Passion

Thousand Times Good Night

Cuaca siang itu agak mendung. Dari lantai 23, terlihat awan hitam tersebar merata, hampir menutupi seluruh langit Jakarta. Di samping gedung tempat saya berada, para pekerja sibuk menyelesaikan pembangunan sebuah gedung. Tanah dikeruk, hingga dalam. Sekitar 3-4 lantai menjorok ke pusat Bumi.

Jakarta. Kota yang, katanya, tempat mewujudkan segala ambisi. Orang-orang datang ke kota ini demi satu tujuan, mewujudkan ambisi mereka—entah apapun itu. Dan siang itu, di ruang berdinding kaca, saya bertemu dengan seseorang untuk berbicara tentang ambisi. Tentang cara yang harus ditempuh untuk dapat mewujudkan ambisi, dan dengannya dapat diraih kebahagiaan dalam hidup.

“Yang pertama harus dilakukan adalah menemukan passion kita. Mencari tahu hal yang dengan senang hati kita lakukan. Yang akan kita lakukan seumur hidup meski darinya kita tidak mendapatkan materi.”

Bukan hal yang baru. Hampir setiap kali membicarakan tentang meraih kesuksesan, passion menjadi bagian yang tak terlupakan. Melakukan hal yang kita senangi. Karena dengannya, kita akan mendapatkan kebahagiaan dan dengan ikhlas akan terus memberikan yang terbaik dari diri kita. Dari satu kisah sukses ke cerita sukses lainnya, passion menjadi awal cerita kesuksesan mereka. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan passion?

A strong feeling or enthusiasm or excitement for something or about doing something,” begitu salah satu pengertian menurut Merriam-Webster. Ada dorongan yang kuat dari dalam diri ketika kita berhubungan dengan suatu hal. Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya, dorongan yang mampu mendorong kita untuk melakukan lebih, lebih, dan terus lebih terhadap sesuatu itu. Tidak ada batasan kemampuan ketika hal tersebut sudah menjadi passion.

A strong feeling (such as anger) that causes you to act in dangerous way,” pengertian yang lain dari passion—masih dari sumber yang sama.

Passion memang menjadi mesin penggerak yang sangat hebat. Kehadirannya membuat seseorang untuk berusaha menembus batas kemampuan. Setiap saat, setiap kali merasa yang dimiliki tak lagi dapat memenuhi kebutuhan menyangkut passion, seseorang akan memaksa dirinya untuk bisa memiliki lebih. Menekuni bidang baru, mempelajari teknik baru, menjelajahi daerah baru, termasuk mencari pendapatan baru. Semua, apa saja, akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan passion.

Tersiksa? Mungkin bagi orang-orang sekitar yang melihat akan timbul rasa simpati bahwa yang dilakukan seseorang terhadap passion-nya sudah terlalu jauh. Sudah melampaui batas kewajaran. Sudah seharusnya dihentikan demi menjaga kemanusiaan, rasionalitas, atau apapun itu. Tapi, meski begitu, jangan sekali-kali menasihati seseorang mengenai passion yang dijalaninya—terlebih jika memintanya untuk berhenti.

Sebagai perbandingan, passion mungkin bisa disamakan dengan cinta. Efek yang ditimbulkannya sama, dorongan untuk melakukan apapun demi hal tersebut. Dan jika cinta, lagi-lagi katanya, bisa membuat seseorang menjadi ‘buta’, begitu pula dengan passion. Ini mungkin yang menjadi alasan bagi saya hingga saat ini tidak berhasil mewujudkan ambisi. Saya bukan tipe orang yang bisa mencintai dengan ‘buta’, atau melakukan sesuatu dengan semangat menggelora dan menyingkirkan logika. Seberapapun besarnya rasa excitement yang timbul di dalam diri ketika melakukan suatu hal, pasti ada saatnya bagi saya untuk berhenti sejenak dan berpikir tentang yang saya lakukan. Dari awal.

Mungkin saya orang yang penakut. Tidak berani mengambil risiko untuk mendapatkan kepuasan yang besar. Saya bukan spekulan. Saya lebih memilih mencari yang ‘aman-aman saja’. Mungkin juga rasionalitas begitu dominan di dalam diri saya. Awan hitam semakin tebal. Langit Jakarta semakin hitam. Jika saja, misalnya, siang itu saya memiliki janji berkencan, saya akan lebih memilih berlama-lama berbincang dengan seseorang mengenai cara sukses mewujudkan ambisi—meski darinya tidak ada dampak apapun yang saya dapatkan dari pembicaraan tersebut. Itu pilihan yang lebih baik daripada memaksakan diri menembus hujan dan bertemu dengan pasangan saya dalam keadaan lepek—serta kemungkinan sakit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s