Ego-Truism

​Mari berpikir negatif. Jangan terlalu naif. Setiap koin memiliki dua sisi. Lagipula, Ramadhan telah lewat dan sekarang masih di bulan Syawal. Kalau tulisan ini ternyata berhasil membuat Anda berpikir negatif, bukakanlah pintu maaf atas pemikiran buruk yang saya sebarkan. Tulisan ini memang sengaja dibuat sebagai ajakan berpikir buruk. Bukan atas dasar rasa benci, tidak suka, iri, atau semacamnya, tapi untuk menjaga rasionalitas, logika, dan tidak terjebak dalam kenaifan.

Sebagai penikmat pertandingan sepakbola, saya memang bukan penggemar Cristiano Ronaldo. Dia pemain hebat, dengan kemampuan luar biasa, tampang menawan. Hanya saja, bukan tipe pemain yang saya idolakan. Bahkan, sejujurnya, sebelum membuat tulisan ini, saya sudah berencana membuat tulisan yang ‘bernada negatif’ menyangkut pemain Real Madrid tersebut–juga beberapa pesepakbola lainnya. Sayang, Portugal menunjukkan performa yang jauh lebih baik dibanding fase grup dan berhasil masuk final. Niatan tersebut pun saya urungkan.

Namun kemudian, seperti memang sudah menjadi ‘rizki’ saya menulis hal negatif tentang Ronaldo, kesempatan itu datang. Tak disangka. Begitu cepat. Saya tidak perlu menunggu hingga peluit panjang dibunyikan. Bahkan ketika tulisan ini dibuat, pertandingan antara Prancis melawan Portugal belum menyelesaikan babak pertama. Ah… saya memang beruntung.

Terlepas dari hasil akhir pertandingan Final Piala Eropa 2016, saya pribadi lebih (tepatnya harus karena tidak memiliki pilihan lain) mendukung Prancis sebagai juara. Alasannya sederhana saja, mereka lebih layak menjadi juara. Penampilan mereka terbilang stabil sejak fase grup–sementara Portugal boleh dibilang beruntung bisa lolos dari fase grup.

Alasan lainnya adalah karena tidak ingin Ronaldo menjadi Pemain Terbaik Dunia. Dia punya peluang besar meraih Ballon d’Or 2017. Real Madrid menjadi juara Liga Champions Eropa 2016. Dan jika Portugal menjadi Piala Eropa 2016, cukup sudah modal bagi Ronaldo–pasalnya Lionel Messi gagal membawa Argentina menjuarai Copa America Centenario, dan bahkan berniat pensiun dari tim nasional.

Dominasi menjadi hal yang membosankan, dalam bidang apapun, termasuk sepakbola. Dari tahun 2008, hanya ada dua nama yang meraih penghargaan tersebut.

Piala Eropa 2016 menggunakan sistem baru, dengan 24 peserta. Copa America merayakan 100 tahun dan diselenggarakan di luar Amerika Selatan. Kenapa semangat itu tidak dituntaskan dengan nama baru sebagai peraih Ballon d’Or? 

—-

“Hilang sudah kesempatan meraih Ballon d’Or.” Itu pemikiran pertama yang muncul ketika melihat raut sedih Ronaldo yang terduduk di lapangan sambil memegang dengkul. Jahat? Memang.

Pemikiran ini tentu sangat bertentangan denga para pendukung Portugal-Ronaldo, terutama yang bersorak memberi dukungan ketika sang pemain sedang ditangani tim medis. Dia kapten. Pemain yang sangat dihormati di timnya, sekaligus pemain bintang yang sangat diandalkan. Dia sedang membela tim nasional, demi negaranya. Raut sedih, bahkan air mata, Ronaldo karena dia harus berhenti bermain. Tidak bisa berjuang sampai pertandingan usai.

Benarkah?

Bagaimana kalau ternyata kesedihan itu disebabkan hilangnya peluang meraih Ballon d’Or, mengalahkan Messi? Real Madrid juara, Barcelona juara. Argentina gagal juara, dan kesempatan besar bagi Ronaldo jika Portugal menjadi juara.

Bukan tanpa alasan saya berpikir seperti itu. Melihat penampilan Ronaldo (di Manchester United, Real Madrid, dan Portugal), dia terbilang pemain yang harus menjadi bintang. Jika timnya menang, dialah yang harus terlihat memberikan peran besar besar–atau setidaknya mencetak gol. Sering kali terlihat ekspresi kesal jika ada rekan tim yang tidak mengoper bola kepadanya, sementara Ronaldo berada di posisi yang cukup terbuka untuk mencetak gol. Bahkan jika rekan tersebut berhasil mencetak gol, Ronaldo tak segan memperlihatkan mimik kecewa. “Bukan gua yang nyetak gol.”

Sebagai bintang, dia bukan tipe team-player. Dia selalu ingin dilayani. Dia selalu ingin namanya tercatat sebagai pencetak gol. Dan pada akhir kompetisi, menjadi pencetak gol terbanyak yang kemudian diikuti gelar Pemain Terbaik. Itulah yang saya lihat dari sosok Ronaldo. Alih-alih bersedih karena tidak bisa memberi kontribusi maksimal bagi negaranya, sebenarnya dia lebih memikirkan gelar pribadi yang peluangnya sudah terbuka lebar. Seorang kapten membanting ban kapten karena harus diganti akibat cedera? Hm… yang melekat di lengan bukan sekadar penanda peran tapi simbol kepercayaan. Membantingnya seperti merendahkan kepercayaan yang telah diberikan.

Salam. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s