Masa-La[h]lu

me_before_you_xlg
Me Before You

Setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Masing-masing memiliki pandangan terhadap segala hal. Termasuk mengenai masa lalu. Ada yang tidak peduli dengan masa lalu. Ketika bertemu dengan seseorang lalu menjalin hubungan spesial dengannya, dia tidak peduli tentang masa lalu pasangannya tersebut. “Kalau mau cerita, ya, monggo, kalau tidak mau, ya, tidak masalah.” Tapi, saya pribadi, termasuk yang tidak seperti itu.

Menceritakan masa lalu, terutama tentang diri saya, sebelum menjalani suatu hubungan merupakan hal yang ‘wajib’. Toh, tidak mungkin menyetujui kontrak kerjasama tanpa memerika rekam jejak pihak yang bersangkutan. Saya hanya tidak ingin terjadi ‘kejutan’ yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kalau memang ada hal yang dianggap mengejutkan dari masa lalu saya, sebelum saya bertemu dengan orang ini, lebih baik diketahui di awal dan cerita itu keluar dari mulut saya. Dan kalau ternyata hal itu begitu ‘mengejutkan’, sampai-sampai membuat jantungan, konsekuensinya tidak akan terlalu serius. Kontrak kerjasama belum ditandatangani, jadi tak perlu ada urusan pembuatan surat pembatalan kontrak. Tinggal abaikan saja surat kontrak yang sudah disiapkan. Simpan baik-baik di dalam kotak arsip atau buang ke tempat sampah. Urusan selesai.

Saya bukanlah orang yang begitu menganggap penting masa lalu. Penting memang, tapi saya rasa masih dalam taraf yang wajar.

Jika diri saya merupakan produk, sementara waktu dan berbagai hal yang terjadi dalam hidup ini merupakan mesin pengolahan serta berbagai bumbu yang melengkapi, saya yang sekarang ini adalah produk dari segala hal yang terjadi di masa lalu. Kenapa terasa terlalu asin? Ya, karena pernah suatu kali sebungkus garam tak sengaja tertumpah, misalnya saja. Jadi, kalau misalnya produk yang tersaji di depan mata memikat mata dan hati (hahahahaha…), ya, itu karena segala proses yang terjadi di masa lalu. Begitu pula sebaliknya. Ada begitu banyak yang terjadi di masa lalu. Ada begitu banyak proses yang telah dilalui sehingga pada saat ini membentuk saya yang seperti ini.

Tapi, bukan berarti masa lalu merupakan harga mati.

Cerita mengenai masa lalu ‘sekadar’ menjadi bagian dari perkenalan tentang diri saya. Tentang kehidupan yang telah saya jalani dan yang membentuk saya menjadi seperti sekarang. Ini sama seperti ketika kita datang ke dokter. Yang pertama dilakukan adalah menceritakan keluhan yang dialami baru kemudian sang dokter akan melakukan pemeriksaan dan menentukan tindakan/pengobatan yang perlu dilakukan. Yang berbeda, cerita yang dikemukakan tidak sepenuhnya berisi keluhan dan tidak semua hal yang terjadi di masa lalu harus diobati/diubah.

Masa lalu yang membentuk diri di masa kini bukanlah harga mati. Harga mati untuk menjustifikasi diri kita yang sebenarnya. Selagi masih menjalani hidup, selagi masih berada di jalur produksi, segala hal mungkin saja terjadi. Diri yang sekarang, yang telah mengalami berbagai macam proses, bukanlah bentuk mutlak yang tak mungkin diubah. Mesin masih berajalan, proses masih berlangsung, dan segala kreasi apapun yang mungkin dilakukan masih dapat terjadi. Dan, itu tergantung pada Anda si pemberi bumbu. Karena saya hanyalah produk yang dihasilkan, jangan melimpahkan kesalahan pada saya jika rasa yang disajikan ternyata tidaklah sesuai dengan yang diharapkan. Yang perlu ditanyakan, sudah benarkan Anda ketika memilih bumbu untuk dimasukkan ke dalam mesin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s