2 Film, 1½ Cerita, 1 Aktris

untitled-1
Thing to Come – Elle

Salah satu hal yang menjadi kelemahan saya adalah daya ingat. Tidak semua ingatan, memang, tapi jika itu berhubungan dengan nama (orang, tempat, gedung, dsb) dan navigasi, saya bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan rujukan. Lebih tepatnya, sangat tidak tepat. Sering kali saya harus berkelit ketika bertemu dengan seseorang yang saya yakin pernah saya temui tapi pada pertemuan itu saya lupa akan namanya. Awalnya, ketika menghadapi kondisi ini, saya sedikit kikuk. Saya tahu, tidak mengingat nama orang yang pernah berkenalan dengan kita merupakan suatu hal yang tidak santun. Tidak sepatutnya. Karenanya, demi menjaga hubungan baik, serta perasaan orang yang saya hadapi, saya pun coba mencari-cari cara mengatasinya. Mulai dari kikuk hingga akhirnya saya menjadi agak terbiasa, sambil tetap berusaha tidak melupakan nama orang-orang yang pernah berkenalan dengan saya.

Dan kalau berkenalan langsung saja punya potensi besar untuk terhapus dalam ingatan saya, lebih parah jika itu adalah nama-nama yang saya tahu melalui indra penglihatan. “Itu, tuh, yang pernah main film tentang cinta-cintaan. Yang tokoh prianya mati gara-gara kesandung pas mau ngejar pacarnya,” deskripsi surealis yang menjadi referensi untuk referensi tokoh yang saya maksud. Beruntung ada teknologi canggih dalam genggaman yang sangat membantu saya dalam mengatasi masalah akut yang menjangkiti sedari dulu.

Di akhir pekan lalu, yang juga menjadi akhir tahun, beberapa file film sudah saya siapkan sebagai teman menghabiskan waktu luang. Pagi hari, selesai sarapan, laptop dinyalakan, file dibuka, dan film pun mulai tayang. Yang pertama berjudul Things to Come. “Ini tentang apa, ya?” suara dalam hati menuntut jawaban. Kebiasaan buruk lainnya: tak pernah mengingat cerita dari film-film yang diunduh. Aplikasi IMDB yang terpasang di smartphone pun menjadi kunci jawaban. “Ooohhh….” Rasa ingin tahu terpuaskan, saya pun tenang menyaksikan sajian di layar laptop.

Cerita yang cukup menarik. Perjalanan hidup yang tak mudah. Hanya satu pertanyaan yang muncul di dalam benak, “Kok, bisa, ya, hanya dalam beberapa bulan, seseorang yang menjadi tuna wisma lalu membeli lahan peternakan yang begitu indah dan hidup nyaman tanpa bersusah payah layaknya kehidupan peternak?” Tapi, ya, mungkin karena film ini terjadi di Prancis. Di negara maju, segala hal mungkin jadi lebih maju dibanding dengan yang dialami masyarakat di negara berkembang.

Setelah diselang beberapa tayangan, pilihan kembali jatuh ke film Prancis lainnya, Elle. Tak seperti saat menonton Things to Come, saat film mulai tayang, tak ada rasa penasaran tentang cerita yang akan diangkat dalam film ini. Saya tak menyibukkan diri dengan mencari informasi melalui aplikasi di smartphone. Tapi, hanya sebentar. Ketika layar menayangkan pemeran utama dalam film, rasa penasaran pun muncul. “Lho, itu, kan, yang juga jadi pemeran utama dalam film tadi?” Tangan saya pun mencari smartphone dan kembali membuka aplikasi IMDB. Benar. Dua film Prancis yang saya tonton hari ini diperankan oleh aktris yang sama, Isabelle Huppert.

“Hmm… kok, kayaknya familiar, ya?” saya mulai menguji kemampuan daya ingat otak saya. Tak berhasil. Saya biarkan rasa penasaran. “Nanti saja, setelah selesai menonton.”

Dan, benar saja. Usai menonton film tersebut, rasa familiar atas nama artis itu pun terbukti. Saya sebelumnya sudah menonton beberapa film yang dibintanginya. “Pantas saja.” Tapi, bukan itu yang menjadi alasan saya membuat tulisan ini.

Hari itu, bukan saja nama Isabelle Hupert yang terasa familiar di otak saya. Adalah cerita yang disajikan dalam kedua film itu serta peran yang dimainkan oleh sang artis yang membuat perasaan familiar begitu kuat menguasai pikiran saya. Saya sadar dengan kemampuan daya ingat saya yang teramat rendah. Begitu saja mempercayai bahwa cerita dan peran yang dimainkan oleh Isabelle di kedua film itu sama saja seperti mempercayakan nasib pada pilot yang bahkan tidak mampu berjalan dengan lurus di gerbang pemeriksaan. File Things to Come kembali saya buka. Screening cepat pun saya lakukan. Hasilnya, ternyata kali ini daya ingat saya tidak salah.

Ibu yang meninggal, wanita kesepian yang ditinggal suami, fase kehidupan yang sulit, pencarian ‘cinta’ untuk mengisi kekosongan hidup, serta kucing hitam sebagai teman. Saya seperti diajak menonton sebuah cerita yang disajikan dalam dua film.

Tidak benar-benar sama, memang, karena pada film yang pertama Isabelle tidak diperkosa dan tidak mempertontonkan payudaranya. Tapi, secara garis besar, ini menurut saya, lho, ya, keduanya menyajikan cerita yang sungguh mirip. Penampilan yang ditampilkan sang aktris pun, akhirnya, menjadi mirip. Bukan jelek atau akting yang ditampilkan buruk, karena, toh, dari penampilannya di kedua film ini Isabelle menjadi nominasi Aktris Terbaik dalam berbagai penghargaan dan beberapa di antaranya berhasil dimenangkannya. Hanya saja, yang menjadi ganjalan adalah bahwa daya ingat saya ternyata tidak salah. Bahwa perasaan menonton dua film dengan cerita yang mirip benar adanya. Di hari itu, saya seperti sedang merasa déjà vu.

Mungkin saja karena jarak antara menonton Things to Come dengan Elle terlalu dekat, dalam rentang yang masih dapat diantisipasi oleh daya ingat saya. Karenanya, saya masih dibayangi ingatan pada akting sang aktris di film sebelumnya selagi menonton film yang kedua.

Sebuah pelajaran bagi saya. Seharusnya cermat menentukan daftar film jika ingin melakukan marathon menonton film. Dan tentunya, mencari tahu cerita, serta para pemain, dari film-film yang akan saya tonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s