Percaya

Men Women and Children
Men, Women & Children

Masih teringat saya akan pelajaran guru agama sewaktu di Sekolah Dasar dulu. Tentang rukun iman. Enam hal yang diimani oleh setiap muslim. Enam hal yang dipercaya, diyakini, dan diamalkan.

Tak perlu saya sebut keenam hal yang dimaksud, karena tentu di luar sana, atau bahkan Anda yang membaca tulisan ini, jauh lebih memahami tentang keenam hal tersebut dibanding saya. Lagipula, bukan tentang enam hal tersebut yang menjadi alasan saya membuat tulisan ini. Tapi, tentang keimanan itu sendiri, atau lebih tepatnya, tentang kepercayaan.

Rasa percaya merupakan hal yang sangat penting di dunia ini. Bagi mahluk yang hidup maupun Zat yang memulai kehidupan. Bahkan, jika saya tak salah, salah satu hal yang sangat dibenci Sang Pencipta adalah mahluk yang mengkhianati rasa kepercayaan itu. Alih-alih memberikan rasa percaya pada Sang Maha Kuasa, ada yang malah menyembah mahluk lain—yang juga merupakan ciptaan Sang Pemula. Orang-orang seperti ini, kembali kalau tidak salah, termasuk golongan yang sangat dibenci dan akan mendapat siksaan yang kejam.

Dan kalau Yang Maha Kuasa saja sangat menghargai rasa percaya, kiranya wajar saja jika mahluk yang dicipta-Nya juga menginginkan hal yang sama. Ingin dipercaya dan memberikan rasa percaya. Kepada Yang Memberi Kehidupan juga kepada sesama mahluk hidup.

Memberi percaya dan diberi percaya merupakan hal yang sangat penting. Dengannya, seseorang bisa menjalahi hidup dengan tenang, sekaligus bertanggung jawab terhadap segala hal yang dilakukannya. Terdengar sedikit hipokrit, tapi sepertinya begitulah adanya. Ada beban yang diterima seiring pemberian rasa percaya yang malah membuat kita merasa tentram dengan pemberian tersebut.

Begitu pula sebaliknya. Ada beban yang terangkat seiring dengan rasa percaya yang diberikan, tapi kemudian ada ruang kosong yang ditinggalkan, yang mungkin akan digantikan dengan rasa cemas. “Akankah khianat yang diberi sebagai balasan?”

Bertindak hati-hati akan membuat kita terhindar dari risiko. Mengupayakan tindakan prefentif akan meminimalkan risiko—bahkan mungkin menghilangkan risiko. Tapi, jika tindakan yang dilakukan terlalu jauh, alih-alih sebagai upaya meminimalkan risiko, yang terjadi malah menjadi kekangan. Rasa percaya yang diberi bukan lagi sebuah beban yang menentramkan, melainkan menjadi beban yang sesungguhnya. Jeruji yang mengekang.

Terlebih, jika yang diberi rasa percaya pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Kontrol terhadap segala aspek, dari semua sisi, mencakup bidang menyeluruh. Semua, tanpa ada secuil yang terlewat. Melebihi standar keamanan yang diterapkan untuk kepala negara.

—-

“Setiap orang pernah melakukan kejahatan di masa lalunya.”

Bukan berarti setiap orang di dunia ini harus tinggal di dalam penjara. Ada ‘kejahatan’ yang tidak perlu dilanjuti dengan hukuman penjara—atau hukuman mati. Ada yang cukup dimaafkan, diberikan kesempatan untuk memperbaiki—sembari diberi bimbingan menjadi lebih baik.

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Saya, Anda, semua orang pernah melakukan kesalahan. Entah seberapa banyak, entah sebarapa besar akibat yang terjadi, tapi saya yakin setiap orang pernah berbuat kesalahan dalam hidupnya. Lalu, apakah, setelah melakukan kesalahan, seseorang tidak lagi layak diberi rasa percaya? Bukan orang yang patut dipercaya? “Toh, dia telah berkhianat terhadap rasa percaya yang diberikan.”

