Di Ambang Logika

independence-day-resurgence
Independence Day: Resurgence

Kembali ke 11 tahun lalu, saya teringat kejadian suatu malam. Kejadian yang sampai saat ini, dan entah sampai kapan, masih teringat jelas dalam memori saya. 25 Mei 2005, AC Milan melawan Liverpool dalam final Liga Champions Eropa. Perhitungan head-to-head, AC Milan berada di level yang lebih baik dibanding lawannya. Dan, itulah yang terjadi di lapangan. Pertandingan baru berjalan satu menit, Paolo Maldini sudah membuat gol untuk AC Milan. Hernan Crespo meyakinkan keperkasaan mereka menjelang akhir babak pertama. Tidak hanya satu, tapi dua gol berhasil disarangkan oleh penyerang asal Argentina ini.

Saat itu, saya menyaksikan pertandingan bersama teman-teman, di ruang depan rumah kontrakan kami.

Saya masih ingat ledekan teman-teman melihat hasil pertandingan di babak pertama. Jujur saja, sebagai pendukung Liverpool, itu merupakan 45 menit yang sangat menyiksa bagi saya. Tak kuat lagi menahan rasa kecewa, saya pun beranjak ke ruang dalam – coba ‘melarikan diri’ dari kenyataan menyakitkan. Tapi kemudian, di luar dugaan, babak kedua menjadi ajang ‘keajaiban’ bagi The Kops. Dimulai dengan Steven Gerrard, lalu Vladimir Smicer, dan Xabi Alonso menjadi penutup kebangkitan tim asuhan Rafael Benitez. Sembilan puluh menit berjalan, pertandingan berakhir dengan hasil imbang. Babak tambahan harus dilakukan.

AC Milan tak putus asa. Serangan demi serangan, peluang demi peluang dibuat oleh tim asuhan Carlo Ancelotti. Kaka, Hernan Crespo, dan Andriy Shevchenko bergantian mengancam gawang yang dijaga Jerrzy Dudek. Tapi, berbeda dengan pada babak pertama, sepanjang babak tambahan kipper asal Polandia berhasil melakukan berbagai penyelamatan. Hasilnya, selama dua kali babak tambahan, skor pertandingan tak berubah. Adu penalti pun harus dilakukan untuk menentukan juara. Sekali lagi, Jerzy Dudek menyajikan aksi memukau. Serginho, Pirlo, dan Shevchenko gagal membuat poin. Liverpool pun menjadi pemenang. Luar biasa? Tentu saja.  Saya yang sempat putus asa pun kembali bersemangat, bahkan tak berhasil memejamkan pada hingga matahari terbit – dan harus membolos kuliah di hari itu.

Pertandingan yang tak akan terlupakan, baik bagi pendukung Liverpool, AC Milan, dan seluruh penggemar sepakbola di muka Bumi. Pertandingan yang membuat nama Steven Gerrard menjadi ‘simbol’ semangat untuk tak putus asa. Pertandingan yang membuat Rafael Benitez mengurungkan niat untuk ‘membuang’ Jerzy Dudek (padahal sebelumnya telah berhasil mendatangkan Pepe Reina). Pertandingan yang membuat Adidas (merek yang kemudian menjadi sponsor resmi Livepool) mengusung tagline baru, Impossible is Nothing. Pertandingan yang membuat jutaan pendukung Liverpool menaruh keyakinan yang luar biasa pada sosok pelatih asal Spanyol, Rafael Benitez.

Sangat beralasan jika kemudian para pendukung Liverpool, termasuk saya, memiliki impian klub favoritnya akan kembali merasakan era kejayaan seperti pada masa Bill Shankly. Terlebih, setelah keberhasilan menjadi juara, Rafael Benitez melakukan transfer yang ‘meyakinkan’ – salah satunya mendatangkan Fernando Torres – dan dua musim berikutnya kembali membawa Liverpool ke final Liga Champions – meski kemudian harus mengakui keunggulan AC Milan (atau lebih tepatnya Filippo Inzaghi) dengan skor 2-0. Meski begitu, asa itu pun terus menyala. Rafael Benitez akan membawa Liverpool meraih kembali kejayaannya.

Sayangnya, asa yang sekadar asa. Tanpa bukti nyata.

Melakukan berbagai transfer dengan harga yang tidak bisa dibilang murah, prestasi Liverpool malah menurun. Kecewa? Tentu saja. Setelah musim pertama yang begitu gemilang, musim-musim selanjutnya ternyata hanya menghasilkan kecewa demi kecewa. Bukan sepenuhnya kesalahan Rafael Benitez, tapi sebagai manajer, dialah orang yang paling bertanggung jawab.

