Politik Bocah

bocah_00001

Tinggal bersama enam orang keponakan, empat dalam satu atap sementara dua lagi hanya berjarak tidak lebih dari 1 meter, membuat hidup saya tidak pernah sepi. Ya, namanya juga bocah. Yang tertua berusia 8 tahun sementara yang termuda belum mencapai 3 tahun, bisa terbayang, kan, suasana yang kerap saya hadapi ketika mereka ‘on fire’?

Rumah tidak pernah sepi, kecuali ketika mereka tidak ada di rumah. Dan, ketika saat-saat itu, suasana di rumah pun terasa aneh. Sunyi. Padahal, sebelum mereka terlahir ke dunia, seperti itulah suasana yang biasa dirasakan di rumah. Sepi. Paling-paling suara dari pengeras suara televisi.

Bercanda bersama mereka merupakan hal yang efektif membuat saya rileks dari rutinitas sehari-hari. Mereka menjadi semacam ‘meditasi’ yang cukup ampuh untuk menghindarkan diri saya dari stres. Walau memang, ada konsekuensi yang mengikuti.

Misalnya saja saya harus rela tidak menonton pertandingan sepakbola atau balapan motor serta mobil di saat mereka belum tertidur. Televisi menjadi kuasa mereka. Begitu pula ketika tiba-tiba mereka mengetuk pintu kamar di saat saya sedang menonton film di laptop. Mau tak mau, saya harus menuruti keinginan mereka menonton film favorit dan menunda keinginan menyelesaikan film yang sedang saya tonton. Tapi, ya, bukankah segala hal seperti uang koin, memiliki dua sisi?

Dan dari segala hal yang sering saya lakukan bersama para keponakan, salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah ketika mereka berkomplot: baik sesama mereka untuk melawan saya atau sebagian dari mereka melawan sebagian yang lain yang berkomplot dengan saya.

Coba mempengaruhi saudara-saudara untuk mendukung, membentuk kekuasaan, dan mengalahkan ‘musuh’ bersama, kira-kira seperti itulah yang sering terjadi. Ketika memamerkan mainan yang baru saja saya beli, misalnya dan ini sering saya lakukan, tapi hanya memamerkan dan mereka tidak saya izinkan untuk memainkannya, tidak perlu diskusi panjang bagi mereka untuk kemudian berkomplot memusuhi saya. Saya hanya tertawa. Merasa puas karena berhasil membuat mereka iri. Mereka pun pergi. Asyik menikmati permainan yang kemudian mereka buat, sementara saya menikmati kemenangan di dalam kamar.

Namun, tak sampai satu jam kemudian, ketika ada salah satu di antara mereka merasa bosan dengan permainan yang dimainkan, pintu kamar saya pun akan diketuk. Memasang ekspresi ‘anak baik’, kalimat awal yang biasa diucapkan adalah, “Om, lagi apa?” (padahal laptop masih menyala dan film masih diputar). Pertanyaan seperti ini biasanya tidak saya tanggapi, keponakan saya pun tidak menjadi marah karenanya. Sebaliknya, sikap baik mereka akan semakin jadi. “Filmnya bagus, ya, Om,” yang biasanya diucapkan sambil merangkul tubuh saya. Saya kembali tidak menanggapi, dan keponakan saya pun tidak akan tersinggung. Dia akan terus mengoceh. Sampai pada akhirnya, niatan utamanya pun terungkap. “Om, mainan yang tadi beli dimana?”, “Om, mainannya bagus, ya?”, dan seterusnya, dan seterusnya. Kembali, saya tidak ambil peduli.

Sampai pada tahap ini, biasanya keponakan saya akan diam. Tak berapa lama, dia ke luar dari kamar saya untuk kemudian kembali lagi bersama satu atau dua saudaranya, atau malah mungkin semuanya. Yang mengherankan, ketika datang ke kamar saya, mereka semua memasang ekspresi ‘anak baik’, begitu pula dengan sikapnya. Niatannya pun sudah dapat saya prediksi. Saya hanya menanti sampai mereka mengungkap niatan yang sesungguhnya.

Masuk ke dalam kamar, mereka lalu duduk tenang di pinggir tempat tidur. Tidak ada yang berlari-lari atau lompat-lompat di atas tempat tidur. Mereka menjadi anak penurut yang begitu patuh pada aturan. Situasi seperti ini biasanya bertahan sekitar 5 hingga 10 menit, sampai kemudian salah satu di antara mereka mengutarakan tujuan utama mendatangi kamar saya. “Om, boleh, ga, pinjem mainannya?” Dan ketika saya menolak keinginan tersebut, seketika mereka pergi dari kamar saya sambil mengeluh. “Huh…. Om pelit.” Saya kembali menang.

Sebenarnya, bagi saya, yang terpenting bukanlah tentang menang dan kalah. Saya akui, sebagai om, saya termasuk yang usil. Memamerkan mainan baru dengan tujuan agar mereka iri, dan menikmati perilaku baik (manja) yang kemudian mereka tunjukkan untuk merayu saya. Itu saja. Tapi, di luar itu, ada hal yang membuat saya terkagum dengan para keponakan saya. Mereka tahu saat untuk membentuk kekuatan, mereka tahu saat untuk menyerang pihak yang berlawanan, dan bahkan mereka pun tahu saat untuk merajuk pihak yang berlawanan.

Tidak ada yang mengajari mereka untuk berperilaku seperti itu. Bahkan, seingat saya, di masa kecil dulu, saya dan kakak-kakak saya tidak melakukan hal tersebut. Semua terbentuk dengan sendirinya. Dipelajari dengan alami. Seperti menjadi naluri yang tumbuh dengan sendirinya di dalam diri mereka.

Lalu, alangkah terkejutnya saya ketika beberapa hari lalu melihat berita tentang keputusan PDI Perjuangan mengusung Ahok, yang dipasangkan dengan Djarot, sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada pemilihan umum daerah yang akan datang. Bukankah sebelumnya PDI Perjuangan bersikap seperti memusuhi Ahok? Djarot pun pernah bersikap ‘menyerang’ Ahok, padahal keduanya menempati posisi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur? Lalu, kenapa sekarang semuanya menjadi seperti sebuah kesatuan yang akur? Bukan hal yang mengagetkan, karena bukan pertama kali terjadi dan sepertinya bukan yang terakhir pula akan terjadi di negeri ini. Tapi, di luar keanehan saya terhadap kejadian tersebut, saya jadi berpikir bahwa keponakan-keponakan saya suatu saat nanti akan menjadi politikus ulung. #ragumengamini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s