Mengkhianati rasa percaya terhadap Zat Yang Maha Kuasa disebut sebagai dosa yang sangat besar, tapi bukan berarti tak termaafkan. Bahkan Yang Maha Berkuasa pun memberikan kesempatan bagi setiap mahluk untuk memperbaiki kesalahannya. Meski pernah berkhianat terhadap suatu hal yang sangat esensial, Dia masih memberikan kesempatan/kelapangan bagi setiap mahluk untuk memperbaiki diri. Dengan kekuasaan, kekuatan, dan segala yang dimiliki, saya yakin Dia mampu melakukan apapun yang lebih menyiksa dibanding sekadar kekangan jeruji penjara. Sayangnya, itu tidak dilakukan-Nya. Dan ketika Zat yang begitu kuasa saja memberikan kesempatan seperti itu, kenapa ada mahluk yang berpikir kesalahan tidaklah termaafkan dan rasa percaya yang sudah diberi harus dijaga dengan sangat baik—disertai berbagai upaya demi menjaga agar khianat tidak pernah terpikir untuk terjadi.

—-

Saya hidup di masa ketika segala hal yang melekat atau lakukan dipandang sebagai identitas terhadap hal lain. Ketika datang ke suatu acara, kita akan disebut sebagai anggota kelompok tertentu. Mengenakan gaya busana tertentu, akan disebut berasal atau pendukung golonga tertentu. Makan di tempat makan tertentu, akan disebut berasal dari kelas tertentu. Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Pandangan yang membuat saya jengah—alih-alih sebagai ‘penyopanan’ dari muak. Seperti terpenjara. Tidak bebas untuk melakukan berbagai hal yang ‘sekadar’ ingin dilakukan. Tanpa perlu takut diberi label sebagai ‘identifikasi terhadap hal tertentu’.

Karenanya, saya berusaha untuk mengenakan atau melakukan hal-hal yang tidak merefleksikan diri saya. Sepanjang lebih dari 30 tahun hidup yang saya jalani di dunia ini, baru sekali saya mengenakan jersey klub sepakbola yang saya dukung. Selebihnya, untuk berpakaian, saya lebih memilih busana yang netral, yang tidak mengandung unsur identifikasi terhadap identitas tertentu—meski dengannya saya telah melakukan identifikasi baru terhadap identitas diri yang ingin saya tampilkan. Serba salah, tapi menurut saya itu merupakan pilihan terbaik dibanding dibeli label oleh orang lain—atau menjadi orang yang mudah ditebak identitas diri.

Lagipula, saya pun kehilangan rasa percaya terhadap identifikasi yang dilakukan. Sehari-hari mengenakan pakaian yang merujuk pada agama tertentu, menyapa orang dengan sapaan khas dalam agama tersebut, tapi melakukan hal-hal yang sepengetahuan saya dilarang oleh agama tersebut—bahkan mungkin semua agama yang ada di Bumi. Belum lagi penegak hukum yang terlibat dalam persengkokolan yang melanggar hukum. Lalu, bagaimana dengan kejadian sekelompok militer yang menyerang warga sipil, bahkan sampai menembakkan senjata api? Apakah itu yang seharusnya dilakukan oleh militer? Apakah itu yang dituntut dari identitas yang melekat pada dirinya? Entahlah. Saya hanya merasa bahwa tidaklah seperti itu yang seharusnya terjadi.

Ada hak dan kewajiban yang melekat ketika mengenakan identitas tertentu. Orang yang berseragam militer punya kewajiban menjaga keamanan, termasuk keselamatan warga negara—bukan malah mengancam keselamatan mereka. Orang dengan busana yang merujuk pada agama tertentu dianggap sebagai umat yang taat, yang menjalankan hidup sesuai syariat agama, yang membentengi dirinya dengan keimanan yang kokoh. Tapi ketika busana tersebut sekadar menjadi ‘busana’ sementara ‘dosa’ terus saja dinikmati, masih haruskah percaya pada identitas yang coba ditampilkan?

Saya tidak ingin (atau tidak) mendapatkan kepercayaan hanya karena identitas yang saya tampilkan. Saya ingin dipercaya karena saya yang sebenarnya. Saya yang seada-adanya. Tak perlu memusingkan diri memberi bukti sebagai orang yang patut dipercaya dengan menampilkan identitas tertentu. Saya tidak perlu berpakaian seperti para ulama hanya untuk memberi tahu bahwa saya adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Ketika mendapat rasa percaya, atau memberi rasa percaya, itu merupakan urusan saya pribadi. Saya simpan dalam hati, saya jalankan dalam kehidupan sehari-hari, dan saya rasa tidak perlu sibuk memberi bukti atas rasa percaya itu. Saya dengan senang hati menerima beban dari rasa percaya. Karena, saya yakin, bersama beban yang saya terima itu, ada rasa tentram yang diberikan. Rasa nyaman yang membuat saya tenang, bebas.

Aku ingin bebas dari segala

Merdeka

Juga dari Ida

(“Merdeka” – Chairil Anwar)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s