Saya Gantungkan Cita-cita Setinggi Langit… tapi Saya Takut Ketinggian

29067428482_c449c4ca2a_o

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saya teringat pada suatu hal yang pernah saya bahas di blog ini. Bukan hal yang sangat penting, karena toh sebenarnya tidak ada hal penting yang dibahas di blog ini. Tapi karena saya termasuk orang yang sangat menikmati memikirkan berbagai hal tak penting, ingatan pada tulisan tersebut pun berbuntut cukup panjang.

Coba menganalisa tentang penggunaan ‘kenapa’ di kalimat pernyataan, logika saya lalu berujung pada sebuah kemungkinan. Ya, hanya sebuah kemungkinan yang masing sangat terbuka untuk diperdebatkan, karena hal yang saya sampaikan ini tidak memiliki landasan empiris apapun—hanya berbekal logika saya yang sangat sederhana. Menurut logika sederhana saya, kejadian ini memiliki kaitan dengan semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang ‘go global’. Berkutat dengan pergaulan di dunia internasional, komunikasi yang dilakukan pun menggunakan bahasa internasional, bahasa Inggris.

Dalam bahasa Inggris, tidak masalah jika kata tanya digunakan dalam kalimat pernyataan. Ingatan saya pun mereferensi pada sebuah lagu yang populer di masa 90-an. “That’s why….” menjadi bentuk yang sangat lazim ditemui. Dan ketika kalimat yang mengandung bentuk tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia, “Itulah mengapa….” pun menjadi bentuk yang sangat sering digunakan.

Menemukan kemungkinan tersebut, ternyata logika sederhana tak cukup puas. “Tentu ada alasan hingga bentuk tersebut sangat sering digunakan,” begitu kira-kira ungkapan penasaran logika saya. Dan karena ada begitu banyak waktu yang saya miliki (alih-alih menyebut diri tidak punya kegiatan), saya pun menuruti rasa penasaran si logika yang sungguh sederhana tersebut.

Lalu, kenapa bisa begitu?

Sebuah kemungkinan yang lain pun muncul. Mungkin ini karena kita, masyarakat Indonesia yang ‘go global’, tidak memiliki akar budaya yang kuat. ‘Lho, kenapa bisa begitu? Bukankah kita dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya?’ Nah, di situ masalahnya, setidaknya menurut saya. Saking kayanya kekayaan budaya di negara ini, sehingga sangat sulit menentukan yang dinamakan budaya Indonesia. Apa yang disebut makanan Indonesia? Gudeg? Tentu akan memancing rasa iri (mungkin juga amarah) dari masyarakat daerah-daerah lain. Apa tari tradisional Indonesia? Pendet? Hmmm….

Bukan berarti masyarakat kita sudah terlepas, tercabut dari akar budayanya. Tidak, setidaknya sebagian dari masyarakat negeri ini masih mempertahankan budayanya. Termasuk orang-orang yang ‘go global’ tadi, walau hanya sebagian. Karenanya, sering kali kita mendengar/melihat/membaca berita tentang misalnya pentas budaya tradisional di mancanegara. Tapi, ya, karena jumlahnya hanya sebagian, dan mungkin bagian yang kecil, bagian ini kemudian ‘tertindih’ oleh bagian yang lebih besar.

Lagipula, di negara ini, tidak ‘diperbolehkan’ mengagungkan budaya daerah asal secara berlebihan. Bertentangan dengan nasionalisme. Tidak sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda. Berpotensi memunculkan sifat chauvinisme. Yang kemudian timbul adalah ‘ke-Indonesia-an’. Dan untuk menjelaskan mengenai konsep ke-Indonesia-an tersebut, yang tersaji adalah definisi yang bias. Lagi-lagi terbentur oleh rasa takut menyinggung masyarakat budaya yang hidup di negara ini. Toh, pada dasarnya, masyarakat Indonesia merupakan manusia yang sangat menjunjung tenggang rasa. Jadi, menyinggung perasaan orang lain dianggap sebagai ‘dosa’.

