Dalam Bayang

the-age-of-terror
The Age of Terror

… when people are emotionally stirred by something, especially something they can vividly imagine, they will fear its outcome even if it is highly unlikely to happen.” – Neil Strauss*

Minggu menjelang malam. Matahari sudah terbenam. Lampu-lampu di terminal sudah menyala. Saya menaiki sebuah bus yang terparkir di bagian agan depan terminal. Kosong. Hanya saya seorang penumpang di dalam bus. Bangku di baris kedua di belakang supir menjadi pilihan. Ini bangku favorit saya. Jarak antara bangku yang saya duduki dengan bangku di depan agak renggang, sehingga ada cukup ruang bagi kaki saya yang lumayan panjang. Dan ketika akan turun, tidak terlalu sulit – meski dalam kondisi bus dipenuhi penumpang hingga berdiri bersesakan di selasar bagian tengah.

Minggu menjelang malam menjadi pilihan saya untuk berangkat dari rumah menuju kos. Lalu lintas sudah tidak terlalu padat dan saya masih bisa beristirahat cukup – baik ketika di rumah maupun nanti setelah tiba di kos. Paling, cukup berbekal bungkusan nasi serta lauk pauk jika nanti setelah tiba di kos lapar menyerang. Maklumlah, namanya juga anak kos. Peluang apapun yang dapat dimanfaatkan untuk menghemat uang saku hukumnya wajib untuk dimanfaatkan.

Mengisi waktu sambil menunggu bus berangkat, saya coba membaca buku dengan bantuan senter yang memang selalu ada di dalam tas ransel saya. Tak berapa lama, seorang pria masuk. Masuk ke dalam bus dengan pergerakan yang cukup cepat, pria ini menaruh sebuah kardus cokelat di belakang bangku supir. Sekadar menaruh, lalu meninggalkannya. Pria itu berjalan ke luar bus dan menghilang di tengah keramaian terminal.

Pikiran saya mulai tak tenang. “Siapa tadi?”, “Apa isi kardus itu?”, “Akankah dia kembali?”, dan berbagai pertanyaan lain seketika muncul di dalam kepala saya. Coba menangkan diri, saya coba mengajukan jawaban, “Mungkin ke warung untuk membeli minuman atau permen.

Beberapa halaman sudah terbaca, beberapa orang penumpang mulai duduk di bangku-bangku di dalam bus, tapi pria tadi belum juga kembali. Tiga buah bangku di belakang bangku supir masih kosong, belum ada yang mengisi. Mata saya semakin menatap curiga pada kardus cokelat yang ditinggalkan begitu saja.

Wah, ini enggak lucu.” Buku dan senter saya masukkan ke dalam tas. Saya bangkit, keluar dari deretan kursi, dan berjalan keluar dari bus. Langkah saya teruskan hingga jarak yang saya anggap aman. Di kursi tunggu terminal, saya duduk. Mengeluarkan bekal minuman lalu menyalakan rokok. Kepala saya masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seputar pria dan kotak cokelat.

Curiga? Tentu saja.

Saya adalah manusia yang terbentuk dari lingkungan dan perjalanan waktu. Semasa hidup, sebelum minggu malam tersebut, beberapa kejadian teror telah terjadi di negara ini. Menyebut beberapa, bom malam Natal, bom di Plaza Atrium Senen, Bom Bali 1, Bom JW Marriott, bom di depan Kedubes Australia, dan Bom Bali 2. Semua kejadian itu membentuk saya menjadi manusia yang harus berhati-hati terhadap segala sesuatu yang mencurigakan. Ratusan orang menjadi korban. Teror mengancam. Siapa saja, kapan saja, dan di mana saja – termasuk di dalam bus umum. “Enggak lucu kalau saya jadi korban. Sarjana saja belum.

Habis rokok sebatang, bus yang tadi saya naiki mulai melaju keluar dari terminal. Mata saya mengikuti laju bus itu. Dalam hati, terucap doa, “Semoga tidak terjadi apa-apa.” Saya lalu menaiki bus di belakang.

Sepanjang perjalanan, tidak ada kemacetan. Tidak ada kehebohan yang kerap terjadi jika suatu hal, semisal bom meledak, terjadi. Di keesokan hari, pun tidak ada berita mengenai bus yang menjadi target peledakan pelaku teror. Kecurigaan saya tidak terbukti. Menyesal? Sama sekali tidak.

Saya hanya coba menjaga keselamatan diri. Saya tidak mau mengambil risiko yang sebenarnya dapat dihindari. Lebih baik berkorban menunggu lebih lama di terminal dan tiba di kos lebih malam daripada menjadi korban. Kalaupun memang sudah suratan takdir saya untuk menjadi terkenal, menjadi korban teror bukanlah cara yang akan saya pilih. Masih banyak cara lain yang jauh lebih baik dari itu.

Parno? Siapa pula yang tidak akan merasa curiga terhadap pria dan kardus cokelat yang saya lihat di dalam bus. Berita-berita yang saya baca, dengar, lihat membentuk pola pikir saya. Setiap orang dengan perilaku tak biasa harus dicurgai. Tidak sekadar pria berjanggut dengan pakaian gamis atau semacamnya. Semua orang. Siapapun mereka. Tak peduli penampilan, tampang, atau segalanya. Ketika ada perilaku yang tak biasa, peringatan terhadap hal-hal berbahaya yang mungkin terjadi harus segera diaktifkan, meski tidak harus melakukan tindakan berlebihan.

Bertahan hidup sudah menjadi naluri alamiah manusia. Keselamatan harus dijaga. Tapi, tidak juga dilakukan dengan cara yang malah membuat teror baru. Jika saya berlari keluar sambil berteriak, “Ada bom! Ada bom!”, saya yakin banyak manusia yang ada di terminal pada malam itu akan ikut berlari ketakutan. Petugas keamanan akan kalang kabut. Berlari menuju saya, bertanya letak benda yang saya curigai sebagai bom, dan mungkin memeriksa benda yang dimaksud (atau menelefon pasukan Gegana). Setelahnya, ketika kardus cokelat yang saya curigai berisi bom ternyata hanya berisi bahan makanan, misalnya, semua orang pun akan mencaci saya. Berdalih terancam akan menjadi korban, saya malah menjadi pelaku teror. Dan, itu pun bukan cara yang akan saya pilih untuk menjadi terkenal.

*“The Age of Terror”, Rolling Stone, 20 Oktober 2016
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s