Ternyata Saya ini Orang yang Naif

cafe-society
Cafe Society

Ada sebuah idiom yang begitu melekat di kepala saya, sejak di masa sekolah bahkan mungkin hingga sekarang. “Sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam Ibukota.” Tak tahu mengenai kadar kebenaran dari pernyataan tersebut, nyatanya pemahaman terhadap Kota Jakarta yang sungguh kejam begitu melekat di dalam diri saya. Maklum saja, Jakarta tidak pernah menjadi ‘kota’ saya.

Saya terlahir dan tumbuh menjadi remaja di kota penyangga Jakarta. Melanjutkan pendidikan juga di kota yang menjadi penyangga Jakarta. Ditambah dengan fakta bahwa kedua orangtua saya berasal dari sebuah daerah yang cukup jauh dari Jakarta. Sejujurnya, “Jakarta” sering kali terlontar dari mulut saya ketika ditanya oleh orang dari luar daerah atau negeri mengenai tempat tinggal. Sebenarnya, itu ‘cara pintas’ untuk menghindar dari penjelasan panjang dan cukup rumit untuk menjelaskan sebuah daerah penyangga di sekitar Jakarta yang menjadi lingkungan tempat saya tinggal – seperti halnya menyebut “Solo” alih-alih sebuah kecamatan di pinggirannya sebagai daerah asal kedua orangtua saya.

Begitu melekatnya pandangan mengenai ‘jahatnya’ Jakarta membuat saya selalu bersikap waspada setiap kali memasuki wilayahnya. “Ini kawasan yang lebih kejam daripada ibu tiri. Jika ibu tiri saja (jika melihat cerita di film atau berita kriminal) tega melakukan hal kejam terhadap anaknya, tak terbayangkan yang mungkin dilakukan Jakarta terhadap manusia yang berada di dalamnya.” Sikap waspada yang lebih menjurus pada pandangan negatif terhadap setiap orang yang saya temui di Jakarta. “Tidak ada yang tulus. Jika mereka melakukan hal baik, tentu ada ‘tujuan’ lain di baliknya.” Saya bahkan sempat terpikir bahwa peribahasa “Ada udang di balik batu” terinspirasi dan ditujukan manusia-manusia Jakarta. Dilarang menjadi orang naif ketika berada di Jakarta, karena kenaifan menjadi santapan favorit manusia-manusia yang hidup di kota ini.

Namun ternyata, setelah sekitar 10 tahun menjalani profesi di Jakarta, saya disadarkan bahwa pemikiran tersebut salah. Jakarta tidaklah sejahat yang saya pikirkan. Bahkan, mungkin jauh lebih baik dibandingkan dengan ibu tiri. Masih banyak kebaikan yang diberikan di kota ini. Kebaikan yang murni, bukan yang dengan maksud tertentu. Lebih jauh, dan ini yang membuat saya tercengang, ternyata orang-orang naif tidak selalu menjadi ‘korban’ di Jakarta. Pada beberapa kasus, kenaifan justru membawa mereka pada kesuksesan.

Tidak mungkin? Itulah kenyataan yang saya temui. Saya menemukan orang-orang naif yang meraih nama besar di Ibukota.

Salah satu yang paling saya ingat adalah peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu. Dalam usaha menambah isi kepala yang ruangnya masih begitu lapang, saya mengikuti sebuah seminar tentang perkembangan komunikasi digital. Pada salah satu sesi, seorang wartawan senior di negeri ini menjadi pembicara yang membahas perkembangan jurnalistik di tengah maraknya media sosial yang berkembang pesat.

Saya masih ingat materi yang disampaikan. Salah satunya adalah sebuah foto rombongan pengendara motor besar di Amerika Serikat. Foto ini ternyata digunakan dalam berita yang berbeda-beda. Membuat pembaca tersesat? Tentu saja. Karena ternyata bukan karena foto saja yang salah digunakan, tapi isi berita yang disampaikan pun mengada-ada. Perkembangan teknologi komunikasi, terutama media sosial, harus disikapi dengan kejelian dan sikap aktif pengguna/pembaca berita terhadap informasi-informasi yang diterima. Begitu kira-kira pesan yang disampaikan oleh sang pembicara.