—-

Membaca tulisan ini, saya harap Anda tidak terjebak dengan pemikiran bahwa saya merupakan orang dengan akar budaya yang kuat. Tidak, sama sekali tidak. Sebaliknya, saya bisa dibilang termasuk orang yang tercabut dari budaya leluhur. Saya lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia ketika diajak bicara dengan kakek saya, selagi beliau masih hidup. Ketika ditanya alasan, saya selalu menjawab, “Takut salah. Takut  menjawab dengan bahasa yang tidak seharusnya.” Bahasa Jawa memang memiliki tingkatan kesopanan. Salah memilih jenis tingkatan ketika berkomunikasi dengan orang tertentu pada situasi tertentu akan dapat menyebabkan masalah yang serius. Bahasa Indonesia saya pilih sebagai solusi (atas ketidakmampuan saya berbahasa Jawa dengan baik dan benar).

Rasa iri pun kerap hadir di dalam diri saya terutama di masa lebaran. Saya sangat iri terhadap orang-orang yang begitu rela melakukan perjalanan sangat melelahkan demi berlebaran di kampung halaman. Tentunya ada alasan yang sangat kuat yang mendorong seseorang untuk melakukan perjalanan yang begitu menyiksa. Kampung halaman menjadi magnet dengan daya tarik yang begitu kuat bagi mereka. Sementara, saya, yang mengaku berasa dari sebuah daerah di Jawa Tengah, tidak pernah merasa rindu terhadap sebuah wilayah yang biasa saya sebutkan ketika ditanya “Asalnya dari mana, Mas?” Lebih jauh, saya pun merasa lebih nyaman mengenakan celana jeans dan kaos, serta sepatu—pakaian yang sudah sangat jelas bukan berasal dari budaya moyang saya.

Dengan kenyataan seperti, kecuali kritik saya terhadap penggunaan “Itulah kenapa” sebagai pengalihbahasaan “That’s why”, saya termasuk dalam golongan orang yang ‘go global’—meski kenyataan lain saya sangat jarang berpergian ke luar negeri dan tergagap-gagap ketika harus berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Toh, mengenai kritik terhadap pengalihbahasaan tersebut terjadi bukan karena saya memiliki kesensitifan yang tumbuh dari dalam diri. Hal itu lebih karena sebuah kebetulan, kebetulan saya ini pernah menempuh pendidikan yang mengharuskan saya untuk sensitif terhadap penggunaan bahasa. Dan, toh, jika merujuk pada unsur budaya versi Koentjaraningrat, rasa sensitif yang ada di diri saya hanya terhadap salah satu dari tujuh aspek yang disebutkan. Jadi, ya, begitulah.

Namun, bukan berarti saya merupakan orang munafik yang sering menilai buruk orang lain padahal saya pun melakukan hal yang dilakukan oleh orang tersebut. Saya tidak coba mencuci tangan dari apapun. Saya hanya mengungkap keadaan yang terjadi. Terhadap diri saya, maupun lingkungan di sekitar saya. Saya pun tidak berambisi untuk melakukan perubahan terhadap keadaan tersebut. Siapalah saya dan seberapa besar tenaga yang saya miliki untuk dapat melakukan perubahan tersebut. Biarlah saja. Bukankah budaya yang bergerak menandakan kehidupan masyarakat dinamis? Dan menurut saya, sah sah saja jika terjadi perubahan terhadap budaya.

Lagipula, menjadi ‘go global’ tidak selalu merujuk pada hal negatif. Sebuah upaya untuk memajukan diri dan masyarakat sekitar tidaklah dapat disebut sebagai tindakan negatif. Yang negatif itu kalau sadar bahwa diri kekurangan/tertinggal dan tahu ada cara untuk mengatasi hal itu tapi memilih untuk bergeming. Di masa lalu, ketika orang-orang Eropa datang ke negeri ini, pihak kerajaan menerima budaya yang dibawa dari seberang benua. Pemangku kekuasaan bahwa menerima ketika diusulkan mengganti pakaian kerajaan dengan desain bergaya Eropa—dan pakaian itu masih tetap bertahan hingga saat ini. Pada kenyataannya, meski menerima perubahan pada gaya berpakaian, pihak kerajaan tidak serta-merta mengganti budaya kerajaan (dan tentunya masyarakat yang dipimpinnya) dengan budaya Eropa. Bedhaya ketawang tidak digantikan dengan balet. Masih ada yang dipertahankan meski bersikap terbuka terhadap hal-hal yang datang dari luar. Dan, itulah kenapa saya, setidaknya, mempertahankan sedikit nilai dari budaya nenek moyang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s