MEllennials

nerve
Nerve

“The millennial generation is the generation of child born between 1982 and 2002.”

Begitu batasan yang diberikan sebuah sumber mengenai generasi yang saat ini sedang menjadi topik hangat pembicaraan: The Millennials. Generasi yang sedang bersiap menggantikan generasi sebelumnya, X Generation. Bukan hal yang istimewa, tentunya, tentang proses pergantian tersebut. Sudah alamiah. Proses yang wajar. Dari bayi, menjadi balita, remaja, dewasa, orangtua, mbah, dan meninggal. Generasi sekarang digantikan dengan generasi mendatang. Generasi yang digantikan harus rela ‘kursi’-nya ditempati oleh orang lain, sementara yang menggantikan pun harus mempersiap diri agar bisa meneruskan dengan baik – bahkan lebih baik. Dan, di sinilah letak permasalahan yang banyak menjadi pembicaraan.

Berdasar batasan rentang waktu yang dikutip di awal, sebagian dari The Millennials sudah memasuki dunia profesional, sisanya sedang menikmati masa-masa perkuliahan. Ada yang sudah berkeluarga dan memiliki keturunan, sementara yang lain sedang menikmati masa-masa kebebasan. Satu hal yang menjadi kesamaan dari mereka, ini menurut beberapa sumber yang saya baca, adalah ikatan (alih-alih menyatakan ketergantungan) yang sangat kuat antara generasi ini dengan teknologi, terutama internet. Tumbuh menjadi remaja berbarengan dengan perkembangan pesat di bidang teknologi informasi (yang dikembangkan X Generation, kehidupan yang dijalani The Millennials menjadi ‘begitu muda’. Seperti dimanjakan dengan teknologi, segala hal yang diperlukan, diinginkan didapat hanya dengan menggerak-gerakkan jemari. Mengetikkan jenis hal yang diinginkan, menggeser-geser layar monitor demi mendapatkan pilihan terbarik, dan tekan tombol “yes” sebagai konfirmasi hal tersebut memanglah yang diinginkan. Tak selang berapa lama, yang diinginkan pun akan tiba.

The Millennials tak perlu lagi mengalami hal-hal menyulitkan seperti yang dialami si X. Misalnya, tak perlu berkompromi dengan teriakan orangtua yang menyuruh menyudahi percakapan di telefon. Atau, lebih buruk, tindakan menguping percakapan melalui pesawat telefon yang dipasang pararel. Tidak perlu juga harus khawatir dengan tagihan telefon yang membengkak. Cukup cari area yang menyediakan fasilitas free wi-fi, kebutuhan untuk berkomunikasi pun terpenuhi. Tak perlu menghadiri berbagai acara untuk dapat memperluas jaringan. Cukup aktif di berbagai aplikasi media sosial yang tersedia, pertemanan dengan pengguna media sosial di seluruh dunia pun terbuka lebar. Tak perlu menjuarai kompetisi atau ajang pencarian bakat untuk menjadi terkenal. Cukup dibutuhkan kerajinan untuk mengunggah foto-foto menarik (dengan sedikit ‘taste’ fotografi yang referensinya bertebaran di internet) dan popularitas pun dapat diraih. Mendapatkan penghasilan? Tak perlu menggunakan pakaian formal yang membuat sesak dan bergulat dengan kemacetan. Bahkan dengan handphone pun bisa diraih pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan membeli gadget dan fashion, serta tentunya berlibur ke tempat-tempat yang sedang ramai dibicarakan.

