Story of Me and… ‘Me’

in-your-eyes
In Your Eyes

Ada sebuah cerita yang tidak pernah saya ceritakan kepada keluarga. Hanya kepada beberapa teman dekat saya membagikan cerita ini. Bukan karena saya tidak terbuka pada keluarga, hanya saja saya merasa cerita ini tidak terlalu penting – dan lagipula berbau takhayul. Tak ada bukti empiris terhadapnya.

Ini bermula dari obrolan saya dengan Ibu. Saya lupa pastinya awal dari obrolan ini, yang saya ingat adalah suatu ketika Ibu pernah bilang bahwa mungkin saya ini memiliki saudara kembar. Mungkin, ya, hanya sebuah kemungkinan. Karena, di saat Ibu mengandung saya, USG merupakan suatu kemewahan yang tak terlalu urgent untuk dilakukan.

Kemungkinan ini pun hanya dilandaskan pada suatu hal yang, lagi-lagi, berbau takhayul. Sebuah mimpi. Ya, mimpi. Suatu hari, ketika Ibu mengandung saya, Ayah bermimpi menemukan dua ekor burung dara. Di saat itu, Ayah memang sedang gemar memelihara burung dara – bahkan sampai saya berusia sekitar 4 tahun, koleksi burung dara Ayah masih menempati halaman belakang rumah kontrakan kami. Kembali ke cerita mimpi. Bermaksud menangkap keduanya, ternyata Ayah hanya berhasil menangkap seekor di antaranya – seekor lagi terbang jauh.

Mendengar cerita Ibu, saya tidak menanggapinya dengan serius. Hanya tersenyum. Tidak menanyakan lebih lanjut, “Apakah saat itu dokter kandungan pernah berujar sesuatu yang berhubungan dengan kembar?”. Saat itu, saya cuma berpikir, alangkah ‘pusingnya’ orangtua saya jika memiliki anak kembar. “Seorang saya saja sudah membuat mereka kalang kabut, apalagi kalau ada dua saya.” Hahahaha….

Sampai kemudian, ketika duduk di kelas 3 SMA, saya mengalami masa yang cukup absurd.

Suatu malam, ketika tidur, saya bermimpi bertemu dengan seseorang yang rupanya teramat mirip dengan saya. Dia tidak menyebut nama. Dia hanya bilang bahwa dia adalah saudara kembar saya yang ‘memutuskan’ tidak terlahir ke dunia. “Kenapa?” tanya saya penasaran. “Tempat gw bukan di dunia ini. Ada tugas yang harus gw kerjain,” begitu kira-kira jawabannya. Saya kemudian dibawanya ke suatu tempat yang sulit dijelaskan. Suatu tempat dengan dasar seperti awan dan di hadapan kami membentang sebuah bentang yang lebarnya seperti tak berbatas. “Ini tugas gw.” Saya tak bertanya lebih lanjut.

Setelahnya, saya pun mengalami beberapa kejadian yang sulit dijelaskan. Misalnya saja, pada suatu sore, ketika tertidur saat menonton televisi, saya bermimpi tentang pacar saya ketika itu. Dia berjalan di sebuah jembatan kayu. Karena licin, kakinya terpeleset. Spontan saya menarik tubuhnya agar tak terjatuh ke sungai. Saya lalu terbangun dan coba menelefon pacar saya itu. Dia belum kembali ke rumah.

Esok harinya, pacar saya bercerita tentang kejadian yang dialami saat pulang dari rumah temannya. Melewati sebuah jembatan kayu, dia terpeleset. Tapi kemudian, seperti ada sesuatu yang menarik tubuhnya. Hmmm…. Kok, mirip, ya?

Selain kejadian itu, ada beberapa kejadian lain yang sampai sekarang masih tidak dapat saya pahami alasannya.

Sekitar seminggu setelah mimpi bertemu dengan kembaran saya, sosok itu kembali datang dalam mimpi saya. Kali ini, dia tidak sendiri. Ada seorang wanita paruh baya yang menyertainya. Wanita berambut panjang dengan jubah merah. “Ini yang ngerawat gw,” sosok kembaran saya memperkenalkan wanita yang bersamanya. Saya hanya tersenyum.

Ternyata, kedatangannya kali kedua itu sekalian ingin berpamitan. Sudah selesai waktu berkunjung. Dia harus kembali ke ‘tempatnya’. Dimana itu? Saya tidak tahu. Dia hanya bilang tidak bisa lebih lama lagi berkunjung karena tugasnya sudah menanti, dan sudah cukup puas baginya untuk merasakan kehangatan Ibu yang tak pernah dirasakan. “Gw pamit. Lo jaga nyokap, ya,” pesan terakhir sebelum sosok itu menghilang.

Saya bukan termasuk orang yang begitu mempercayai tentang hal-hal gaib, walau tidak menyangkal mengenainya. Saya pun tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap hal-hal tersebut – termasuk mengenai kejadian yang saya alami. Cukup bagi saya untuk mengalaminya, dan terkadang berdoa agar sosok kembaran saya itu baik-baik saja di ‘tempatnya’. Amin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s