​Toh, Nyatanya Bukan Anda yang Membuat

Cukup sering saya mendengar komentar seperti ini, “Kalau cuma begitu, gw juga bisa.” Saya yakin Anda juga pernah mendengarnya. Atau malah, Anda termasuk orang yang mengucapkannya. 

Sah-sah saja. Tidak ada yang salah, sebenarnya. Setiap orang bebas untuk mengemukakan pendapat. Toh setiap orang tahu kemampuan diri masing-masing. Dan karenanya, mereka kemudian mengutarakan komentar seperti tadi. Karena dalam diri, mereka yakin bisa melakukan seperti yang orang lain lakukan—bahkan mungkin lebih baik. 

Saya pribadi cenderung untuk menghindari komentar tersebut. alasannya sederhana saja. Saya ingin orang lain menghargai segala hal yang saya lakukan, dan karenanya saya juga akan menghormati segala hal yang dilakukan orang lain.

Bahkan untuk hal sepele sekalipun. 

Hal yang dianggap sepele ini yang menjadi titik tolak munculnya komentar tadi. Saya yakin komentar tadi tidak akan diucapkan ketika melihat gol yang dibuat Ronaldinho ke gawang David Seamen. Atau, ketika melihat Menara Pisa. Dan sebagainya. Ada rasional yang bekerja untuk mengukur kemampuan. Dan ketika sadar bahwa yang ada di hadapan merupakan sesuatu yang di luar kemampuan, komentar ‘Kalau cuma begitu, gw juga bisa” menjadi hal tabu untuk diutarakan. Tapi, bagaimana jika yang ada di hadapan merupakan hal yang sederhana, hal yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, hal yang biasa dilihat atau terjadi. hal yang begitu biasa hingga sudah sangat kehilangan nilai keistimewaannya? Saya yakin, ketika menghadapi hal-hal seperti itulah komentar tadi akan terucap. 

Ketika menghadapi karya yang ‘hanya’ mengumpulkan benda-benda keseharian. Ketika menghadapi karya yang ‘hanya’ mereproduksi kejadian sehari-hari. Ketika menghadapi karya yang secara teknis, setidaknya menurut indra penglihatan, tidaklah membutuhkan keahlian khusus. Ketika menghadapi hal-hal seperti inilah, muncul pemikiran yang didasarkan analisa terhadap diri terhadap kemampuan yang berujung pada kepercayaan diri. “Gw juga bisa.”

Setidaknya ada dua kenyataan yang tidak bisa terbantahkan dari kenyataan tersebut. Yang pertama, bahwa karya yang terpapar di hadapan, yang pada detik tersebut sedang dinikmati, yang tehnik pengerjaan, ide pembuatan, dan segala hal yang melingkupinya sedang dinilai, bukanlah karya Anda. Itu merupakan karya seseorang, yang menurut analisa otak Anda, kemampuannya hanyalah biasa-biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Karena, hasil karya yang dia buat, tidak sampai membuat otak Anda terkagum. Meski mungkin otak Anda menganalisa kemampuan diri Anda lebih baik dari pembuat karya tersebut, setidaknya dia telah memberikan bukti, karya, hasil dari kemampuan yang dimiliki. Sementara, Anda hanya mengungkapkan hasil analisa kemampuan diri yang dilakukan oleh diri sendiri—yang tingkat ketepatannya masih sangat dipertanyakan karena belum ada bukti, karya, hasil yang dibuat. 

Fakta kedua, katakanlah Anda bisa melakukan hal yang serupa—atau bahkan Anda memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding orang tersebut sehingga karya yang Anda hasilkan jauh lebih baik dibanding yang dia buat, tetap saja dia yang menjadi pionir sementara Anda adalah pengekor. Tidak peduli bahwa karya yang dibuat merupakan hal yang sangat biasa, reproduksi dari pengalaman sehari-hari, atau tehnik yang digunakan sangat sederhana sehingga tidak memerlukan latihan khusus atau menempuh pendidikan tinggi untuk dapat menguasainya, dan bahkan Anda mampu melakukan yang lebih baik dari yang dia buat. Satu kenyataan yang tidak bisa digugat adalah bahwa orang lain yang telah melakukannya terlebih dulu. Dia menjadi pionir. Dia sang pemula. Dialah inisiator. Dia punya kemampuan untuk melihat hal-hal yang biasa untuk kemudian diolah menjadi suatu hal yang tak lagi biasa—meski hasilnya bagi Anda hanyalah biasa-biasa saja. 

Ada alasan kuat hingga saat ini penemuan Johannes Gutenberg menjadi salah satu karya yang berperan penting dalam sejarah kehidupan manusia. Selama ratusan tahun, alat yang ditemukannya sudah dikembangkan. Penambahan di sana-sini, perbaikan di berbagai aspek. Mesin yang pertama kali dibuat pun terlihat seperti orang renta yang tak berharga. Jauh kalah bersaing jika dibandingkan dengan alat baru yang dibuat dengan teknologi terbaru. Tapi, tetap saja, yang menyandang nama besar adalah Gutenberg—dan bukan lulusan universitas ternama dunia yang membuat mesin lebih canggih dibanding yang dibuat Gutenberg. 

Saya yakin sekali Anda dapat membuat suatu karya seperti yang ada di hadapan Anda. Anda orang cerdas. Otak Anda telah melakukan analisa kemampuan diri dan berkesimpulan bahwa Anda mampu melakukan seperti yang orang tersebut lakukan. Tapi, sekali lagi, itu bukan menjadi alasan untuk berkomentar “Kalau cuma begitu, gw juga bisa.” Sebaik apapun kemampuan yang Anda miliki, Anda hanyalah ‘pengekor’. Dan, Anda tahu, kan, letaknya ekor? Jika mungkin Anda lupa dan sekadar untuk mengingatkan, ekor terletak di dekat lubang pembuangan kotoran. Dan sepertinya, itu memang tempat yang layak untuk orang seperti Anda. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s