Angan-angan dalam Kenangan

Suara-suara Mati (Teater Populer)

Kabar yang bersifat ajakan itu datang dari seorang teman, “Teater Populer mau mentas di Salihara. Mau nonton, ga?” Membacanya, membuat saya agak terkejut. ‘Teater Populer reunian lagi?’ begitu pikir saya dalam hati. Tak menunggu lama, saya mengiyakan ajakan tersebut. 

Lahir di era ‘80-an, di keluarga sederhana yang tinggal di luar Jakarta, dunia seni terasa asing bagi saya. Alunan musik hanya mengisi rumah di akhir pekan, ketika Bapak tidak bekerja dan mengisi waktu liburnya dengan membuat aneka barang yang menurutnya diperlukan. Itu pun sebatas musisi kegemaran Bapak. Berganti antara Waldjinah dengan Koes Plus. Musik yang lebih bervariasi  baru akan terjadi kalau Bapak mendengarkan radio–itu pun sangat jarang terjadi di masa kecil saya. 

Mungkin kalau saya tinggal bersama Kakek dari pihak Ibu, dunia seni akan terasa lebih akrab. Pensiunan Angkatan Darat yang kemudian menjadi petani ini memiliki pekerjaan sampingan sebagai dalang di kampung. Setidaknya saya mungkin bisa belajar tata bahasa Jawa seperti yang Kakek ajarkan ke Ibu. 
Baru pada SMA saya tahu yang namanya teater–itu pun dalam pandangan negatif, bukan sebagai sesuatu yang menarik. Pada saat kuliahlah saya baru dapat menikmati pertunjukan teater serta mengenal sedikit hal tentang seni pertunjukan ini–termasuk mengenai Teater Populer, orang-orang yang terlibat di dalamnya, serta perjalanan dan pengaruh mereka di dunia teater Tanah Air. Itu terjadi di awal era 2000-an, jauh setelah Teater Populer vakum. Yang saya ‘nikmati’ pun sekadar romansa. Cerita-cerita kebesaran yang seperti legenda. Tanpa bisa merasakan menjadi bagian di dalamnya. 

Namun ternyata, nasib baik menghampiri. Menjelang akhir tahun 2004, Teater Populer (yang telah ditinggal oleh sang pendiri) kembali membuat pertunjukan. Naskah yang dibawakan berjudul Pakaian dan Kepalsuan. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan terulang lagi ini. Terlebih, saya sudah pernah membaca naskah saduran Achdiat K. Mihardja dari cerita The Man with the Green Necktie karya Averchenko tersebut. 

Sepanjang pertunjukan, saya dibuat kagum. Sangat text book, memang. Sangat minim improvisasi yang dilakukan. Hampir plek-plekan seperti yang tertera pada naskah. Tapi, bukan berarti pertunjukan yang membosankan. Jauh dari itu. Para pemain justru terlihat sangat natural. Cerita dibawakan seperti kejadian sehari-hari. Panggung hanya menjadi ‘tempat pemindahan’. Satu demi satu adegan mengalir dengan sangat lancar. Kebetulan-kebetulan yang tertera di naskah disajikan secara natural–tanpa sedikit pun kesan dipaksakan. Saya pun tak henti-hentinya tertawa menyaksikan kejadian-kejadian lucu yang ditampilkan. Benar-benar pertunjukan realis. Tak heran jika di masa lalu mereka menjadi salah satu kelompol teater yang sangat berpengaruh. 

Romansa itu yang kemudian mengisi pikiran saya setelah mendengar kabar tentang Teater Populer akan kembali beraksi. Romansa yang begitu kuat mempengaruhi diri saya, sampai-sampai tak peduli dengan naskah yang akan dibawakan atau siapa saja yang akan berperan. Semakin dekat dengan hari pertunjukan, rasa tak sabar semakin menguasai diri. Bahkan, setelah membaca keterangan tentang pertunjukan, termasuk para pemain baru yang akan berperan, tak menyurutkan rasa tak sabar saya. Ini Teater Populer. Kelompok teater yang pernah membuat saya tak berhenti tertawa dan terkagum-kagum di sepanjang pertunjukan. 
Sayangnya… saya salah. Benar-benar salah. Dan, ini sepenuhnya kesalahan saya. Saya begitu lemah. Membiarkan diri terlena dalam romansa. 

Every performance is an art.” Begitu yang dibilang seorang dosen di masa kuliah dulu. Setiap pertunjukan memiliki ‘nilai seni’-nya tersendiri. Tak bisa menghakimi pertunjukan yang satu lebih baik dibanding yang lainnya. Masing-masing memiliki keistimewaan. Itu yang seharusnya saya ingat. 

Realisme itu sudah berubah. Tidak ada lagi restoran–atau dalam pertunjukan ini rumah–yang dipindahkan ke atas panggung. Rumah itu tanpa dinding. Tanpa pintu. Tanpa atap. Kain-kain putih, yang saya kira menjadi dinding, ternyata lebih digunakan sebagai ‘screen’ proyeksi video. 

Tidak ada lagi kelompok pemusik jalanan yang bermain santai di atas becak. Kali ini, musik dihasilkan oleh ‘orang-orang yang tak terlihat’. Sepanjang pertunjukan, ada begitu banyak simbol yang ditampilkan–yang bagi saya terlalu sulit untuk dipahami. Kecuali, ketika adegan mesra Istri-Sahabat yang berujung pada persenggamaan–itupun kalau saya tidak salah menafsirkan. 

Realita lainnya yang dihadapi adalah para pemain muda yang ada di atas panggung. Hanya Slamet Rahardjo pemain senior yang terlibat–sekaligus menjadi sutradara. Bagi saya, ini seperti melihat aksi kakek-cucu tanpa kehadiran ayah sebagai perantara, jembatan generasi. Bukan salah para pemain muda ketika mereka tak mampu menampilkan kualitas seperti sang kakek. Toh, realitanya sang kakek (mungkin) sudah berakting sebelum mereka lahir. Bukan pula salah sang kakek jika tak mampu menurunkan kualitas peran. Berpuluh tahun menjalani hidup sebagai seniman, kemampuan itu sudah begitu melekat. Yang ditahu, ya, seperti itulah berperan. 

Namun, bukankah ini yang disebut regenerasi? Terlambat, memang, karena jarak generasi yang baru begitu jauh. Generasi terdahulu sudah memiliku cucu, sementara anak pergi menghilang. Tapi, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Dan karena sudah terlambat, harus berlari untuk mengejarnya. Sementara… kakek bukan lagi termasuk golongan usia yang masih muda. Semoga saja masih ada tenaga, atau ada sanak saudara yang berkenan ikut terlibat. 

Dan bagi saya, saya harus melupakan romansa. Walaupun perkenalanan saya dengan Teater Populer berawal dari romansa, saya harus sadar bahwa yang saya jalani, hadapi, saksikan adalah realita. Panggung dan dunia yang sebenarnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s