​Eye-View

Tiga Dara

Sambil menunggu dosen datang, beberapa orang teman wanita mengobrol santai. Bukan suatu hal yang penting, menurut saya ketika itu. Bukan sesuatu yang perlu didengar dengan serius. Tapi karena ukuran kelas yang tidak terlalu besar (maksimal memuat 40 tempat duduk) serta suara mereka yang cukup keras, secuek-cueknya saya, tetap saja suara mereka masuk ke telinga saya. 

Salah seorang dari mereka bercerita bahwa semalam dia membuka album foto keluarga. Foto-foto ketika kedua orangtuanya masih berusia muda, dan bahkan dia pun belum dilahirkan. 

“Duh, ampun…. Kok, bisa, ya, nyokap gw sama temen-temennya pede dengan gaya yang kayak begitu?” 

“Ya, kan, emang dulu gayanya kayak begitu.”

“Iya, sih. Tapi, kan, ga harus senorak itu. Gw sampe malu ngeliatnya.”

“Ya, kan, tampil maksimal.” 

“Duh…. Ntar kalo anak-anak gw ngeliat foto gw sekarang, mungkin gw juga akan dibilang norak banget kali, ya? Duh…. Gimana, dong? Ya, udahlah. ‘Duh, Nak, ini udah yang paling pol di masa Mama muda.’”

Saya pun memiliki pendapat yang mirip dengan teman wanita tadi. Melihat foto-foto ketika kedua orangtua saya masih berusia muda, melihat cara mereka berpakaian, melihat gaya rambut mereka, melihat pose mereka di depan kamera, selalu berhasil membuat saya tertawa. Bukan karena menganggap gaya mereka norak, dan gaya sekarang ini lebih baik. Sama sekali tidak. Lebih pada karena yang saya lihat setiap hari adalah cara berpakaian yang saat ini—toh saya hidup di masa kini. 

Setiap masa memiliki gaya masing-masing. Punya tren tersendiri. Selalu berubah, meski ada kalanya terjadi perputaran gaya yang pernah menjadi tren di masa lalu kembali digemari. 

Tidak ada yang abadi di dunia. Segala hal yang berhubungan dengan manusia adalah tentang kefanaan. Tidak ada yang selalu menjadi yang terbaik. Ada masanya untuk menjadi jaya, tapi tidak akan bisa bertahan untuk selamanya. Akan tiba waktunya untuk digantikan dengan yang baru. Joseph Schooling membuat Michael Phelps menjadi manusia biasa. Prestasi memang masing diraih oleh si manusia ikan, tapi masa kejayaannya sudah mendekati akhir. 

Tidak mungkin pula membanding-bandingkan untuk menentukan yang terbaik. Dalam renang, catatan waktu menjadi patokan untuk menentukan perenang yang menjadi juara. Tapi, dengan keberhasilan Joseph Schooling meraih medali emas di 100 meter gaya kupu-kupu, apakah dia merupakan perenang terbaik? Dari sisi jumlah medali, Michael Phelps menjadi perenang dengan perolehan medali terbanyak. Lalu, bagaimana kalau seandainya ada teknologi yang memungkinkan Joseph Schooling di masa sekarang dibawa ke masa lalu lalu dan bertanding dengan Michael Phelps—ketika keduanya berada di usia yang sama? Siapa yang akan menjadi juara? Tidak ada yang tahu, karena, setidaknya sampai dengan saat ini, tidak ada teknologi yang memungkinkan hal itu terjadi. 

Bagaimana dengan gaya berpakaian? Mana yang terbaik, gaya di masa orangtua saya masih muda atau masa sekarang? 

Menjadi orang yang mengikuti perkembangan gaya berpakaian, mudah sekali bagi teman saya tadi untuk berujar bahwa gaya berpakaian orangtuanya di foto-foto tersebut terlihat norak. Maklum saja, jangankan berbeda generasi, dalam setahun saja para perancang mengeluarkan dua koleksi. Jadi, kalau berbicara beda generasi, sudah begitu banyak perubahan koleksi yang terjadi. 

Namun demikian, jika pada suatu masa, misalnya, ternyata gaya berpakaian generasi orangtua di masa muda kembali berjaya, menjadi tren, menjadi yang kren pada masa kini, jangan berharap orang seperti teman saya itu tetap akan berkata norak. “Manusia berubah”, pembelaan yang sangat sederhana. Yang tidak sederhana, karena kita hanya melihat melalui mata kita. Memandang masalah dari sudut pandang kita, tidak coba melihat dari sudut pandang lain. Membela yang dipikir terbaik bagi diri sendiri. 

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Sudah menjadi naluri dasar seorang manusia untuk bertahan hidup dan menjaga dirinya dari ancaman. Termasuk, bagi sebagian orang, misalnya, dibilang ketinggalan zaman. Itu bentuk ancaman. Bahkan jika yang dilakukan untuk bertahan hidup adalah dengan cara mempertahankan status quo, enggan mengidentifikasi diri dengan sesuatu (karena takut sesuatu itu akan menjadi ancaman di masa depan), itu pun merupakan hal yang wajar.  

Yang menjadi salah, menurut saya, sih, jika usaha mempertahankan diri dilakukan dengan ‘menyerang’ orang lain. Misalnya, ya, seperti tadi, menyebut gaya seseorang atau sekelompok orang norak, ketinggalan zaman, demi mengklaim sebagai yang terkini. Tak perlulah ‘mengecilkan’ orang lain demi menjadi besar. Toh, pada kenyataannya, di masa itu, ketika saya berkuliah, ada orang-orang muda yang gemar berpakaian seperti ketika orangtua mereka masih muda. Gaya seperti itu pun tetap memiliki penggemar hingga saat ini. Lagipula, bagaimana jika mendapat ‘serangan balik’? “Duh, Nak, gaya Mama dulu memang seperti itu. Yang seperti itu yang sedang tren. Kalau Mama berpakaian seperti kamu sekarang, bisa malah disebut lonte.” Nah, lho!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s