Menolak untuk Bergantung

into-the-forest
Into the Forest

Teringat saya pada situasi yang dialami almarhum kakek setelah nenek meninggal. Ditinggal pergi wanita yang telah menemaninya selama puluhan tahun, kakek banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Sepulang dari sawah, membersihkan diri, lalu masuk ke dalam kamar. Mendengarkan musik dari radio tua. Hanya keluar untuk makan dan ketika perlu ke kamar mandi. Padahal, sebelumnya, ketika nenek masih hidup, kakek sering duduk di bangku ruang keluarga. Menonton televisi atau bercanda dengan cucu-cucunya. Sampai suatu malam, tante saya, adik ibu yang termuda, berkomentar, “Begitu, tuh. Waktu masih hidup diomelin terus, sekarang baru ngerasa kehilangan.”

Merasa kehilangan? Tentu saja. Siapapun akan merasakannya ketika pasangan hidupnya meninggal. Bahkan, ketika ditinggal ke luar kota atau luar negeri untuk beberapa waktu saja, rasa kehilangan itu sudah muncul. Hal yang wajar. Saya yakin di luar sana banyak yang mendengar atau malah mengalami keadaan serupa.

Menjalani hidup bersama selama puluhan tahun, dari satu pertengkaran ke pertengkarang lainnya, menjalani masa-masa sulit, senang, dan segalanya, yang kemudian memunculkan rasa ketergantungan. Begitulah menurut saya.

Pada aspek berbeda, saya pun mengalaminya. Suatu hari, saya memutuskan membalikkan arah laju motor ketika sadar bahwa handphone saya tertinggal di rumah. Padahal, saat itu, saya sudah berada di tengah-tengah antara rumah-kantor—bukan suatu jarak yang bisa disebut dekat. Tapi, karena ketinggalan handphone, saya memutuskan kembali ke rumah.

Kalau dipikir-pikir, saya baru menggunakan handphone ketika berusia 19 tahun. Baru memanfaatkan yang disebut dengan smartphone sekitar enam tahun kemudian. Tapi kemudian, karena begitu lekatnya hubungan saya pada benda yang satu ini, saya merasa ketergantungan yang begitu besar terhadapnya. Jangankan rusak hingga berhari-hari, kehabisan baterai saja bisa membuat saya panik. Karenanya, saya menjaga dengan sangat hati-hati agar benda yang satu ini tetap aktif menemani aktivitas saya.

Sampai kemudian, saya teringat pada kenyataan bahwa lebih dari separuh kehidupan yang saya jalani tanpa kehadiran benda satu ini. Lalu, kenapa saya begitu bergantung padanya? Urusan pekerjaan? Baiklah, setidaknya itu bisa dijadikan alasan pada hari kerja. Tapi, bagaimana sewaktu akhir pekan atau hari libur? Untuk berkomunikasi dengan pasangan, melepas rasa kangen? Memangnya seberapa kangen, sih? Kalau rasa kangen itu bisa terobati dengan obrolan selama satu-dua jam, berarti tersisa lebih dari 20 jam lainnya yang sebenarnya tidak memerlukan kehadiran handphone. Untuk membaca berita atau majalah digital yang saya unduh sebelumnya. Alasan yang dikemukakan agar handphone harus selalu ada di genggaman dan berfungsi dengan baik pun dapat menjadi daftar panjang yang tiada akhir. Daftar yang pada akhirnya membuktikan bahwa kita sangat tergantung padanya. Seakan tak bisa hidup tanpanya. Padahal, kita tidak bisa hidup kalau tidak ada oksigen, tidak makan-minum, bukan karena tidak ada handphone. Sistem kerja organ-organ tubuh kita tidak membutuhkan peranan handphone. Colombus tidak membutuhkan handphone untuk menemukan Benua Amerika. Soekarno tidak membutuhkan handphone ketika akan memproklamirkan kemerdekaan. Lalu, kenapa kita, setidaknya saya,  tidak bisa hidup tanpa handphone?

Sejak terpikirkan hal tersebut, saya lalu memutuskan untuk meminimalisasi penggunaan handphone, terutama pada hari-hari libur. Saya sering berpergian tanpa membawa handphone. Sengaja meninggalkannya di rumah—meski kadang merasa merasa menyesal karena tidak dapat melakukan sesuatu yang membutuhkan handphone. Atau, kalau sedang tidak berpergian, saya terkadang mematikan handphone, walau hanya untuk beberapa jam. Bagi saya, itu merupakan cara untuk menjaga hubungan sehat antara saya dan handphone.

Dalam kehidupan saat ini, dengan profesi dan aktivitas sehari-hari yang saya jalani, tidak mungkin rasanya jika tidak memanfaatkan fungsi handphone, tapi saya tidak mau menjadikan diri begitu bergantung padanya. Harus ada jarak. Ada batasan agar kehidupan dan diri saya dapat menjadi mandiri walau tanpa kehadirannya. Begitu pula dengan hal-hal lainnya. Ketika ada hari-hari saat saya sama sekali tidak menghubungi pasangan saya, bukan berarti rasa sayang saya terhadapnya telah berkurang atau hilang. Itu hanya cara agar saya tetap dapat rasionalitas. Menjaga kemandirian saya. Saya tidak ingin terlalu bergantung pada sesuatu. Dan jika pada suatu saat nanti, ketika mungkin pasangan saya lebih dulu meninggal, saya tidak menjadi kesendirian, putus asa, tenggelam dalam duka yang tak berbatas. Bukan karena rasa sayang saya tidak mendalam. Bukan pula karena saya termasuk orang yang mudah melupakan dan dengan cepat dapat mengalihkan perasaan sayang terhadap orang lain. Rasa kehilangan tentu ada, tapi dalam batas yang wajar. Hidup mesti terus berjalan. Tak mungkin ‘menghentikan kehidupan’ ketika suatu hal hilang dari kita—kecuali ruh yang dikeluarkan dari tubuh. Seperti kata pepatah, patah tumbuh hilang berganti. Ketika handphone saya matikan atau tinggal, saya bisa meminjam handphone milik orang lain. Ketika pasangan saya meninggal, saya bisa meminjam pasangan orang lain. Upss…. Hahahaha….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s