Saya Tersesat… dan Tidak Sendiri

25720579870_6a9d75ef99_o

“Siswa yang tak memiliki cita-cita seperti naik kendaraan umum tapi tak tahu tujuan akan ke mana.”

Itu pernyataan yang saya dengar ketika datang ke sebuah acara bincang-bincang mengenai pendidikan. Si pemberi pernyataan merupakan seorang aktivis di bidang pendidikan. Secara garis besar, aktivis ini menyayangkan masih terjadinya fenomena seperti yang terjadi di masa lalu. Tentang anak-anak sekolah yang ternyata tidak (atau mungkin belum) tahu yang ingin dicapai di masa depan. Baginya, hal ini penting dalam menentukan atau mengarahkan pendidikan bagi si anak.

Hmmm… benar, sih.

Mungkin.

Mengenang peristiwa di masa lalu, saya masih ingat ketika hari pertama masuk Sekolah Dasar. Saat itu, satu persatu siswa disebut namanya. Lalu, ditanya mengenai cita-citanya. Dan ketika giliran saya tiba, saya masih ingat cita-cita yang saya ujarkan: ABRI. Jangan bertanya tentang alasan saya menyebut cita-cita tersebut. Mungkin saja ada kaitannya dengan kakek saya yang merupakan pensiunan Angkatan Darat. Mungkin pula ada kaitannya dengan salah satu om saya yang menjadi anggota Angkatan Laut. Mungkin pula ada kaitannya dengan hari lahir saya yang berdekatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun TNI. Atau mungkin, karena sehari sebelum melahirnya, ibu saya datang ke acara pameran peringatan Hari Ulang Tahun TNI. Tapi, ya, itu semua hanya kemungkinan.

Cita-cita itu bertahan cukup lama (atau mungkin karena saya minim referensi). Kalau tidak salah, sampai lulus Sekolah Dasar, ABRI masih menjadi jawaban ketika ditanya mengenai cita-cita.

Orangtua saya pun, terutama ibu, cukup sering mengingatkan saya pada cita-cita tersebut. Ketika tubuh saya mulai tinggi, “Nah, nanti bisa masuk ABRI”. Atau, ketika saya cukup aktif di olahraga, “Bagus. Biar fisiknya kuat kayak ABRI.” Bahkan, ketika mulai ketahuan merokok, alasan pelarangan bukan karena faktor kesehatan, tapi “Nanti kamu enggak bisa masuk ABRI, lho.” Dan mungkin, lagi-lagi sebuah kemungkinan, larangan itu yang membuat saya kemudian mengubah cita-cita. Saya tidak lagi menjadikan ABRI sebagai cita-cita. Saya mulai mencari-cari alternatif lain. Salah satu yang muncul dalam pikiran adalah koreografer.

Dan sekali lagi, jangan tanyakan alasan saya terpikir bercita-cita menjadi koreografer. Saat itu, saya merasa profesi itu terdengar keren. Dengan bubuhan ‘er’ di bagian belakang, seperti ada nilai lebih dari profesi tersebut, tanpa pernah tahu yang sebenarnya dilakukan oleh orang yang menjalani profesi tersebut. Sampai kemudian, pada suatu waktu, saya mendapat keterangan tentang yang dijalani oleh seorang koreografer. Saya hanya bisa tertawa sendiri. “Okay, saatnya mengubah cita-cita.”

Sayangnya, saya kemudian tidak pernah berhasil menemukan cita-cita. Dan sampai sekarang pun, saya tidak pernah tahu cita-cita yang saya impian. Termasuk profesi yang saya jalani hingga saat ini, semua berjalan mengalir saja. Karena ketika lulus kuliah kesempatan pekerjaan yang terbuka adalah di bidang yang hingga sekarang saya geluti, saya jalani saja. Tanpa sebelumnya pernah bermimpi untuk menjalani profesi ini.

Lalu, apakah saya tersesat? Mungkin saja. Saya tidak pernah tahu jawaban pastinya. Orang sadar bahwa dirinya tersesat jika dia tahu tujuan yang ingin dicapai. Sementara, saya tidak pernah tahu tujuan yang ingin saya capai. Jadi, ya, entahlah. Saya cukup menikmati profesi yang saya jalani hingga saat ini – walau terkadang ‘merasa iri’ dengan teman-teman yang menjalani profesi lain, yang lebih mampu memberikan kontribusi finansial yang lebih besar.

Kalau begitu, apa kemudian saya ini termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan hidupnya? Karena saya tidak punya cita-cita, saya termasuk orang yang tidak tahu tujuan hidupnya – dan dengannya berarti menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya. Hmmm…. Ini sulit dipastikan. Ya, saya memang tidak memiliki cita-cita. Ya, saya memang tidak memiliki tujuan pasti dalam hidup yang saya jalani. Tapi, bukan berarti saya menyia-nyiakan hidup saya. Setidaknya, tidak sepenuhnya. Saya coba memberi kontribusi, kok. Tulisan-tulisan saya yang terpapar di blog ini salah satunya. Dan, semoga tulisan-tulisan saya di sini bisa memberi manfaat pada orang-orang yang secara kebetulan, mungkin bisa disebut tersesat, berkunjung ke blog ini.

Lagipula, boleh dibilang saya ini termasuk orang yang ‘kemakan iklan’. Saya mempunyai rasa percaya yang tinggi terhadap iklan. Terhadap informasi-informasi, atau semangat, yang disampaikan melalui iklan. Salah satu iklan yang sangat menarik perhatian saya adalah iklan sebuah produk rokok. “Let’s get lost” begitu salah satu kalimat yang tertera di iklan tersebut. Dan, dengan maraknya semangat plesiran akhir-akhir ini, saya yakin bukan satu-satunya orang yang senang, bahkan menikmati, ketersesatan. Saya tersesat, saya menikmatinya, dan saya yakin saya tidak sendiri.

#YNWA

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s