Fenomena di Masa Lalu

shelter
Shelter

Ini bukan cerita tentang kebanggaan, apalagi keangkuhan. Ini bukan cerita dengan maksud menyombongkan. Hanya sekadar membagi sebuah kisah yang pernah terjadi di masa lalu. Cukup jauh sudah berlalu. Ketika logika berpikir saya masih sangat jauh dibanding yang sekarang.

Tentang sebuah fenomena, yang sayangnya dulu, ketika kejadian ini terjadi, tidak terlalu mengusik perhatian saya, tapi kini terasa cukup menggelitik. Mungkin penggunaan istilah fenomena terasa berlebihan. Tapi sayangnya, saya tidak memiliki diksi lain yang lebih pas untuk menyebut kejadian ini.

—-

Ketika duduk di bangku sekolah, sekitar SMP sampai SMA, terutama saat berkunjung ke rumah teman yang tinggalnya cukup jauh dari rumah saya, cukup sering saya mendapat tanggapan serupa. Ketika ditanya tinggal di mana, dan saya menyebut daerah tempat saya tinggal, orang-orang yang bertanya akan memberikan tanggapan “Ribut terus, dong.” Entah itu teman dari teman, kakak dari teman, saudara dari teman, atau tetangga teman. Tak tahu alasan mereka hingga bisa memberikan tanggapan seperti itu. Saya, di kala itu, hanya menanggapinya dengan senyum – karena tidak mengerti yang mereka maksud.

Baru kemudian, ketika cukup sering mendapat tanggapan seperti itu, saya mendapat penjelasan dari seorang teman. Menurut teman ini, daerah tempat saya tinggal terkenal sebagai kawasan yang sering terlibat dalam pertengkaran.

Mendengar penjelasan itu, saya coba mengingat-ingat kondisi di sekitar rumah.

Memang, di ujung gang, di tengah sebuah tanah lapang, terdapat beberapa petak kontrakan yang lokasinya agak terpisah dengan pemukiman lain. Petak kontrakan ini dihuni oleh sekelompok orang yang boleh disebut ‘tentara bayaran’. Orang-orang yang biasa disewa ketika ada pihak yang membutuhkan ‘jasa keamanan’. Tapi, mereka bukanlah orang-orang yang suka berbuat onar di lingkungan. Beberapa kali memang saya melihat mereka asyik menikmati minuman beralkohol sambil mendengarkan musik, tapi tidak sampai mengganggu kenyamanan lingkungan. Bahkan kemudian, setelah berjalan beberapa tahun, orang-orang ini bertobat. Meninggalkan profesi yang mereka jalani dan malah aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Lalu, kenapa bisa orang-orang di luar sana memandang daerah tempat saya tinggal sebagai daerah yang terkenal dengan keributan.

Jawabannya pun saya dapat dari abang saya. Tidak dengan sengaja.

Suatu siang, dia melarang saya melewati sebuah jalan. “Mending muter,” katanya. Alasannya, karena orang-orang di dekat jalan itu sedang terlibat perkelahian dengan orang-orang yang tinggal di lingkungan saya. Penyebab perkelahiannya saya sudah lupa. Sialnya, beberapa hari kemudian, ketika pulang dari sekolah, saya terkejut melihat ada gerombolan pemuda yang berbondong-bondong berjalan keluar dari daerah tempat saya tinggal. Melihat sekilas, saya dapat mengenali ada tetangga saya di dalamnya. Di dekat tetangga itu, ada pemuda yang saya tahu tinggal di dekat jalan yang abang saya larang untuk dilewati. Hampir semua orang dalam gerombolan tersebut membawa ‘senjata’, tumpul maupun tajam. Merasa takut, saya coba berlari agar segera tiba di rumah.

Sore harinya saya baru tahu, lagi dari abang, bahwa ada perkelahian dengan daerah lain. Penyebabnya sepele. Rebutan perempuan kalau tidak salah. Beberapa hari sebelumnya, seorang pemuda dari daerah saya dikeroyok oleh pemuda-pemuda dari daerah lain. Berita pun menyebar. Dan, di sinilah letak fenomena yang saya maksud.

Meski jalan beriringan, tetangga saya dengan pemuda yang tinggal di dekat jalan yang dilarang dilewati oleh abang saya, bukan berarti pertikaian antara dua area tersebut telah selesai. Seperti ada perjanjian tak tertulis, bahwa ketika terjadi konflik dengan masyarakat di luar daerah kami, masing-masing area harus menunda pertikaian masing-masing. Semua bersatu membela daerah kami. Setelah konflik itu selesai, barulah pertikaian yang sempat tertunda tadi diteruskan hingga selesai.

Lucu? Saya pun hingga sekarang belum bisa memahami alasan terjadinya hal tersebut. Bagaimana bisa mereka bekerja sama ketika berkonflik dengan pihak lain sementara sesama mereka ternyata sedang ada konflik? Tapi, ya, itulah yang terjadi. Tidak sampai sekarang, karena menginjak ke bangku kuliah saya tidak pernah lagi mendengar terjadi perkelahian antar area atau dengan daerah lain. Saya pun tidak lagi mendengar larangan untuk jangan melintasi area tertentu karena area saya sedang menghadapi konflik dengan area tersebut. Semua berjalan normal, meskin pertanyaan di dalam diri saya belumlah terjawab.

Bukan berlagak sok pecinta perdamaian, tapi saya rasa banyak orang setuju bahwa perkelahian bukanlah cara baik untuk menyelesaikan masalah. Dan, saya pun tidak punya kebanggaan terhadap perkelahian yang pernah terjadi di kawasan tempat saya tinggal. Hanya saja, di balik fenomena tersebut, saya merasa takjub terhadap komitmen mereka. Entah hal apa yang membuat bisa melakukan tersebut, tapi sepertinya hal itu sangat mengikat dan sangat dihormati sampai-sampai mereka dengan begitu taat menjalankannya. Kepentingan yang lebih luas harus diberikan prioritas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s