Dan Semangat itu pun…

Goresan Juang00001

Di bulan Agustus ini, terutama ketika mendengar pidato di upacara peringatan HUT Proklamasi RI, ada satu kalimat yang sepertinya menjadi wajib untuk diungkapkan. Saya yakin Anda sudah tidak asing dengan kalimat ini, yang mungkin disampaikan dalam diksi atau susunan kata berbeda tapi dengan makna yang sama.

“Lebih sulit mempertahankan daripada mendapatkan.”

Kalimat yang kemudian akan diikuti dengan berbagai hal, yang cenderung tidak inspiratif, yang dapat dilakukan oleh masyarakat negeri ini, khususnya peserta upacara yang mendengarkan pidato tersebut, dalam rangka mengisi kemerdekaan.

Meski cenderung bosan dengan kalimat itu, saya setuju dengan semangat yang terkandung di dalamnya. Bahkan, perlu menambahkan sangat di depan kata setuju. Tidak hanya dalam rangka mengisi kemerdekaan. Kalimat ini seharusnya diaplikasikan dalam berbagai hal. Dari yang mungkin terdengar remeh sampai dengan yang sangat serius.

Goresan Juang00003

Contohnya sederhana. Bagi orang yang dengan bobot tubuh yang melebihi batas normal, dan memiliki niatan untuk meraih tubuh yang proporsional, dia akan melakukan segala hal. Mulai dari berolahraga, mengikuti program diet, menjalani terapi khusus, dan sebagainya. Dan dari usaha keras yang dilakukan, niatan yang diinginkan pun tercapai. Bobot tubuh proporsional tidak lagi sekadar keinginan.

Di saat inilah dia kemudian akan menghadapi tantangan yang jauh luar biasa. Menahan diri dari godaan yang dapat merusak segala usaha keras yang dilakukan.

Seseorang bisa memiliki bobot tubuh yang berlebih tentu ada sebabnya. Paling standar adalah porsi makan yang berlebih dan kurangnya kegiatan fisik yang dilakukan.

Siapa yang tidak suka makan? Kecuali balita yang cenderung minim keinginan makan atau orang-orang dengan ‘kelainan’ psikologis yang menyiksa diri dengan memusuhi makanan, rasanya semua orang suka dengan kegiatan ini. Terlebih jika yang disajikan merupakan menu lezat atau favorit. Siapa pula yang tak suka bersantai? Mengistirahatkan badan, rileks, menikmati hidup. Suatu yang menyenangkan. Dan setelah mengalami usaha yang begitu keras, pikiran untuk ‘sedikit memberi hadiah pada tubuh yang sudah diporsir’ sangat mungkin untuk muncul. Mulai dari “Untuk kali ini aja, deh,” yang kemudian lepas kendali dan hasil usaha keras pun menjadi tidak berbekas sama sekali.

Goresan Juang00009Saya pun pernah mengalami yang seperti itu. Bukan dengan bobot tubuh, melainkan dengan rokok. Mulai aktif merokok sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya sudah beberapa kali coba menghentikan aktivitas ini. Setidaknya dua kali, yang saya ingat. Keduanya terjadi saat saya menjadi mahasiswa. Tidak ada alasan khusus mengenai niatan untuk berhenti merokok. Hanya karena ingin.

Berhasil? Untuk sementara waktu. Kalau tidak salah, rekor terlama saya tidak merokok adalah sekitar empat bulan.

Saya sadar, sudah bertahun-tahun menjadi rokok aktif, saya, yang waktu itu berhasil keluar dari status perokok selama beberapa bulan, hanya memerlukan ‘sidikit’ stimulus untuk kembali menjadi perokok. Itu terbukti. Ketika menghadapi situasi yang menguras tenaga dan pikiran, serta berada di kawasan dengan suhu yang cukup dingin, rokok seperti menjadi jembatan untuk menemukan jalan keluar. Ini yang kemudian menjadi alasan saya untuk tidak berani memulai sesuatu jika sadar akan besarnya kemungkinan untuk tidak bisa berhenti dari hal tersebut.

Di luar dua kondisi tadi, ada begitu banyak contoh pengaplikasian kalimat kutipan di awal tulisan ini. Termasuk ketika berbicara mengenai koleksi benda seni yang sangat berharga.

Goresan Juang00006Berkunjung ke pameran 17:71 Goresan Juang Kemerdekaan, saya seperti diingatkan dengan kalimat tersebut. Kebetulan, pameran ini diadakan sepanjang bulan Agustus, dalam rangka peringatan HUT Proklamasi RI, dan karya-karya yang ditampilkan merupakan koleksi Istana Negara. Alih-alih menikmati karya-karya pelukis ternama, baik pelukis Indonesia maupun mancanegara, saya seperti sedang mengikuti upacara peringatan HUT Proklamasi RI (kebetulan cuaca pada siang ketika saya berkunjung ke pameran sedang sangat terik). Hanya saja, kali ini, kalimat itu masuk ke dalam kepala saya dalam iringan tanda tanya.

Setiap orang tentuk memiliki ketertarikan masing-masing. Hobi yang digemari. Tidak ada kaitan khusus antara hobi dengan latar belakang seseorang. Justru hobilah yang mempertemukan orang dari berbagai latar belakang. Begitu pula sebaliknya, orang dari latar belakang yang sama akan sangat mungkin memiliki hobi yang berbeda.