Sebuah pencerahan, bagi saya terutama. Pembaca pun harus pintar. Bukan hanya manusia-manusia Jakarta saja yang harus diwaspadai, informasi-informasi yang beredar cepat seperti di media sosial pun harus diwaspadai. Jangan sampai menjadi korban, dan harus berucap “Sekejam-kejamnya Ibukota, ternyata lebih kejam kabar berita.”

Dengan pengalaman yang begitu panjang di dunia jurnalistik tentunya wartawan senior tersebut memiliki filter yang sangat efektif untuk menyaring informasi-informasi yang menyesatkan. Ilmu yang kemudian dia bagikan kepada peserta seminar. Suatu hal yang baik, dan saya yakin tanpa ada niatan jahat di baliknya. Sampai kemudian, beberapa minggu setelah acara seminar tersebut, saya dikejutkan oleh berita menyangkut wartawan senior tersebut.

Wartawan senion ini meminta maaf atas sebuah perbuatannya. Mendapat informasi mengenai keberadaan seseorang yang telah lama menghilang dan menjadi salah satu misteri di negeri ini, wartawan senior tersebut membagikan informasi yang dia dapat di salah satu akun media sosialnya. (Dia sungguh orang yang baik karena selalu membagikan ilmu yang dimiliki.) Sayangnya, informasi yang dibagikannya ternyata salah. Lebih sial lagi, informasi yang dibagikan tersebut ternyata sudah menyebar begitu luas.

Tidak hanya meminta maaf atas kesalahan informasi yang dibagikan, tapi wartawan senior tersebut juga menyampaikan keheranannya bahwa informasi yang dibagikannya menyebar dengan begitu cepat dan luas. “Nah, lho?” Saya sungguh terkejut dengan yang satu ini. Bagaimana mungkin seseorang yang beberapa waktu lalu menjadi pembicara tentang bahayanya informasi salah yang tersebar di media sosial (karena kemampuan media sosial yang dapat menyebarkan informasi dengan masif dalam waktu yang sangat singkat) bisa berujar seperti itu? Kenapa bisa begitu naif? Bukankah, toh, seharusnya dia sudah mahfum dengan sifat, risiko, dan berbagai hal menyangkut media sosial karena setahu saya dia wartawan senior ini cukup aktif di berbagai platform media sosial, tapi, kok, bisa-bisanya menyatakan keheranan ketika informasi yang disampaikannya menyebar secara masif?

Saya kemudian coba menenangkan diri dan coba berpikir dengan lebih rileks. Dan… ya, satu hal yang saya lupa, bahwa wartawan senior ini merupakan orang yang baik. Dia baik dengan setulusnya. Dia bukanlah orang yang bermuka dua, yang melakukan kebaikan dengan ‘suatu niatan yang tidak baik’. Dia tulus berbuat baik. Dia tulus membagikan informasi yang dimilikinya kepada khalayak, tanpa meminta imbalan sebagai balasan dari informasi yang disampaikan. Dia pun tulus ketika menyampaikan keheranannya terhadap begitu masifnya informasi yang tersebar. Dia benar-benar tidak menyangka itu akan terjadi. Walau sebelumnya sudah begitu banyak materi tentang media sosial yang dipelajari, termasuk kemampuan media sosial dalam menyebarkan informasi secara masif dalam waktu yang singkat, mungkin baginya itu sekadar teori yang belum terbukti keakuratannya. Naif? Iya. Saya ini begitu naif. Naif benar saya ini berpikir bahwa tidak ada orang yang benar-benar baik di Jakarta. Naif benar saya ini berpikir bahwa kenaifan hanya akan menjadi sasaran empuk di Ibukota. Naif benar saya ini mempercayai orang sekadar dari status (semisal senior), percaya terhadap segala sesuatu yang disampaikan oleh orang-orang yang memiliki reputasi, dan lupa melakukan filter seperti yang disarankan wartawan senior tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s