Menara Juara

PELE_web_small
Pele: Birth of a Legend

Selalu ada juara dalam setiap kompetisi. Setiap pihak yang terlibat di dalamnya, pasti ingin menjadi juara. Tidak ada yang mengikuti sebuah kompetisi tanpa harapan untuk tidak menjadi juara. Tidak pada kompetisi kali ini, mungkin, karena didasarkan kenyataan kemampuan yang tidak setara dengan lawan. Belum saatnya. Biarkan kompetisi kali ini menjadi ajang mengasah kemampuan dan kembali pada kompetisi mendatang dengan harapan yang lebih tinggi. Menjadi juara tetap menjadi hal yang sangat penting.

Menjadi yang terbaik. Itu sudah pasti. Semua ingin meraih predikat itu. Sayangnya, yang menjadi juara terkadang bukanlah yang terbaik.

Bicara mengenai Piala Eropa yang lalu, mungkin banyak yang sependapat dengan saya bahwa Portugal bukanlah tim dengan penampilan terbaik pada ajang tersebut. Setidaknya ada beberapa kesebelasan yang mampu menampilkan permainan lebih baik dibanding Portugal. Hanya saja, dalam kompetisi, yang terbaik terkadang tidak didukung dengan irama yang juga baik. Semacam ada ‘kutukan’, suratan takdir bahwa penampil terbaik mencapai puncak kemampuan tidak pada partai puncak.

Wales, Italia, Jerman, Prancis. Semuanya mengalami anti-klimaks. Hanya ada satu kali kesempatan mempertunjukkan kemampuan terbaik. Setelahnya, tidak ada yang tersisa—bahkan sekadar keberutungan. Alur berbeda dialami Portugal. Tak perlu menjadi tim yang menampilkan permainan terbaik. Seperti bernegosiasi dengan nasib, tim ini lebih memilih ‘keberuntungan’ dibanding ‘permainan memukau’. Dalam hidup, selalu ada pilihan yang harus dibuat, karena tidak mungkin untuk mendapatkan semuanya.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan, jika memang sang juara bukanlah yang terbaik, lalu siapa yang terbaik? Dan sebaiknya pembicaraan ini tidak perlu diteruskan karena hanya akan memancing perdebatan tanpa ujung.

Setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Memiliki hak yang sama untuk menyatakan pendapat bahwa suatu hal merupakan yang terbaik di bidangnya. Memiliki patron yang menjadi dasar penilaian bahwa yang dipilihnya memang layak menjadi yang terbaik. Tidak percaya? Siapa yang lebih baik: Pele atau Maradona?

Pele membawa Brazil tiga kali menjadi juara dunia, sementara Maradona hanya satu kali. Pele pun menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa—rekor yang belum terpecahkan sampai dengan saat ini. Tapi, apa dengan dasar itu serta merta Pele berada di level yang lebih tinggi dibanding Maradona? Bagaimana dengan aspek lain, yang tentunya tidak berkaitan dengan alkohol dan obat-obatan karena pastinya Maradona akan mendapatkan nilai minus?

Dalam hal lain, mana taktik terbaik di dunia: Ginga milik Brazil, Total Football milik Belanda, Kick and Rush milik Inggris, Tiki Taka milik Spanyol, atau Catenaccio milik Italia? Masing-masing memiliki masa kejayaan. Masing-masing pernah merasakan menjadi yang terbaik. Atau, pada masanya, menjadi yang terbaik.

Seperti Bumi yang berotasi, terjadi perputaran dalam sepakbola. Tidak ada yang abadi. Tidak ada yang selamanya menguasai. Brazil yang tiga kali berturut-turut menjadi juara dunia menjadi rekor yang paling lama. Setelahnya, tidak ada lagi kesebelasan yang mampu mempertahankan masa kejayaan lebih dari satu dekade.

Sepakbola bukan sekadar olahraga. Dalam kompetisi, dia menjadi materi intelegensia yang dinamis. Pemikiran terus diasa. Strategi terus diuji dan dikembangkan. Tidak mungkin mempertahankan strategi yang membawa keberhasilan pada musim lalu. Harus ada yang berubah. Tidak perlu frontal memang, tapi mempertahankan kejayaan masa lalu hanya akan membuat diri terjebak dalam nostalgia yang membuat depresi. Dan, seharusnya, sang juara adalah yang mampu mengembangkan segala aspek dalam dirinya sesuai dengan perkembangan kompetisi. Tidak sekadar menara untuk menjadi juara, tapi menara diri di atas kemampuan para pesaing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s