasakan sentuhan bibir indahnya, tapi, kok, ya, ketika berciuman, lawan mainnya kaku. Tapi, ya, mungkin karena ciuman pertama. Masih ragu-ragu. Masih malu. Wajar saja.

Yang tidak wajar adalah gambar yang terdistorsi. Perhatikan ketika adegan-adegan yang menampilkan gambar panoramic. Jalan, bangunan, mobil, semua benda yang ada di sisi kiri-kanan akan terlihat meleyot. Buat orang dengan kamera seadanya seperti saya ini, itu merupakan hal yang biasa. Toh, kamera seadanya, yang harganya dapat dikatakan murah untuk standar kamera hobi, dan kemampuannya sudah sangat tidak mumpuni akibat usia dan sering kali menerima benturan. Tapi, untuk Hollywood, bukankah gambar seperti itu sangat mudah diatasi? Gunakan lensa dengan kemampuan menghilangkan distorsi dan masalah pun akan terselesaikan. Terlebih, cerita yang disajikan terjadi di masa sekarang. Prius tentu belum muncul di kepala desainer Toyota di tahun 1950-60’an.

Mencari-cari kekurangan memang mudah. Mengungkapkan sebagai kelemahan dan berujung pada pandangan negatif. Siapapun bisa memberikan pandangan negatif. Terlebih ketika menjadi pihak yang terlibat dalam pertarungan. Mudah saja berujar cara pandang kandidat lain adalah hal yang keliru. Menjatuhkan sejatuh-jatuhnya tanpa coba memahami alasan di balik cara pandang itu. Kembali ke La La Land, dengan memasukkan sedikit pandangan yang mungkin mengada-ada—dan sulit untuk dipertanggungjawabkan, mudah untuk menghasut agar masyarakat tidak menonton film ini. Apakah bagi seorang pria topi kesayangan lebih penting dibanding pasangan, karenanya ketika ada orang yang mengembalikan topi yang terjatuh maka orang itu kemudian berhak berdansa dengan pasangan? Bagi perempuan, apakah tidak tersinggung dengan adegan seperti itu?

Celah bisa dicari, atau bahkan dibuat-buat. Tapi, bagi saya, tetap saja, pengalaman secara keseluruhan tetap menjadi yang utama. Dengan segala ketidaksempurnaan pada film ini, toh, nyatanya saya menikmatinya. Terlebih pada bagian akhir, bagian yang bisa dibilang “seandainya”. Seandainya saat itu langsung mencium wanita cantik yang menegur di restoran, seandainya saat itu tidak menanggapi obrolan teman lama yang menawarkan pekerjaan, seandainya saat itu tetap tinggal bersama dengan pasangan dan tidak egois mengejar karier, seandainya… seandainya… seandainya…. Pada kenyataannya, wanita cantik tidak mesti berpasangan dengan pria tampan (dan rasa optimis dalam diri saya pun membuncah ketika mengetikkan kalimat barusan).

Begitu pula dengan Trump. Biarkan saja. Dia sudah terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Kalau memang kebijakan produk dalam negeri benar-benar dijalankan, sehingga produsen luar Amerika seperti Toyota tidak bisa lagi menjual mobil ke Negeri Paman Sam, ya, sudahlah. Tak apa. Toh, jadinya suplai kendaraan ke Indonesia bisa menjadi besar. Harga mobil jadi lebih murah. Kalau kemudian jalan-jalan menjadi macet parah, ya, nikmati saja. Siapa tahu di mobil depan ada Emma Stone. Kan, bisa diajak dansa. Hahaha….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s