​Otak, Bukan Otot

Ginger & Rosa

“Maaf, ya…” yang disampaikan dengan intonasi, mimik muka, atau situasi apapun dianggap menjadi akhir dari suatu persoalan. Banyak yang berpikir seperti itu. Termasuk saya. Setidaknya dulu. Dulu bukan berarti merujuk pada beberapa dekade yang lalu. Dulu dalam artian waktu lampau, yang bukan sekarang, yang bisa merujuk waktu kapan pun yang sudah berlalu. Dan merujuk pada usia saya saat ini, dulu itu tidak lebih dari satu dekade yang lalu.

Dulu bukan untuk menunjukkan bahwa saya ini sudah mencapai tingkat kedewasaan sesungguhnya. Meraih kebijaksanaan tertinggi. Rambut dan dan jenggot putih menjuntai dengan kerutan menjulur hampir menutupi seluruh permukaan wajah. Saya bukan Gandalf. Saya hanya manusia yang seiring perjalanan waktu mengalami berbagai kejadian—yang berpengaruh pada pemikiran, perilaku, sikap, dan sebagainya. Salah satunya, ya, soal ucapan maaf tadi. 

Saya ingat di masa lalu begitu sulit rasanya untuk meminta maaf. Bukan karena gengsi atau kebebalan tidak pernah sadar akan kesalahan. Menganggap permintaan maaf sebagai akhir dari permasalahanlah yang membuat saya berat untuk melakukan. Bukan pula bermaksud membuat masalah jadi berlarut-larut, tapi seperti ada beban yang begitu berat untuk mengutarakannya. Terlebih, jika saya merasa bahwa bukan saya saja yang melakukan kesalahan. Ada peran orang lain sehingga kesalahan itu bisa terjadi—termasuk orang yang akan saya mintai maaf. Permintaan maaf yang saya utarakan pun menjadi kurang ikhlas karenanya. Akibatnya?

Segala hal yang dilakukan bukan atas dasar keiklasan tidak akan berujung dengan baik. Termasuk permintaan maaf. Karena masih ada rasa mengganjal ketika mengucapkan permintaan maaf, yang kemudian terjadi adalah perulangan kesalahan. Dua kali, tiga kali, dan seterusnya—entah sampai berapa banyak. Alih-alih permintaan maaf membuat kesalahan tidak terulang, ini malah memicu untuk pengulangan—bahkan terkadang ada unsur kesengajaan.

Permintaan maaf, dan dalam cakupan yang luas adalah ucapan, menjadi kehilangan makna—bagi saya. Bukan karena ulah orang lain, tapi ini semata-mata akibat ulah saya sendiri. Saya tidak percaya pada ucapan. Lebih baik tidak pernah mengatakan sesuatu daripada bersumpah atas nama Tuhan tanpa pernah diwujudkan. Tindakan menjadi lebih penting bagi saya.

Itu pula yang membuat saya akhirnya berpikir bahwa permintaan maaf bukanlah akhir dari sebuah masalah, melainkan awal. Awal dari penyelesaian masalah.

Ketika mengutarakan permintaan maaf, seseorang sudah menyadari bahwa dirinya salah. Itu hal baik. Hanya saja, menyadari dirinya telah melakukan kesalahan belum cukup baik. Yang lebih baik adalah mengetahui alasan terjadi kesalahan itu dan mencari solusi agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Dan sayangnya, ini bukan tugas satu individu. Setidaknya melibatkan dua pihak—yang bersalah dan yang menjadi korban kesalahan tersebut.

Keduanya harus saling terbuka. Membahas kejadian dengan mendetail. Berdebat? Sangat mungkin terjadi. Hanya saja tidak perlu sampai memancing emosi. Santai saja. Toh, yang bersalah sudah mengakui kesalahannya dan siap menerima masukan agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali.

Menerapkan pemikiran ini membuat perubahan bagi diri saya. Saya menjadi orang yang lebih berhati-hati dalam bertindak. Coba menganalisa berbagai kemungkinan yang terjadi sebelum akhirnya membuat keputusan.

Memang, tentu ada risiko dari perubahan itu. Saya dibilang lambat dalam membuat keputusan (biar saja), terlalu banyak mikir (masa bodo), cenderung menjadi penakut (peduli setan), tak berani ambil risiko (lebih baik daripada harus menanggung risiko yang tidak perlu).

Sampai sekarang saya nyaman dengan pemikiran ini. Bukan tanpa kendala, karena beberapa kali terjadi ‘persinggungan’ dengan orang-orang di sekitar saya akibat pemikiran tersebut. Tapi, ya, segala hal pasti ada konsekuensinya. Meski menyatakan permintaan maaf tidak lagi menjadi beban berat seperti di masa lalu, saya tak ingin menjadi orang yang terlalu sering mengucapkannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s