Cinta Tidak Harus Buta

Jakarta Kereta00230

Love what you do and do what you love.

Kalimat bijak yang sudah begitu sering didengar. Karena, ketika melakukan suatu hal yang dicintai, kita akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, sering kali melebihi lebih dari yang diharapkan/diperlukan. Doing extra miles. Bukankah kita akan melakukan ‘lebih’ demi orang yang kita cintai?

Hal positif, sesungguhnya. Siapa yang tidak ingin melakukan hal yang dicintai? Merupakan kesempatan yang sangat berharga bisa melakukan hal yang dicintai. Semua orang tentu menginginkannya. Jauh lebih baik ketimbang melakukan sesuatu yang menyiksa demi kepentingan yang tidak terlalu esensial, seperti uang—setidaknya bagi saya.

Itu yang saya yakini. Hingga kemudian, saya membaca berita tentang Daniel Agger yang memutuskan untuk pensiun sebagai pemain sepakbola profesional, tepatnya pada 9 Juni 2016. Berita yang cukup mengejutkan. Di usia yang baru mencapai 31 tahun, memutuskan untuk pensiun sebagai pemain sepakbola profesional bukanlah hal yang wajar. Malah, sebagai pemain bertahan, usia ini dianggap sebagai usia matang. Puncak karier. Pada usia ini, seorang pemain belakang, terutama yang seperti Daniel Agger yang sudah masuk ke tim utama klub dan tim nasional pada usia muda, sudah memiliki pengalaman yang cukup matang. Meski kondisi fisik tak lagi sebugar ketika berusia 20-an, kekurangan itu tidak akan tampak dengan kemampuan membaca permainan sehingga dapat menjaga area pertahanan dengan efektif.

Bagi yang kurang atau bahkan tidak akrab dengan dunia sepakbola, terutama nama pemain yang baru saja saya sebut, Daniel Agger merupakan pesepakbola asal Denmark. Dua belas tahun dirinya berkarier sebagai pesepakbola profesional (2004 – 2016) yang dilewati bersama dua klub, Brøndby (Denmark) dan Liverpool (Inggris). Pemain yang biasa menempati posisi bek tengah ini juga pernah membela tim nasional Denmark sebanyak 75 kali (2005 –2016).

Seperti halnya profesi lain, merupakan hal biasa ketika seseorang mengumumkan pensiun. Di Indonesia, ada aturan yang mengatur usia pensiun Pegawai Negeri Sipil. Rentangnya dari 58 hingga 65 tahun, tergantung tingkat jabatan. Para atlet pun demikian. Hanya saja, usia pensiun atlet profesional biasanya jauh di bawah batas usia pensiun PNS. Kemampuan fisik menjadi faktor utama. Seiring bertambahnya usia, kemampuan fisik setiap orang akan menurun—yang juga menurunkan tingkat tingkat kemampuan untuk berkompetisi dengan atlet lain, terutama yang usianya lebih muda.

Dalam sepakbola, terutama dalam hal ini adalah sepakbola profesional di Eropa, pemain yang memasuki usia pertengahan 30 biasanya mulai memikirkan rencana pensiun—serta profesi yang ingin dijalani setelah pensiun. Bicara mengenai kecenderungan, biasanya pemain-pemain yang berposisi sebagai penyerang akan memutuskan pensiun pada usia lebih muda dibanding pemain yang berposisi lain. Penjaga gawang yang biasanya pensiun di usia tertua. Edwin van der Sar, misalnya. Penjaga gawang asal Belanda ini memutuskan pensiun pada usia 41 tahun. Sementara, Josep Guardiola sudah mulai menjadi pelatih Barcelona pada usia 37 tahun.

Tidak seperti PNS yang batas usia pensiunnya sudah ditetapkan, para pesepakbola merencanakan sendiri usia pensiun mereka. Ketika memang merasa kemampuan fisik sudah tidak lagi kompetitif, saat itulah seorang pemain akan memutuskan untuk pensiun—meski ada pemain yang memutuskan pensiun atas hal lain, seperti yang dilakukan van der Sar yang pensiun karena ingin menemani sang istri menjalani pengobatan.

