Pengakuan Seorang (yang Menyebut Dirinya) Penulis

27390922342_9852685d0e_o

Memulai tulisan ini, izinkan saya untuk menyebut diri sebagai penulis. Tidak berada di level yang sama seperti Shakespeare, Pramoedya, Sapardi, Harper Lee, atau penulis-penulis kenamaan lainnya. Walau tidak juga penyebutan tersebut tanpa dasar. Tulisan-tulisan yang terdapat di blog ini, atau dua buku hasil keisengan saya, juga tulisan-tulisan yang sampai sekarang hanya menjadi pengisi harddisk komputer (baik yang berada di folder ‘Finish’ maupun ‘Unfinished’), sepertinya sudah cukup menjadi dasar untuk menyebut diri saya sebagai penulis.

Ya, saya menulis. Walau pengertian menulis sudah tidak lagi seperti dulu. Menulis, dalam kebanyakan kasus yang terjadi saat ini, tidak lagi melibatkan kertas dan pena/pensil. Saat ini yang disebut “menulis” lebih mendekati pada kata kerja “mengetik”. Mungkin karena ego yang membuat profesi orang yang melakukannya tidak menjadi disebut “pengetik”. Meski yang dilakukan adalah mengetikkan huruf demi huruf yang terangkai di layar putih monitor, orang yang melakukannya tetaplah “penulis”. Beda dengan juru ketik.

Terlepas dari ego dan definisi istilah, saya sangat berterima kasih terlahir di masa ketika teknologi sangat memudahkan manusia. Untuk menekuni kegiatan yang saya gemari, saya tidak perlu bergulat dengan kertas dan pena/pensil. Itu merupakan sebuah anugerah bagi saya. Pertama, pergelangan tangan saya cepat merasa pegal ketika harus menulis menurut definisi awal. Dan kedua, ini yang sangat penting, hadirnya teknologi membuat tulisan-tulisan yang saya buat dapat terbaca oleh orang lain. Terlepas dari pola pikir saya yang mungkin sulit dipahami, setidaknya susunan huruf yang terpapar di layar dapat terlihat dengan jelas dan dengan mudah dikenali bentuknya—hal yang sangat sulit terjadi jika saya harus menulis di atas kertas. Teknologi pun memungkin saya untuk mempublikasikan tulisan-tulisan yang saya buat. Saya tidak perlu lagi harus repot-repot mencetak atau setidaknya mengirimkan tulisan yang saya buat kepada redaksi suatu penerbitan agar tulisan tersebut dapat dipublikasikan.

Hobi, begitulah saya menyebutnya—dan akan terus berusaha menjaga agar tetap demikian. Ya, menulis bagi saya sekadar hobi. Kegiatan yang saya lakukan di waktu senggang. Sebagai pengisi waktu luang (walau pada kenyataannya sering kali kesenggangan itu terjadi karena paksaan keinginan menulis yang kuat). Meski dalam keseharian profesi yang saya jalani sangat berhubungan dengan tulis-menulis, tidak pernah terpikir oleh saya untuk mengubah level kegiatan ini dari ‘hobi’. Sebagai pekerja, saya penulis profesional. Saya mendapatkan uang dari pekerjaan yang saya lakukan dan pekerjaan itu sangat erat kaitannya dengan menulis. Tidak pernah, dan semoga tidak akan terjadi, muncul hasrat menulis dalam diri saya yang didorong keinginan untuk mendapatkan materi. Saya hanya ingin bersenang-senang. Sekadar membuat senang diri sendiri.

Mungkin itu alasan saya mempertahankan blog ini, juga kegiatan menulis di waktu senggang. Saya tidak mau kehilangan rasa senang yang saya rasakan ketika menulis.

Sebagai profesi, seorang penulis dituntut untuk membuat tulisan. Ide muncul karena keterpaksaan. “Edisi berikutnya akan terbit di bulan X, sila ajukan ide tulisan untuk rubrik A, B, C, ….” Seberapapun perasaan senang yang dirasakan ketika membuat tulisan untuk urusan pekerjaan, tetap saja, pada dasarnya itu merupakan sebuah ‘pesanan’, ‘paksaan’, bukan atas dasar keinginan yang muncul dari dalam diri.

Tulisan-tulisan di waktu senggang membuat hidup saya seimbang, setidaknya begitulah yang saya pikir. Saya terima ‘pesanan’, karena dari situlah saya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara di luar itu saya pun melakukan kesenangan—meski darinya tidak ada materi yang didapat, bahkan terkadang harus mengeluarkan materi. Saya senang. Saya merasa senang. Saya tidak mau kehilangan rasa senang itu. Menulis membuat saya senang. Saya tidak mau kehilangan rasa senang yang saya rasakan ketika menulis. Tidak, tidak pernah mau.

Dan, ketika seorang motivator berucap, “Purpose of life (yang menjadi dasar pencarian kebahagiaan sejati dalam hidup) didapat dengan mempertanyakan pada diri sendiri: hal apa yang akan tetap saya lakukan ketika uang tidak lagi menjadi persoalan bagi diri saya?” saya sudah menemukan jawabannya. Saya tidak perlu menunggu hingga ‘uang tidak lagi menjadi persoalan bagi diri saya’. Saya sangat bermasalah dengan uang. Hampir setiap saat saya memikirkan uang dan segala keperluan yang harus dipenuhi. Tapi, bukan berarti saya tidak dapat menemukan purpose of life, dan mencapai kebahagiaan. Saya bahagia.

Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s