Dalam hal ini, The Millennials sudah sepatutnya berterima kasih kepada para X yang telah bersusah payah mengembangkan teknologi. Pengembangan yang dilakukan X telah begitu memudahkan kehidupan The Millennials. Dan jika fasilitas sudah ada, terlalu sayang untuk tidak dimanfaatkan. Lagipula, The Millennials merupakan kelompok yang sangat pandai memanfaatkan peluang, termasuk teknologi. Tapi sayangnya, kepandaian ini malah dinilai sebagai suatu hal yang buruk. Mengeksplorasi (yang lebih cenderung kepada mengekploitasi) perkembangan teknologi, The Millennials malah dianggap sebagai generasi yang sangat buruk, pemalas, tak punya harapan. Memperluas pertemanan (alih-alih meningkatkan popularitas) dengan menggunggah foto-foto diri kemudian malah disebut sebagai generasi yang egois (Me Me Me Generations). X menganggap The Millennials tidaklah siap untuk menjadi penerus mereka. Kepemimpinan The Millennials dianggap hanya akan membawa kehancuran. Hmmmm….

—-

Perbedaan cara pandang antar generasi sepertinya merupakan hal yang wajar. Tidak hanya sekarang. Di masa lalu, keadaan yang sama pun terjadi. Ketika Baby-boomers digantikan dengan X Generations, misalnya, pertentangan itu pun ada. Bahkan, mungkin saja pertentangan serupa sudah terjadi jauh sebelumnya. Ketika generasi sebelumnya masih mempertahankan cara hidup yang nomaden, sementara generasi sebelumnya mulai berpikir untuk menetap, membuka lahan, dan bercocok tanam.

Pandangan negatif, rasa pesimis, dari generasi terdahulu terhadap generasi yang menggantikan seperti hal yang lumrah terjadi. Memiliki pengalaman membuat generasi yang digantikan merasa memiliki kemampuan lebih dibanding generasi baru – dan menjadi pemicu timbulnya rasa pesimis. “Mampukah mereka setidaknya melakukan seperti yang sudah kami lakukan?”

Roda-Roda Gila, Gita Cinta dari SMA, Ali Topan Anak Jalanan, dan film-film lain pada masanya bisa menjadi referensi terhadap pertentangan yang terjadi di kala itu. Jika pernah menonton, atau setelah membaca tulisan ini kemudian timbul keinginan untuk menontonnya, perhatikan pandangan generasi Bapak-Ibu terhadap para remaja. Liar, tak kenal aturan, tahunya hanya bersenang-senang, tak bertanggung jawab, hanya ‘untuk saat ini’, tidak memikirkan masa depan. Beberapa dekade berlalu, dan sekarang seperti inilah keadaannya. Generasi yang dulu dipandang liar, tak kenal aturan, tahunya hanya bersenang-senang, tak bertanggung jawab, hanya ‘untuk saat ini, tidak memikirkan masa depan kini me-estapet-kan pandangan tersebut kepada The Millennials. Dan jika ternyata para X ‘berhasil’ menyanggah segala pandangan tersebut, adilkah jika kemudian masih berpandangan negatif, pesimis, terhadap The Millennials?

Dunia memang bukan tempat yang tepat untuk mencari keadilan. Bukan dunia namanya jika segala sesuatu berjalan dengan adil seadil-adilnya. Tapi setidaknya, karena para X pernah mengalami keadaan serupa, tidakkah seharusnya muncul kesadaran bahwa setiap generasi memiliki pandangan yang berbeda? Lagipula, yang membuat The Millennials menjadi ‘manja’ adalah hasil kreasi yang dibuat para X. Andai saja para X tidak begitu giat mengembangkan teknologi yang disebut dengan internet, yang ada saat ini bukanlah generasi yang menghabiskan waktu menatap layar handphone, memajang foto-foto diri di media sosial, atau begitu mengandalkan internet untuk segala keperluan. Keadaan tentunya akan berbeda. Alih-alih menggerak-gerakkan jemari di atas monitor handphone keluaran terkini, jemari indah The Millennials mungkin saja sibuk menunjuk ke sana-ke mari, seraya berkata, “Mbak, tolong belikan anu, dong”, “Bang, tolong carikan inu, dong”, dan sebagainya. #hidupmager

Advertisements

One thought on “MEllennials

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s