Alah… Biasa

the-age-of-terror
The Age of Terror

The biggest thing you have to fear is not a terrorist or a shooter or a deadly home invasion. You are the biggest threat to your own safety.”– Neil Strauss*

Ketika masih menjadi siswa, gambaran tentang sakit gigi merupakan hal yang biasa bagi saya. Ketika ada yang bilang, “Jangan deket-deket, deh. Dia, kan, lagi sakit gigi,” saya hanya terbengong. Kenapa tidak boleh mendekat? Kan, yang sakit gigi, bukan penyakit yang dapat menular melalui udara, seperti flu, tapi, kok, tidak disarankan untuk tidak mendekat? Meski tidak memahami yang sebenarnya terjadi, saya lebih memilih mencari ‘jalan aman’. Tidak perlu pembuktian.

Sampai kemudian, ketika menjadi mahasiswa, untuk pertama kalinya saya mengalami pembuktian terhadap kebingungan saya itu. Bukan menjadi korban dari orang yang sakit gigi, tapi sayalah yang menjadi orang yang mengalami sakit gigi. Hasil rontgen memang menunjukkan keempat gigi graham saya sedang tumbuh – yang memang diiringi rasa sakit yang sungguh terasa. Tapi, selain itu, dokter gigi yang memeriksa juga menemukan beberapa gigi saya telah bolong – yang semakin menambah rasa sakit yang saya alami. Saking sakitnya, saya sampai harus memutuskan kembali ke kost meski sudah duduk di dalam kelas dan dosen hampir masuk ke dalam kelas.

Gila? Hampir saja. Setelah kejadian itu, saya paham alasan munculnya saran untuk tidak dekat-dekat dengan orang yang sedang sakit gigi. Meski Meggy Z. lebih memilih sakit gigi dibanding sakit hati, saya memilih sebaliknya – tapi kalau memungkinkan untuk tidak memilih di antara keduanya, merupakan sebuah anugerah. Bagi yang pernah merasakan sakit gigi, tentu tahu pengalaman yang saya rasakan. Rasa sakit yang membuat logika berada di ambang batas. Jangankan untuk berada di dalam kelas, mendengarkan materi yang disampaikan dosen, dan mengungkapkan pendapat atau mengerjakan tugas yang diberikan (yang memerlukan usaha berpikir), untuk tidur dengan nyaman pun sangat sulit. (Terbayang, kan, jika pada suatu malam ada seseorang yang menelefon bertanya tentang teori penelitian sementara saya sedang ‘jungkir balik’ di atas kasur menahan rasa sakit gigi, padahal sebelumnya sudah saya bilang kalau sedang berjuang menahan rasa sakit.)

Bisa karena Terbiasa

Gigi berlubang yang kemudian menyebabkan rasa sakit yang luar biasa tidaklah terjadi dengan tiba-tiba. Gigi bisa patah atau copot karena benturan yang keras, tapi terbentuknya lubang tidaklah terjadi dalam satu kesempatan. Pun begitu yang terjadi pada saya. Semua berawal dari rasa malas yang muncul. “Boleh kali, ya, sesekali enggak sikat gigi.” Sesekali yang kemudian terulang, terulang, terulang, dan terusss berulang. Dari biji cabai yang terselip di antara gigi, atau serpihan makanan yang menempel pada sela-sela gigi, sampai sebutir nasi yang terperangkap di dalam lubang gigi. Semua terjadi dalam proses yang berjalan perlahan. Membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit dan dalam proses yang senyap. Sehingga, saya yang setiap saat ada ketika proses itu berlangsung tidak menyadarinya. Saya baru tersadar ketika hasil dari proses itu menunjukkan eksistensinya: rasa sakit yang seperti membuat saya menjadi binasa.

Salah siapa? Siapa lagi kalau bukan saya sendiri. Wong ini gigi saya. Saya yang menggunakannya. Saya yang setiap saat memanfaatkan fungsinya. Dan, saya pula yang bertanggung jawab memeliharanya. Jika sampai gigi ‘berulah’, ya, itu karena saya yang tidak bertanggung jawab. Tanggung jawab itu pula yang membuat di tahun ini saya cukup rajin ke klinik gigi. Mulai dari perawatan untuk menambal gigi yang bolong, mencabut gigi yang sudah tidak mungkin dirawat, serta membersihkan karang-karang. Cukup menyita waktu, tapi, ya, memang harus dilakukan. Toh, ini akibat dari ulang saya sendiri.

Mengalami beberapa kali serangan sakit gigi ternyata juga berpengaruh terhadap cara pandang saya. Segala sesuatu butuh proses. Jangan berharap untuk terjadi begitu saja. ingin sehat? Ya, olahraga yang rutin. Ingin tubuh yang ideal? Ya, jaga pola makan. Ingin menurunkan berat badan? Ya, jangan malas gerak. Rasa percaya saya terhadap yang ‘instan’ menurun drastis. Wong mie instan saja memerlukan proses sebelum akhirnya disajian di hadapan kita.

Ini tentang perilaku, kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Dan karena saya tidak mau mengalami rasa sakit yang luar biasa di masa depan, saya pun harus mengubah perilaku. Kalaupun perubahan perilaku itu sudah terlambat untuk menghindari tubuh saya dari serangan rasa sakit, saya yakin setidaknya usaha itu dapat menunda atau meringankan rasa sakit yang akan menyerang. Amin….

 

*“The Age of Terror”, Rolling Stone, 20 Oktober 2016
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s