Ketidakkompetitivan seorang pemain tidak hanya disebabkan usia yang tidak lagi muda. Sebagai pemain profesional, yang dalam setiap musimnya bisa bermain di beberapa kompetisi, menjalani puluhan bahkan mungkin lebih dari 100 pertandingan, cedera menjadi momok. Jika hanya cedera ringan, yang sembuh dalam satu atau dua minggu, mungkin bukanlah masalah besar. Tapi, tidak jarang seorang pemain mengalami cedera panjang, yang proses penyembuhannya memerlukan waktu hingga berbulan-bulan—bahkan ada yang sampai beberapa tahun. Yang paling celaka adalah pemain yang mengalami cedera kambuhan. Meski dapat bermain penuh, cedera yang dialami suatu saat bisa kembali muncul. Pemain yang seperti ini biasanya tidak akan dilirik oleh klub dan kemudian memutuskan pensiun lebih awal.

Hal inilah yang saya pikir menjadi alasan Daniel Agger memutuskan untuk pensiun—di usia yang terbilang muda. Delapan tahun membela Liverpool, pemain yang sempat menyandang jabatan wakil-kapten ini lebih sering bergulat dengan cedera dibanding berlaga di lapangan. Sebuah hal yang sangat disayangkan mengingat kemampuannya yang sesungguhnya luar biasa.

Sedikit melantur, saya suka memainkan game Football Manager. Dan karena saya seorang penggemar Liverpool, klub Merseyside ini yang saya pilih sebagai klub yang saya tangani. Dalam permainan itu, ada beberapa pemain yang saya pertahankan hingga usia ‘tua’ sebagai pemain sepakbola profesional, bahkan ada yang saya pertahankan sampai sang pemain memutuskan untuk mengakhiri karier sebagai pemain sepakbola profesional. Dan di antara daftar pemain tersebut, Daniel Agger salah satunya. Sebagai pemain belakang, dia salah satu yang paling dapat diandalkan. Hanya ketika usianya melampaui 35 tahun, tentunya dalam permainan tersebut, saya baru berpikir untuk menjual pemain yang kerap menggunakan nomor punggung 5 ini.

Kembali ke dunia nyata, pemikiran saya bahwa keputusan Daniel Agger untuk pensiun di usia 31 tahun ternyata salah. Bukan karena cedera panjang yang dialaminya. Setidaknya, secara tidak langsung. Membaca sebuah artikel, saya akhirnya baru mengetahui alasan sebenarnya keputusan mengangetkan tersebut.

Sebagai pemain sepakbola profesional, boleh dibilang dia termasuk orang yang sangat mencintai profesinya. Daripada berlama-lama ‘menganggur’ akibat cedera yang diderita, dia melakukan ‘extra miles’. Tidak cukup dengan terapi pengobatan yang diberikan oleh tim medis, dia mengkonsumsi obat yang dapat membantunya pulih dari cedera. Akibatnya? Boleh dibilang fatal.

Sebelum memutuskan untuk pensiun, Daniel Agger menjabat sebagai kapten tim—baik di klub (Brøndby) maupun di tim nasional (Denmark). Sebuah tugas yang prestise dalam sepakbola. Banyak pemain yang tentunya mengidamkan untuk menjadi kapten bagi timnya. Dan, Daniel Agger harus melepaskan tugas itu, sekaligus menyudahi kariernya sebagai pemain sepakbola profesional, di usia yang boleh dibilang sedang berada di puncak karier. Suatu hal yang sangat disayangkan.

Sekaligus bodoh, tentunya.

Alasan Daniel Agger melakukan konferensi pers mengenai keputusannya pensiun di usia muda boleh dibilang mulia. Dia tidak ingin ada pemain lain yang mengalami ‘kepahitan’ seperti yang dialami dirinya. Dan tentunya, jika memang mesin waktu Doraemon benar ada, atau teknologi semacam itu benar ada, saya yakin Daniel Agger akan membuat keputusan yang lain. Dia akan rela bersabar menjalani masa ‘nganggur’ akibat cedera, daripada harus menyudahi karier di usia yang terbilang muda—dan hampir kehilangan nyawa akibat keputusan yang dibuat di masa lalu.

Tanpa mengurangi rasa cinta terhadap profesi yang dijalani, dia akan lebih mengedepankan rasionalitas—dibanding ego semata. Mungkin kejadian yang dialami Daniel Agger menjadi pembuktian bahwa ‘cinta itu buta’. Tapi, kan, sekarang sudah tahu bahwa yang ‘buta’ itu akan membuat dampak negatif. Jadi, bukan sekadar bagi para pemain sepakbola profesional, kejadian yang dialami Daniel Agger sepatutnya bisa menjadi pelajaran bagi semua. Cinta itu boleh, tapi mbok, ya, jangan sampai bikin buta. Berharap itu perlu, karena, toh, harapanlah yang membuat manusia merasa optimis. Tapi kalau dibuat berharap sampai bertahun-tahun, ya, itu namanya, sih, sudah buta akut. Hahahaha….

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s