Ada 28 koleksi lukisan yang dipamerkan di pameran ini, karya dari beberapa pelukis. Satu hal yang mengikat semua karya tersebut, selain menjadi koleksi Istana Negara, adalah merupakan hasil usaha Soekarno (Presiden RI pertama). Ada yang merupakan hasil lobi, ada yang hasil ‘blusukan’, ada pula yang merupakan hasil goresan sang proklamator.

Goresan Juang00005Soekarno memang dikenal sebagai pecinta karya seni. Bahkan, di salah satu sudut ruang, terpajang sebuah buku, sepertinya semacam katalog, tentang 2.000 koleksi lukisan Soekarno. Kalau 28 karya saja sudah cukup untuk mengisi dinding-dinding Galeri Nasional Indonesia, akan seperti apa jadinya jika 2.000 karya dipamerkan?

Membaca keterangan singkat berkaitan dengan tiap-tiap lukisan, saya terbayang perjuangan yang dilakukan Soekarno untuk mendapatkan karya-karya tersebut. Lobi khusus kepada Presiden Meksiko untuk bisa membawa karya Diego Rivera sampai menawarkan diri menjadi model agar “Memanah” segera diselesaikan oleh Henk Ngantung.

Cerita-cerita yang menyertai setiap lukisan sangat menarik, menjadi penambah rasa bagi karya-karya yang ditampilkan. Hanya saja, pada beberapa lukisan, ada hal yang tidak menarik.

Pada sebuah ruang, terdapat semacam ‘timeline’ mengenai koleksi Istana Negara. Mulai dari masa awal Soekarno mengumpulkan karya-karya tersebut, hingga masa kini. Saat Agresi Militer bisa dibilang merupakan masa buruk bagi karya-karya tersebut. Banyak yang mengalami kerusakan, mulai dari yang minor sampai pada taraf yang tidak bisa diperbaiki sama sekali. Tapi sepertinya, bukan sekadar Agresi Militer yang menjadi tantangan terhadap pemeliharaan karya-karya ini.

Saya tidak bermaksud menyalahkan siapapun dalam tulisan ini. Terlebih karena yang dibahas merupakan koleksi Istana Negara, dan Kepala Negara-lah yang tinggal di situ, sangat tidak etis bagi saya untuk mengarahkan telunjuk seraya membebankan kesalahan. Saya tidak ingin masuk penjara atas tuduhan pencemaran nama baik atau tidak menghormati Kepala Negara (juga yang sudah menjadi mantan).

Goresan Juang00002

Memperhatikan setiap lukisan yang dipamerkan, ada beberapa karya yang sepertinya tidak dirawat dengan baik (di luar “Memanah” yang sampai harus dibuat replikanya). Saya bukanlah seorang pakar atau minimal orang yang memiliki pengetahuan tentang cara memelihara lukisan. (Bahkan untuk memelihara harapan pun sering kali saya tak mampu. Hahahahaha….) Saya sekadar penikmat. Pengunjung yang datang untuk melihat koleksi yang sangat berharga. Juga sebagai warga negara yang berharap negara ini mampu menunjukkan penghargaannya terhadap warisan generasi terdahulu—tentunya dalam hal yang baik.

Bercak putih pada jas Pak Sudirman (“Potret Jenderal Sudirman”) atau pada baju Kartini (“Potret R.A. Kartini”). Sedikit saja memang, tapi cukup terlihat. Tidak akan mengganggu pengalaman menikmati lukisan jika dilihat dari jarak agak jauh, tapi ketika memperhatikan detail? Apa yang Anda rasakan jika baju kesayangan Anda, yang katakanlah berwarna terang, terkena tetesan tinta berwarna hitam? Meski hanya setetes dan pada bagian yang tidak terlalu tampak, tetap saja ada ‘sesuatu yang tidak benar’.

Entah apa yang terjadi pada lukisan-lukisan tersebut sampai terdapat bercak noda padanya. Tidak ingin menyalahkan, tidak pada tempatnya pula untuk menggugat. Saya hanya menyayangkan bahwa hal seperti itu bisa terjadi.

Goresan Juang00010Sebuah usaha yang patut mendapat apresiasi luar biasa ketika pemerintah memutuskan mengadakan pameran ini. Masyarakat dapat menikmati karya-karya yang selama ini hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang berkesempatan masuk ke dalam Istana Negara. Masyarakat pun menanggapi usaha tersebut dengan positif. Saya berada dalam antrean yang cukup panjang untuk bisa melakukan registrasi—dengan cuaca yang terik. Belum lagi menunggu untuk mendapat giliran masuk ke ruang pameran. Hanya saja, kalau boleh berharap, kejadian yang menyebabkan noda seperti pada beberapa lukisan tadi tidak terulang lagi. Dan kalau boleh berharap satu lagi, jangan pernah merasa malu dengan masa lalu kita. Sebelum bangsa Eropa datang, rakyat Nusantara memang terbiasa bertelanjang dada, baik pria maupun wanita. Tidak ada yang tabu dengan hal itu—tentunya dengan nilai budaya yang berlaku pada masa itu. Jangan menyembunyikan sesuatu hanya karena dianggap tabu dengan tata nilai masa kini.

Lagipula, bukankah kalimat itu terus akan diulangi pada setiap perayaan HUT Proklamasi RI? Semangat untuk menjaga kekayaan yang telah diwariskan oleh generasi terdahulu. Jika Anda seorang pecinta musik balada, bukan berarti berhak mengucilkan atau memandang remeh terhadap musisi jazz atau jenis musik lainnya. Sebagai pecinta musik, bukankah sudah seharusnya untuk mengapresiasi segala jenis musik? Begitu, kan? Maaf, lho, kalau salah. Pareng….Goresan Juang00012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s