Berpikir ulang tentang yang terjadi pada masa-masa tersebut, saya merasa hanya satu kesalahan yang dilakukan oleh Rafael Benitez: obsesi mendatangkan Gareth Barry. Tak tahu alasan pastinya (karena, secara kemampuan, gelandang yang dimiliki Liverpool saat itu tak kalah, bahkan lebih baik, jika dibandingkan dengan Gareth Barry). Hampir di setiap musim transfer, rumor tentang kedatangan Barry ke Liverpool santer terdengar. Bahkan, pada suatu ketika, Rafael Benitez membenarkan berita tersebut dan menjelaskan gaya permainan serta kemampuan Gareth Barry akan sangat cocok dengan strategi yang ingin dia terapkan. Kondisi yang membuat para gelandang Liverpool menjadi ‘gerah’. Steven Gerrard sempat dikabarkan ‘mempertimbangkan’ tawaran Chelsea. Dan jika Steven Gerrard hanya pada taraf ‘mempertimbangkan’, tidak begitu pada gelandang-gelandang lain yang selama beberapa musim menjadi kekuatan tim. Mohammed Sissoko hengkang ke Juventus (2008). Xabi Alonso ke Real Madrid (2009). Javier Mascherano ke Barcelona (2010). Setelah perginya nama-nama itu, lini tengah menjadi salah satu titik lemah Liverpool. Pemain-pemain yang kemudian didatangkan untuk menjadi pengganti ternyata tak berhasil mengisi kelemahan. Pergantian manajer yang dilakukan pun tak memberi hasil yang memuaskan – kecuali yang hampir dilakukan Brendan Rodgers ketika membawa Liverpool hampir menjadi juara Liga Inggris.

Oktober tahun lalu, Liverpool kedatangan sosok pelatih baru. Berhasil mengukir prestasi gemilang semasa di Borussia Dortmund, kehadiran Jurgen Klopp membawa asa baru bagi Liverpool – termasuk para pendukungnya dengan saya berada di antaranya.

Setengah musim pertama yang dijalani tidak terlalu gemilang. Meski menjadi salah satu tim yang paling produktif, Liverpool juga menjadi salah satu tim dengan rekor kemasukan yang cukup tinggi. Asa sempat membuncah ketika melihat perjalanan Liverpool di Liga Eropa musim lalu. Tapi, sudah kodrat manusia untuk selalu menapakkan kaki di Bumi. Tak boleh terbuai akan mimpi yang membuat lupa diri.

Musim ini memang baru berjalan. Baru sekitar seperempat yang sudah dijalani. Liverpool berada di peringkat 4. Bukan hasil yang buruk, meski masih jauh dari maksimal. Kepercayaan terhadap Jurgen Klopp pun mulai meninggi. Setelah pada pertandingan pembuka mengalahkan Arsenal dalam pertandingan yang membuat jantung saya seperti derap kuda yang berlari di alam bebas, hasil-hasil pertandingan lainnya menjadi alasan kuatnya harapan pada pelatih asal Jerman ini – terlebih ketika berhasil mengalahkan Chelsea dan Leicester City.

Sebagai pendukung, saya cukup senang dengan perjalanan Liverpool di musim ini. Cukup meyakinkan meski beberapa kali harus berhadapan dengan situasi yang sangat tidak baik bagi kesehatan jantung. Tapi, lebih dari itu, saya tidak ingin berharap terlalu tinggi.

Berada di ‘atas’ dan mendapatkan kepercayaan yang besar dari banyak pihak tentu membuat seseorang merasa senang. Mencapai keberhasilan, begitulah kira-kira. Tapi, yang terkadang dilupa, rasa senang itu akan bisa berujung pada malang. Senang yang berlebihan akan membuat lupa diri. Rasa percaya diri yang berlebih pun akan dapat berujung pada petaka. Manusia tidak memiliki sayap. Untuk dapat merasakan sensasi berada di udara, diperlukan alat pembantu. Selalu cek kesiapan alat sebelum terbang. Lakukan pemeriksaan rutin agar tidak terjadi kecelakaan. Dan jika memang takut akan bahaya yang mungkin mengancam, tak perlu muram. Tapakkan kaki di tanah, dan berjalanlah.

Saya sangat yakin tulisan ini tidak akan sampai pada Jurgen Klopp. Tapi, kekuataan doa dan harapan tidak memerlukan komunikasi secara langsung. Semoga saja harapan besar yang diberikan tidak membuat si berewok jumawa, dan berujung pada obsesi yang tak beralasan.

Amin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s