​Membayar Kesalahan

Maggie’s Plan

Satu hal yang saya yakini, bahwa setiap saat dalam hidup setiap orang harus membuat keputusan. Memilih satu dari sekian banyak kemungkinan. Dan setelahnya, menjalani keputusan yang sudah dibuat. Ada kalanya keputusan yang dibuat merupakan hal yang benar, tapi ada pula membuat kita terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. 

Dan jika ternyata keputusan yang dibuat merupakan sebuah kesalahan (meski saya pun yakin tidak ada kebenaran yang absolut di dunia ini), apa yang perlu dilakukan? Menyesal? Meski ini bukan merupakan pilihan saya, karena hanya membuang waktu, tenaga, dan pikiran, ada yang melakukannya. Ada pula yang berusaha memperbaiki/membayar kesalahan yang terjadi. Ini pun bukan pilihan yang akan saya ambil. Bukan karena saya orang yang seenaknya saja melepaskan diri dari tanggung jawab atas keputusan salah yang telah saya buat. Masalahnya, seberapa besar usaha yang harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut? Karena terkadang, ada hal yang jauh lebih berfaedah untuk dilakukan alih-alih sekadar memperbaiki kesalahan di masa lalu. 

—-

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika liga-liga sepakbola di Eropa sedang libur, berita tentang tranfer pemain menjadi hal yang menarik untuk diikuti—tentunya bagi penggemar sepakbola. Siapa yang akan pindah ke mana, dengan harga berapa, gaji berapa, dan seterusnya. Belum lagi proses transfer yang kerap menjadi hal yang lebih menarik dibanding jumlah uang yang terlibat dalam transfer tersebut. Dan untuk saat ini, Paul Pogba menjadi pemberitaan utama. 

Sejak bergabung dengan Juventus pada 2012, pemain ini mengalami peningkatan yang drastis. Pindah dengan status ‘gratisan’ karena kontrak di Manchester United yang telah berakhir, dia kemudian menjadi salah satu pemain penting di Juventus. Empat musim berseragam putih-hitam, empat kali pula Pogba merasakan juara Serie A—ditambah sekali masuk ke final Liga Champions Eropa. Meski penampilannya tidak terlalu gemilang di Piala Eropa yang lalu, tetap saja dia menjadi salah satu pemain yang paling diincar oleh tim-tim raksasa Eropa. Real Madrid dan Manchester United ((mantan klubnya) menjadi yang paling gencar melakukan usaha untuk mendapatkannya. Sampai akhirnya, Manchester United menjadi klub yang dia pilih. Pogba kembali ke klub yang pernah mendidiknya bermain sepakbola. 

Namun, bukan kembalinya Pogba ke Manchester United yang menjadi perhatian penggemar sepakbola, tapi jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh Si Setan Merah untuk memulangkan mantan pemainnya. Tidak tanggung-tanggung, dana sekitar Rp1,7 triliun harus dikeluarkan. Pogba pun menjadi pemain dengan biaya transfer termahal di dunia—mengalahkan biaya transfer Gareth Bale dari Tottenham Hotspurs ke Real Madrid. 

—-

Bukan karena saya benci terhadap Manchester United atau Paul Pogba jika menggagap kepindahan tersebut sebagai hal yang negatif. Saya hanya menyayangkan atas usaha yang terlalu ‘berlebihan’ tersebut. 

Manchester United bukan klub pertama yang melakukan kesalahan seperti itu, membiarkan pemain berbakat pergi lalu berusaha mendapatkannya kembali. Setidaknya dua klub raksasa lainnya pun melakukan kesalahan serupa. Barcelona dengan Gerard Pique dan Bayern Munich dengan Matt Hummels. Tapi, berbeda dengan Manchester United, Barcelona dan Bayern Munich tidaklah harus mengeluarkan dalam jumlah fantastis untuk memperbaiki kesalahan yang pernah mereka lakukan. Pun, upaya yang dilakukan tidak sengoyo yang dilakukan Manchester United. 

Lagipula, yang menjadi pertanyaan, haruskah Pogba? Apakah tidak ada pemain lain yang bisa bermain seperti dia—meski mungkin dengan kemampuan yang agak di bawah Pogba? Atau, ini sekadar ego?

—-

Dalam beberapa tahun belakangan, seperti menjadi sebuah kewajiban bagi klub-klub besar untuk mendapatkan pemain berstatus ‘mahal’. Bukan karena mereka bodoh atau suka menghambur-hamburkan uang, tapi lebih karena sikap hati-hati (a.k.a. pengecut) yang mereka miliki.

Dengan kapital besar yang dimiliki, tidak sulit bagi tim-tim besar itu untuk mendapatkan informasi mengenai pemain-pemain muda dengan talenta luar biasa. Mereka menyebar pencari bakat ke penjuru dunia. Mereka pun memiliki sistem akademi yang bagus. Tapi, membeli pemain muda berbakat merupakan risiko besar bagi mereka. 

Ketika mendapatkan info mengenai pemain muda berbakat, mereka lebih senang untuk mengambil sikap sebagai pemantau. Membiarkan pemain tersebut terus bermain di klubnya atau pindah ke klub lain (yang tentunya lebih punya nyali untuk memberi kesempatan pada pemain muda) sambil terus memantau. Jika dirasa pemain yang dimaksud sudah berada pada masa keemasan, mampu bermain dengan konsisten, memiliki kemampuan yang matang, barulah tim-tim besar ini mengambil tindakan nyata. Mengajukan tawaran demi mendapatkan sang pemain yang dimaksud. 

Konsekuensinya, ya, harga mahal itu. Tidak mungkin ada seorang pemain yang sedang berada pada masa keemasan dijual dengan harga yang murah. Hanya saja, yang terjadi dalam kasus Manchester United dan Pogba berada di luar logika saya. 

Mengeluarkan uang sebesar Rp1,7 triliun hanya demi mendapatkan seorang pemain merupakan tindakan putus asa. Dengan jumlah tersebut, bisa dibentuk sebuah tim yang cukup kuat. Yang mampu bertanding dengan Manchester United—bahkan mengalahkannya. 

Apalagi Manchester United tidaklah seperti Real Madrid. Jika transfer itu dilakukan Real Madrid, saya tidak terlalu terkejut, karena saya yakin klub Spanyol itu sudah memiliki rencana bisnis yang matang. Real Madrid hanya memerlukan waktu paling lambat satu musim untuk bisa mendapatkan jumlah uang yang dikeluarkan untuk transfer tersebut—seperti yang terjadi pada Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale. 

—-

Jika tindakan yang dilakukan Manchester United memulangkan Pogba dengan harga berapapun disebut tindakan bertanggung jawab, saya rela disebut sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Saya akan rela dan ikhlas melihat Pogba meraih kesuksesan bersama Juventus atau klub mana pun yang dia bela, sementara saya akan berusaha menyiapkan tim terbaik yang mampu mencapai kesuksesan lebih tinggi dibanding yang diraih Pogba. 

Seperti yang dibilang Soekarno, setiap orang pernah melakukan kejahatan di masa lalunya. Alih-alih berusaha begitu keras untuk menghapus kejahatan tersebut, saya akan melanjutkan hidup tanpa usaha menutupi kejahatan yang pernah saya lakukan—dan belajar darinya agar dapat menjadi orang yang lebih baik. Amin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s